Kejari Usut Kenaikan Pangkat Spektakuler

Jember - Kejaksaan Negeri Jember diam – diam ternyata menyelidiki dugaan penyimpangan terkait kasus kenaikan pangkat spektakuler di lingkungan pejabat Pemkab Jember periode 2005 di masa era Bupati Jember Samsul Hadi Siswoyo.

Informasi yang berhasil dihimpun, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember saat ini sedang membentuk Tim Lid (Tim Penyelidik) untuk mengungkap kasus itu. Tahap pertama ini Kejaksaan telah memeriksa sebanyak empat orang saksi.

Mereka adalah para pegawai negeri sipil baik yang masih mendapat jabatan dan sudah non job. Diantaranya adalah Sunaryo dan Hadi Mulyono mantan Kabid Mutasi di BKD dan seorang staf Denny Irawan. Seorang saksi lagi yang dipanggil terlihat mangkir dan akan dipanggil lagi dalam pemeriksaan selanjutnya.

Kenaikan pangkat spektakuler itu, diduga dilakukan dalam setahun ada kenaikan pangkat seorang PNS berkali-kali. “Semasa bupati Samsul Hadi Siswoyo berkuasa, diduga ada 17 pejabat dan staf Pemkab mendapat kenaikan pangkat lebih dari dua kali dalam jangka waktu hanya 5 tahun,” tutur Kajari Jember, Irdham SH, MH.

Untuk itu pihaknya bersama sejumah tim melakukan penyelidikan secara khusus atas kasus yang juga pernah menggemparkan kota Batu beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Ketua Indonesian Bureaucracy Watch (IBW) Jember, Sudarsono, menyebutkan pangkat pejabat yang tak beres itu meliputi 2 Kepala Dinas, 3 Kepala Badan, 1 Kepala Bagian, 3 Camat, dan 8 Staf.

Kenaikan pangkat spektakuler itu adalah di luar dugaan dilakukan di jaman era Bupati Samsul Hadi Siswoyo. Ada indikasi kenaikan pangkat itu di luar kelaziman dan di luar prosedur. Saat itu ada PNS yang naik pangkat berkali-kali dalam waktu tak lama dan menimbulkan kecemburuan antar pejabat. “Yang jelas Kejaksaan harus mengutus tuntas," kata Sudarsono.

Dan kasus tersebut menurutnya sudah lama dilaporkan ke kejaksaan maupun kepolisian, namun bertahun-tahun tenggelam tiada kabar. “Dan sekarang kita dengar lagi ada penanganan, kalau memang betul serius maka kami dukung penuh prosesnya,” tegas Sudarsono. (RI-1)

Selengkapnya...

Pemprov dan PLN Gerojok Sembako

Jember - Bantuan korban bencana banjir Desa Paseban, Kraton dan sekitarnya terus mengalir. Kali ini Pemerintah Propinsi (Pemprop) Jawa Timur dan PLN APJ Jember, mengirim bantuan logistik yang diterimakan ke Satlak PBP Jember di Posko Desa Kraton.

Bantuan itu berupa sembako langsung ke korban bencana untuk menormalisasi kehidupan mereka setelah kembali ke perkampungannya. Bantuan tersebut berupa 2.000 paket sembako dari Biro Kesra Pemprop Jatim, tiap paketnya berisi 2 kg beras, 1 botol kecap ukuran 275 ml, minyak goring 600 ml, gula 1 kg dan 5 bungkus mie instant dan diterima secara resmi oleh Asisten Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemkab Jember, tak lama setelah mobil bantuan tiba di Posko Satlak PBP di Dusun Kraton Desa Kraton.

Bersamaan bantuan logistik datang dari PLN APJ Jember dengan membawa 100 paket sembako. Isi per bungkusnya berisi 5 kg beras dan mie instant. “Bantuan ini adalah bentuk kepedulian PLN ke korban bencana banjir di Desa Paseban dan sekitarnya,” ujar Asisten Manajer Sumber Daya Manusia PLN APJ Jember, Sarjono.

Bantuan itu merupakan kali pertama yang diberikan ke korban bencana. Lantaran, selain membantu korban bencana di daerah itu PLN juga bakal memberikan bantuan ke daerah-daerah lain semisal Lumajang.

Sedangkan Asisten Ekbang Pemkab Jember, Drs Edy Budi Susilo, mengatakan berbagai bantuan itu bakal diberikan kepada masyarakat korban bencana dalam bentuk makanan siap konsumsi, sebelum mereka beraktivitas memasak di rumah masing-masing.

Pasalnya, di sejumlah titik bencana masyarakat masih kesulitan melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengingat, kesibukan masyarakat masih terfokus pada bersih-bersih rumah lantaran beberapa waktu terendam air hingga 2-3 hari. Lebih jauh, pihaknya, mengatakan bantuan dalam bentuk sembako tetap diprioritaskan pada masyarakat miskin, yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya pasca bencana.

Karena, bagi masyarakat mampu umumnya sudah bisa mandiri dan melakukan aktivitas seperti keadaan normal. Seperti mulai membuka toko dan aktivitas lainnya. (RI-1)

Selengkapnya...

PLN Mulai Nyalakan Listrik di Kencong

Jember - Banjir yang melanda Desa Kraton dan Paseban Kecamatan Kencong pekan lalu membuat jaringan listrik rusak parah. Sehingga dengan terpaksa PLN memadamkan aliran listrik untuk menghindari kebakaran dan konsleting meluas.

“Pihak PLN minta maaf kepada para pelanggan, karena terpaksa listrik dipadamkan untuk menghindari bahaya setrum,“ jelas Agus Kuswardoyo Manager PLN Persero Jember. Setelah hampir seminggu PLN APJ Jember melakukan pemadaman jaringan listrik Desa Paseban dan Kraton, PLN Jember menurunkan tim survei ke lapangan guna memeriksa kondisi jaringan yang rusak dan ketinggian air di lokasi bencana.

Jika kondisi air sudah surut, masyarakat bakal menikmati listrik kembali. Dari 4 gardu, ada 2 diantaranya dipadamkan selama 3 hari berturut-turut mulai dari hari H bencana hingga tanggal 2 Februari. Sedang 2 gardu lain dipadamkan total hingga Kamis (5/2).

“Pemadaman di tempat yang relatif aman kita lakukan selama 3 hari berturut-turut, sedang yang masih berbahaya, dilakukan hampir seminggu,” katanya. Ia menerangkan, terdapat 2 gardu utama jaringan PLN di Desa Paseban dan Kraton yang tidak mungkin dinyalakan dalam rentang 6 hari.

Sebab, jika dinyalakan akan menimbulkan resiko yang cukup membahayakan warga. “Kami memadamkan 4 gardu utama semata-mata menyelamatkan masyarakat dari bahaya sengatan listrik. Jika kita masih melihat potensi yang tidak mungkin dikover akan kita padamkan lagi,” ungkapnya.

Banjir kemarin untungnya tidak sampai merusak gardu dan jaringan listrik. Hanya saja, di beberapa tempat air sempat merendam tiang-tiang listrik dan 2 gardu utama. “Sehingga langkah kita setelah air surut dan mengering adalah membersihkan jaringan-jaringan yang kotor, ” terangnya.

Petugas PLN terus melakukan pemeriksaan jaringan listrik yang terhubung ke rumah-rumah warga, guna memeriksa keamanan jaringan listrik sebelum dinyalakan secara massal. Survei jaringan itu dilakukan mulai hari Kamis (5/2) pada beberapa tempat yang masih dicurigai belum benar-benar kering genangan airnya.

“Hari ini kita upayakan semua bisa nyala setelah survey jaringan selesai kita lakukan,” tandasnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Pemkab Terus Lakukan Normalisasi Daerah Bencana

Jember - Aktivitas normalisasi kehidupan masyarakat pasca bencana tetap dilakukan oleh Satual Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Jember di daerah bencana banjir Desa Paseban dan Kraton. Hingga kini, Satlak PBP mengkonsentrasikan pada pemulihan kehidupan masyarakat di bidang logistik, kesehatan, pendidikan dan pembangunan bronjong.

Terhitung 2 hari ini, setelah cuaca mulai normal dan curah hujan menurun, upaya normaliasi dilakukan secara kontinyu. Seiring dengan itu, para pengungsi yang kemarin dijumpai masih tinggal di posko-posko pengungsian, kini telah kembali ke rumah masing-masing. Kendati masyarakat masyarakat pada umumnya belum bisa melakukan aktivitas kehidupan secara normal.

Sedangkan taruna siaga benca (Tagana) masih siaga melakukan aktivitas pelayanan di dapur-dapur umum. Pasalnya, 1.206 masyarakat korban bencana di Dusun Sidongarti, 317 korban dari Dusun Panggul Melati, dan 5.195 korban bencana Dusun Cakru Desa Paseban masih memerlukan suplai bantuan logistik, baik yang siap makan maupun paket sembako.

Menurut Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Jember, Edy Budi Susilo, untuk beberapa waktu ini bantuan kebutuhan dasar warga korban bencana diberikan dalam bentuk nasi bungkus siap makan. Lantaran, para korban bencana banyak yang belum bisa melakukan aktivitas kehidupan seperti biasanya.

“Ketersediaan bahan makanan dalam bentuk dapur umum, semuanya mengkover penduduk yang terkena bencana genangan banjir. Jadi pagi, siang dan malam penduduk tetap didrop kebutuhan makanan dalam bentuk nasi bungkus siap makan,” jelasnya.

Ia mengatakan, konsentrasi bantuan juga diarahkan pada pemulihan kesehatan penduduk pasca bencana. Diantaranya, operasionalisasi 4 buah Puskesmas Keliling (Pusling) dalam bentuk mobil ke daerah-daerah bencana, hingga pemberian makan pendamping (MP) ASI pada bayi dan balita, pelayanan ibu hamil serta pengobatan pada para penderita akibat bencana.

“Setiap hari Pusling keliling untuk melakukan pengobatan pada penduduk yang sudah pulang dari Posko bencana. Sampai kemarin sudah ada warga sebanyak 222 orang yang melakukan pengobatan gratis dengan jenis 10 penyakit mulai dari yang ringan sampai yang berat,” katanya.

Aktivitas pengobatan dan vaksinasi, katanya, pada hewan ternak warga juga dilakukan. “Dokter-dokter hewan kita melakukan vaksinasi dan pengobatan pada hewan-hewan yang berhasil dievakuasi ke tempat aman, agar hewan-hewan itu tidak didera penyakit setelah terjadinya banjir terutama pada sapi dan kambing,” tambahnya.

Bahkan, proses belajar mengajar di 9 lembaga pendidikan tetap diadakan. Kendati beberapa waktu lalu banjir menggenangi rumah dan bangunan sekolah. “Jadi tidak ada istilah libur sekolah. Semuanya mulai dari kepala sekolah dan guru tetap melakukan aktivitas belajar mengajar sebagaimana biasanya, sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung,” ungkapnya.

Edy mengatakan, kesiagaan Satlak ini bakal dilakukan sampai dengan proses pembangunan tangkis selesai. “Kesiagaan Satlak ini akan tetap dilakukan hingga pembangunan tangkis yang jebol kemarin selesai. Sehingga kekhawatiran kita jika ada hujan lebat susulan tidak sampai menggenangi perumahan penduduk,” tengaranya.

Karenanya, ia menarget pembangunan tangkis tersebut antara 7-10 hari akan rampung digarap. “Mulai kemarin sore sampai malam kita lembur mengerjakan tangkis yang jebol itu. Semoga dalam seminggu ini pembangunannya selesai,” tandasnya. Meski begitu, imbuhnya, proses pelayanan pada masyarakat dalam bentuk bantuan logistik dan dapur umum akan terus berlangsung hingga kondisi benar-benar normal. (RI-1)

Selengkapnya...

Jadi Korban Bencana, Ternak-ternak Diobati

Jember – Upaya penanganan korban bencana banjir bandang di beberapa kecamatan dan terbesar di kecamatan Kencong, naga-naganya bukan hanya difokuskan ke warga dan harta benda mati saja. Namun juga kepada hewan ternak yang turut menjadi korban.

Hal ini dibuktikan dengan langkah Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan yang menajaga agar hewan ternak tidak iktu mati.

“Dengan upaya semacam ini diharapkan warga tidak semakin bertambah sedih, saat tertimpa musibah, sudah sedih kehilangan harta benda, bias semakin sedih ketika ternaknya mati juga, ini jangan sampai terjadi,” ujar Kepala DInas Perikanan Peternakan dan Kelautan, Ir. Dalhar.

Upaya penyelamatan ternak sendiri menurut Dalhar dilakukan dengan sejumlah cara. Ada ribuan hewan ternak milik warga Desa Paseban dan Desa Kraton yang berhasil diselamatkan saat banjir melanda desa mereka.

Untuk itulah, ribuan ternak diberikan suntikan vitamin agar tidak mati. Sedikitnya sepuluh petugas dikerahkan untuk memberi suntikan vitamin tersebut. Baik itu terhadap hewan ternak yang ada di lokasi pengungsian, di atas tangkis, atau yang masih dibiarkan di rumah warga.

Menurut Dalhar, hewan ternak yang selamat di Desa Kraton mencapai 600 sapi, sedangkan di Desa Paseban mencapai 1.500 sapi. Hewan ternak yang paling banyak mati didominasi itik hingga mencapai 1.000 ekor. Sementara, jumlah ayam warga yang mati terdata mencapai 140 ekor.

Sementara untuk lahan perikanan, hingga kini belum bias dihitung secara pasti berapa yang mati, karena berhektar-hektar lahan perikanan habis tertelan banjir. Lahan perikanan yang terendam banjir, menurutnya, luasnya mencapai 6,5 hektare. Termasuk 21 kolam ikan milik warga yang juga terkena banjir. (RI-1)

Selengkapnya...

Sosialisasi, Caleg Demokrat Diusir Warga

Jember – Situasi politik di Jember mulai memanas, usai pelaporan yang dilakukan oleh Ketua PPDI terhadap Ketua PKPB Jember, kini ada pengusiran caleg oleh warga. Kejadian tragis tersebut menimpa caleg nomor urut 1 daerah pemilihan 1 Jember dari PArtai Demokrat, Ayub Khan, tadi malam, Kamis (5/2) di perumahan Cahaya Emas Sempusari, Kaliwates.

Ironisnya lagi, kedatangan Ayub didampingi istri dan Cabup Independent 2010, yang juga mantan Wakil Bupati Jember, H. Bagong Sutrisnadi, bersama istri. Kedua pasangan suami istri tersebut bermaksud melakukan sosialisasi Pemilu di hadapan sekitar 60 peserta pengajian.

Namun baru saja datang dan memberi sambutan, sudah diusir warga yang juga peserta pengajian. Aksi pengusiran yang memalukan caleg tersebut ketika Bagong sedang memegang mikrofon hendak berbicara.

“Baru berdiri dan berucap salam, tiba-tiba salah satu warga bernama Abdul Syukur, berteriak bahwa acara tersebut merupakan acara pengajian bukan kampanye, dan karena tidak berijin maka maka harus dibubarkan,” ujar Sekretaris RW VI, Sempusari, Husni Thamrin, didampingi Ketua RW VI setempat, Sya’im Widigdo, menirukan ucapan Abdul Syukur.

Puluhan warga yang lainpun akhirnya turut bereaksi dan menghendaki acara dibubarkan, dan minta keempat tamu tersebut pulang. “Ya akhirnya pak Bagong dan pak Ayub serta istrinya pulang semua, karena warga tidak menghendaki pertemua tersebut dicampuri dengan acara kampanye,” imbuhnya.

Naga-naganya warga sudah kesal karena caleg Demokrat satu ini sudah kedua kalinya melakukan sosialisasi kepada warga dengan cara tidak baik atau tidak berijin terlebih dahulu. “Pertama dulu juga bagi-bagi sarung di mushola, warga juga nggak ada yang dating, karena itukhan tempat ibadah, malah waktu itu, ada caleg DPR RInya, NAzarudin,” jelasnya.

Karena situasi memanas, akhirnya acara pengajian banyak ditinggalkan warga. “Ini sama juga memecah belah warga, seharusnya tuan rumah, pak Adi Purnomo, menyampaikan ke warga,” imbuhnya lagi.

Warga benar-benar menyesalkan aksi pemanfaatan kegiatan pengajian dan tempat ibadah menjadi ajang kampanye caleg. (RI-1)

Selengkapnya...

BRI Kucurkan 34 Miliar Untuk KUR

Jember - Pengucuran kredit untuk rakyat(KUR) tanpa jaminan di seluruh Kecamatan di Kabupaten Jember mencapai Rp 34,6 Milliar hingga akhir Desember 2008 kemarin.

Target pengucuran dana di tahun 2009 ini diprediksi akan bertambah. Di akhir tahun 2008 kemarin, dana sebesar itu diberikan kepada Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 12.801 orang.
Adanya kemudahan kredit bagi pengusaha kecil ini akan semakin tinggi permintaannya karena syarat mendapatkan kredit itu sangat mudah. Usaha itu minimal harus berjalan selama 6 bulan.

“Baru setelah 6 bulan mereka mendirikan usahanya, kita berikan kredit KUR itu, dan itu syaratnya KUR bisa dicairkan,” ujar Bambang Iriyanto, Kepala BRI Cabang Gajah Mada Jember.

Dari jumlah Rp 34,6 miliar itu ada 7 wilayah Kecamatan yang tingkat NPL nya sudah di atas 3 %. Sehingga memungkinkan wilayah kecamatan lain meningkat, dan sasaran meningkat lagi.

Dikatakan Bambang Irianto, bahwa pengucuran kredit ini terlepas dari bantuan kredit sebelumnya yang sudah pernah dikucurkan pemerintah. Sistemnya menggunakan cek list pengusaha yang belum dan sudah mendapat bantuan Kredit tanpa jaminan ini. Termasuk di luar sasaran dari Bank Kredit Desa (BKD).

“Itu yang mengeluarkan adalah sistem informasi dari Bank Indonesia,” ujarnya.
Di tahun 2009 ini diperkirakan sasaran UMKM akan meningkat, dari 12.801 pengusaha diperkirakan target bulan Maret 2009 saja akan ada peningkatan 8.500 UMKM. (RI-1)

Selengkapnya...

AKLI Bantah Monopoli Listrik

Jember - Mendapat sorotan dari banyak pihak, terkait dugaan monopoli dalam pengadaan kelistrikan di Jember, Ketua DPD AKLI Jember H Sutrisno, menolak tegas anggapan itu.

Menurutnya, selama ini AKLI bukanlah satu – satunya rekanan yang bekerja dibidang pemborongan listrik di Jember. Tapi, sebelumnya juga sudah ada AKLINDO, dan APLINDO. “Saya kira tidak ada monopoli dalam bidang kelistrikan saat ini. Karena AKLI yang selalu eksis sehingga bisa dipersepsi negatif seakan monopoli,” ujarnya.

Di sisi lain, H Arief Sugito, - salah satu kabid di AKLI – menegaskan bahwa semua kegiatan AKLI dan proyek kelistrikan dilindungi oleh Undang – undang. Pelanggan pun tidak dibatasi untuk memilih AKLI saja, tapi bisa memilih rekanan lain.

Hal itu sesuai aturan Kepmendagri No 29 tahun 2009, dan Keppres No 80 tahun 2003, tentang pengadaan barang dan jasa jelas telah dibuka lebar – lebar tidak hanya AKLI yang berperan.
“Mitra PLN itu banyak, tidak AKLI saja. Tapi, sudah ada AKLINDO, dan AKLINAS, bahkan ASMED. Dan pengawasannya ada LPJK, hingga KPPU,” ujar Arief Sugito.

Tapi, dia setuju jika ada rekanan di luar AKLI yang profesional mampu bersaing di iklim persaingan usaha saat ini untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Manager Area PT PLN (persero) Kabupaten Jember Agus Kuwardoyo, menegaskan bahwa bagi PLN pelayanan kepada masyarakat itu yang sangat dipentingkan.

Sehingga terkait tarif dasar listrik (TDL) yang menurut rencana ada kenaikan Rp 650 per kwh itu akan segera disosialisasikan. Maka dari itu, perlu ada kerja sama dengan semua pihak termasuk kepada yayasan konsumen Indonesia.

PLN juga sangat terbuka dengan pengaduan dan protes dari pelanggan. Karena ada jaminan Undang – undang No 15 tahun 1985, terkait pengelolaan kelistrikan, dan UU No 20 tahun 200. Sayangnya semangat persaingan di UU No 20 itu, dicabut, dan ditarik Mahkamah Konstitusi.

PLN tentu saja bukan perusahaan BUMN yang monopoli dalam pengadaan kelistrikan. Di PLTU Paiton saja, sebagian saja milik PLN dan dijual harganya lebih murah dibanding swasta itu. Tapi, di Cikarang Jawa Barat ada lingkup daerah yang semua kebutuhan listriknya disuplai oleh swasta bukan semata PLN.

“Saat ini kita bersaing keras dalam bidang pelayanan. Masyarakat ini ke depan bisa memilih dan bebas mendapatkan suplai listrik dari mana saja, sesuai undang – undang itu,” ujar Agus Kuswardoyo. (RI-1)

Selengkapnya...

Kembali ke Perkampungan, Logistik Tetap Dikirm

Jember - Kendati masyarakat Desa Kraton dan Paseban yang tertimpa bencana banjir mulai menempati rumahnya masing-masing. Tapi Satuan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Jember tetap menyuplai kebutuhan dasar masyarakat. Rencananya, suplai logistik dan antisipasi bencana bakal dilakukan selama seminggu sambil menunggu situasi dan kondisi di daerah bencana benar-benar kembali pulih dan aman.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Jember, Drs Agoes Slameto MSi, mengatakan, kondisi perkampungan warga yang beberapa hari ini terendam air kini mulai surut. Sedangkan perkampungan warga yang berada di sekitar hilir sungai Bondoyudo dan berdekatan dengan laut masih digenangi air, berangsur-angsur surut.

Dengan begitu, masyarakat yang terdiri dari 400 kepala keluarga atau sejumlah 700 orang, ketika bencana banjir terjadi diungsikan di Balai Desa Paseban dan Kraton, dua hari terakhir secara bergelombang kembali ke perkampungannya. “Rendaman air hari ini berangsur-angsur surut dan mengering, masyarakat telah kembali ke rumahnya masing-masing,” katanya.

Aktivitas masyarakat yang bisa dipantau di titik bencana, sekarang ini mulai sibuk membersihkan rumahnya dari kotoran akibat rebakan banjir yang sempat merendam rumahnya. “Hari ini kondisi di daerah bencana sudah mulai normal. Masyarakat sibuk membersihkan rumahnya dari material lumpur dan air yang beberapa waktu ini membanjiri dalam rumahnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, meski penduduk sudah pulang ke kampung halaman, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Lantaran, kondisi belum memungkinkan bagi masyarakat untuk bekerja. Ditambah sebagian besar logistik masyarakat di rumah-rumah rusak diterpa banjir.

Karenanya, Satlak PBP Kabupaten Jember bakal menyuplai makanan dari dapur-dapur umum yang dipusatkan di Balai Desa Kraton dan Paseban. “Tim Satlak Bencana akan tetap mengirim bahan makanan dari dapur-dapur umum sambil menunggu kondisi benar-benar dalam keadaan normal,” terangnya.

Pengumpulan logistik siap distribusi, katanya, dipusatkan di Posko Induk atau Posko Satlak PBP yang terletak di rumah warga Desa Kraton. Sedangkan bahan-bahan logistik tersebut dibagikan ke warga secara langsung melalui Posko 2 dan 3, yang berada di Balai Desa Kraton dan Paseban.

Persediaan logistik korban bencana, sambungnya, mencukupi guna menyuplai kebutuhan makanan sekitar 2.000 orang. Logistik yang disiapkan, kata Agoes, berupa beras dari gudang Dolog sebanyak 6 ton. Selain itu, bahan makanan dari jenis sayur-mayur, mie dan lauk pauk juga siap dibagikan pada para warga lewat dapur umum. “Bantuan-bantuan yang masuk semuanya telah tercatat dan siap untuk didistribusikan,” jelasnya.

Tim Satlak PBP, sambungnya, bakal tetap siaga sebagai langkah antisipasi bencana susulan sampai keadaan lingkungan dan aktivitas kehidupan masyarakat benar-benar pulih dan kondusif. “Selama satu minggu Satlak dapur umum akan dibuka, karena kebutuhan dasar masyarakat harus terus dipenuhi,” imbunya.(RI-1)

Selengkapnya...

Pemasangan Bronjong Dikebut

Jember - Guna mengantisipasi banjir kiriman berikutnya akibat luapan air Sungai Bondoyudo. Pemerintah Kabupaten Jember mulai melakukan pekerjaan pemasangan bronjongan di 2 titik tangkis sungai tersebut, yang beberapa waktu lalu jebol diterjang air bah. Pemasangan bronjongan itu dikerjakan maraton oleh Dinas Pengairan mulai hari ini, Kamis (5/2).

Tangkis yang putus bakal dipasang bronjongan untuk menghalau luapan air sungai yang berada di 2 titik tangkis yang jebol. Diantaranya, tangkis sungai Desa Kraton, rusak sepanjang 38 meter akibat diterjang banjir bandang pada hari Sabtu (31/1) dini hari. Sedangkan tangkis sungai Desa Paseban sepanjang 32 meter juga mengalami rusak berat, selang tak beberapa lama dari jebolnya tangkis di Desa Kraton.

Menurut Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto MSi, rehabilitasi kedua tangkis itu bakal dilaksanakan. Bahkan material yang digunakan untuk pembangunan sudah mulai dikirim ke sekitar tangkis-tangkis itu. “Material dan alat berat mulai dikirim di kedua titik tangkis yang jebol tersebut,” katanya.

Pembangunan tangkis dilaksanakan seiring dengan surutnya debit air sungai di lokasi bencana. Ditandai dengan mulai mengecilnya debit air sungai dan tidak adanya hujan lebat yang terus-menerus. “Yang jelas untuk pembangunan tangkis itu Dinas Pengairan sudah melakukan kalkulasi secara teknis,” ujarnya.

Selain pengiriman bebatuan sebagai bahan pembuatan bronjongan. Dinas Pengairan yang tergabung dalam Tim Satlak PBP Kabupaten Jember juga menyiapkan karung-karung pasir, yang digunakan untuk menahan luapan air ke daratan. Tentunya, dengan pemasangan karung-karung pasir di sepanjang pelipis sungai luapan air ke daratan bisa diminimalisir. Sehingga tidak masuk ke pemukiman penduduk. “Karung-karung pasir itu juga akan ditempatkan di titik-titik sumber air yang rawan,” terangnya.

Sementara itu Susmiadi, Pengamat Pengairan Wilayah Kencong mengatakan selain akan dipasang brojong-bronjong ditangkis yang jebol, memang sebaiknya tangkis tersebut juga harus dilebarkan. “Selain sebagai penahan air, tangkis tersebut juga dapat digunakan sebagai jalan baru, sehingga mempunyai 2 manfaat,” jelasnya.

Masih menurut Susmiadi kendala yang dihadapi dalam pemasangan bronjong selama ini, karena materialnya sulit masuk sampai ke lokasi pengerjaan, sehingga masih menunggu surutnya air yang masuk ke permukiman warga dan mulai selasa kemarin, debet air surut mencapai 130 meter dan ini artinya rabu kemarin pengerjaan bronjong sudah dapat dimulai. “Karena debet air terus menurun, maka pekerjaan bronjong sudah dapat dimulai,” katanya.

Menurut rencana, apabila tidak ada kendala dan debet air sungai terus menurun, maka pekerjaan pemasangan bronjong akan dapat diselesaikan pekan ini. “Pekerjaan akan dikebut dan menggunakan alat berat untuk mempercepat selesainya pekerjaan tersebut,” ujarnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Kotak Surat

Nama
E-mail
Pesan