Jember - Seringnya terjadi bencana alam di Jember, membuat Pemkab Jember berupaya mencari teknologi yang mampu menanggulangi berbagai bencana itu. Salah satu teknologi canggih yang diperkenalkan pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember adalah JWL System. Teknologi tersebut memiliki efektivitas dan efisiensi yang lebih besar dibandingkan teknologi konvesional lainnya.
Penemu teknologi JWL System, Dipl. Ing. John Wirawan, mengatakan, efektivitas dan efisiensi teknologi ini jauh lebih besar dari teknologi konvensional yang selama ini diterapkan dalam bidang arsitektur. Seperti dalam pembuatan bendungan, break water, pelabuhan, penahan erosi dan berbagai hal lainnya.
Teknologi tersebut dirancang dengan menggunakan bahan panel baja yang dirakit. Mampu memberikan kekuatan maksimum pada media pemasangannya. Pasalnya, bahan material yang dimasukkan ke dalam JWL System berandil besar menambah kekokohan sistemnya.
Direktur Utama Ecolmantech Consultans itu, menyatakan, selain ramah lingkungan, lebih kuat dan kokoh ketimbang teknologi konvensional lainnya. Teknologi yang dikembangkannya itu juga memiliki harga yang lebih menarik. “Teknologi ini cukup efisien dan efektif dalam menahan air dalam bendungan, tanah longor pada sistem terasiring, break water serta memiliki harga yang menarik,” paparnya.
Warga keturunan Jepang itu, menjelaskan, selama ini JWL System telah dipakai diberbagai negara. Diantaranya, digunakan di Jerman untuk membuat jembatan yang dirancang untuk kendaraan berkecepatan 350 km/jam, penahan abrasi pelabuhan di Teluk Persia, dan saluran pembuangan limbah tailing pada PT Freeport di Tembaga Pura Propinsi Timika.
Bahkan, katanya, beberapa kabupaten di Jawa telah memanfaatkannya. Dimisalkannya, Pemprop Jawa Tengah menggunakannya untuk menangani sedimentasi di danau Dieng. Sedangkan Kabupaten Pacitan, imbuhnya, menerapkannya untuk merehabilitasi cekdam sungai Bengawan Solo yang ambrol karena banjir bulan November 2007.
“Cekdam yang kami buat dengan JWL System ini tidak hanya mampu menanggulangi potensi banjir, tanah longsor dan erosi, tapi juga berfungsi sebagai jembatan,” tuturnya, di hadapan dinas teknis yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Sementara itu, Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan, kehadiran Ecolmantech masih sebatas memperkenalkan teknologinya untuk diterapkan dalam penanggulangan bencana. Mengingat, Jember menjadi salah satu daerah yang nyaris setiap tahunnya dilanda bencana. “Hari ini Ecolmantech mempresentasikan kepada kita tentang teknologi JWL System,” katanya.
Ia mengatakan, teknologi tersebut sebagai teknologi penahan tanah yang memiliki keunggulan lebih tinggi dan maju dibandingkan dengan teknologi yang diterapkan di Jember selama ini. “Teknologi itu diperkenalkan kepada kami sebagai teknologi penahan tanah yang bisa berfungsi untuk memberikan kekuatan lebih dibandingkan teknologi lainnya,” tengaranya. (RI-1)
RADAR INVESTIGASI
Pemkab Cari Teknologi Penanggulangan Bencana
Tabrakan Beruntun, 4 Tewas
Jember - Tabrakan beruntun yang terjadi sore ini, Selasa (17/2), di jalan raya Pecoro, Rambipuji, mengakibatkan 4 nyawa hilang sekaligus. Dan tragisnya lagi 3 diantaranya adalah satu keluarga yang satu ada balita.
Satu keluarga yang bernasib naas tersebut adalah keluarga Imam Ma'i, warga banyuputih, Jatiroto Lumajang. Dan satu lagi korban yang kehilangan nyawanya adalah Andik, warga Jember Lor kecamatan Patrang Jember. Keempatnya kehilangan nyawa, karena terlindas oleh truk gandeng dari arah barat menuju Jember.
Kejadian tragis ini bermula dari adanya iring-iringan 3 sepeda motor dari arah timur Jember menuju ke arah Tanggul. Namun begitu sampai jalan raya Pecoro, dari tiga sepeda motor tersebut, salah satunya sepeda motor jenis Supra Honda berusaha mendahului kedua sepeda motor lainnya yang dikendarai keempat korban.
Namun karena kondisi jalan yang padat dan ada truk gandeng dari arah berlawanan melaju, sepda supra yang dikendarai orang tak dikenal tersebut membuat kedua pengendara sepeda motor lainnya grogi dan oleng kekanan. Sepeda motor Tiger yang dikendarai Imam Ma'i bersama istri dan dua anaknya oleng dan jatuh ke kanan.
Demikian juga dengan sepeda Vega yang dikendarai oleh Andik, karena bersamaan dengan jatuhnya kedua sepeda motor tersebut, melintaslah truk gandeng. "Sudah bisa ditebak, kedua sepeda motor dan pengendara serta penumpangnya langsung terlindas truk gandeng tersebut," ujar Kanit Laka Lantas Polres Jember, Iptu eko Budyo.
Nyawa keempat korban tidak bisa ditolong lagi dan sore ini langsung dibawa ke kamar mayat RSUD dr. Soebandi. Sementara truk gandeng dan kedua sepeda motor langsung diamankan di Satlantas Polres Jember.
Sopir truk langsung dimintai keterangan oleh petugas Laka Lantas, sedangkan pengendara sepeda supra melarikan diri karena ketakutan. (RI-1)
Pemprov dan PLN Gerojok Sembako
Jember - Bantuan korban bencana banjir Desa Paseban, Kraton dan sekitarnya terus mengalir. Kali ini Pemerintah Propinsi (Pemprop) Jawa Timur dan PLN APJ Jember, mengirim bantuan logistik yang diterimakan ke Satlak PBP Jember di Posko Desa Kraton.
Bantuan itu berupa sembako langsung ke korban bencana untuk menormalisasi kehidupan mereka setelah kembali ke perkampungannya. Bantuan tersebut berupa 2.000 paket sembako dari Biro Kesra Pemprop Jatim, tiap paketnya berisi 2 kg beras, 1 botol kecap ukuran 275 ml, minyak goring 600 ml, gula 1 kg dan 5 bungkus mie instant dan diterima secara resmi oleh Asisten Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemkab Jember, tak lama setelah mobil bantuan tiba di Posko Satlak PBP di Dusun Kraton Desa Kraton.
Bersamaan bantuan logistik datang dari PLN APJ Jember dengan membawa 100 paket sembako. Isi per bungkusnya berisi 5 kg beras dan mie instant. “Bantuan ini adalah bentuk kepedulian PLN ke korban bencana banjir di Desa Paseban dan sekitarnya,” ujar Asisten Manajer Sumber Daya Manusia PLN APJ Jember, Sarjono.
Bantuan itu merupakan kali pertama yang diberikan ke korban bencana. Lantaran, selain membantu korban bencana di daerah itu PLN juga bakal memberikan bantuan ke daerah-daerah lain semisal Lumajang.
Sedangkan Asisten Ekbang Pemkab Jember, Drs Edy Budi Susilo, mengatakan berbagai bantuan itu bakal diberikan kepada masyarakat korban bencana dalam bentuk makanan siap konsumsi, sebelum mereka beraktivitas memasak di rumah masing-masing.
Pasalnya, di sejumlah titik bencana masyarakat masih kesulitan melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengingat, kesibukan masyarakat masih terfokus pada bersih-bersih rumah lantaran beberapa waktu terendam air hingga 2-3 hari. Lebih jauh, pihaknya, mengatakan bantuan dalam bentuk sembako tetap diprioritaskan pada masyarakat miskin, yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya pasca bencana.
Karena, bagi masyarakat mampu umumnya sudah bisa mandiri dan melakukan aktivitas seperti keadaan normal. Seperti mulai membuka toko dan aktivitas lainnya. (RI-1)
Pemkab Terus Lakukan Normalisasi Daerah Bencana
Jember - Aktivitas normalisasi kehidupan masyarakat pasca bencana tetap dilakukan oleh Satual Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Jember di daerah bencana banjir Desa Paseban dan Kraton. Hingga kini, Satlak PBP mengkonsentrasikan pada pemulihan kehidupan masyarakat di bidang logistik, kesehatan, pendidikan dan pembangunan bronjong.
Terhitung 2 hari ini, setelah cuaca mulai normal dan curah hujan menurun, upaya normaliasi dilakukan secara kontinyu. Seiring dengan itu, para pengungsi yang kemarin dijumpai masih tinggal di posko-posko pengungsian, kini telah kembali ke rumah masing-masing. Kendati masyarakat masyarakat pada umumnya belum bisa melakukan aktivitas kehidupan secara normal.
Sedangkan taruna siaga benca (Tagana) masih siaga melakukan aktivitas pelayanan di dapur-dapur umum. Pasalnya, 1.206 masyarakat korban bencana di Dusun Sidongarti, 317 korban dari Dusun Panggul Melati, dan 5.195 korban bencana Dusun Cakru Desa Paseban masih memerlukan suplai bantuan logistik, baik yang siap makan maupun paket sembako.
Menurut Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Jember, Edy Budi Susilo, untuk beberapa waktu ini bantuan kebutuhan dasar warga korban bencana diberikan dalam bentuk nasi bungkus siap makan. Lantaran, para korban bencana banyak yang belum bisa melakukan aktivitas kehidupan seperti biasanya.
“Ketersediaan bahan makanan dalam bentuk dapur umum, semuanya mengkover penduduk yang terkena bencana genangan banjir. Jadi pagi, siang dan malam penduduk tetap didrop kebutuhan makanan dalam bentuk nasi bungkus siap makan,” jelasnya.
Ia mengatakan, konsentrasi bantuan juga diarahkan pada pemulihan kesehatan penduduk pasca bencana. Diantaranya, operasionalisasi 4 buah Puskesmas Keliling (Pusling) dalam bentuk mobil ke daerah-daerah bencana, hingga pemberian makan pendamping (MP) ASI pada bayi dan balita, pelayanan ibu hamil serta pengobatan pada para penderita akibat bencana.
“Setiap hari Pusling keliling untuk melakukan pengobatan pada penduduk yang sudah pulang dari Posko bencana. Sampai kemarin sudah ada warga sebanyak 222 orang yang melakukan pengobatan gratis dengan jenis 10 penyakit mulai dari yang ringan sampai yang berat,” katanya.
Aktivitas pengobatan dan vaksinasi, katanya, pada hewan ternak warga juga dilakukan. “Dokter-dokter hewan kita melakukan vaksinasi dan pengobatan pada hewan-hewan yang berhasil dievakuasi ke tempat aman, agar hewan-hewan itu tidak didera penyakit setelah terjadinya banjir terutama pada sapi dan kambing,” tambahnya.
Bahkan, proses belajar mengajar di 9 lembaga pendidikan tetap diadakan. Kendati beberapa waktu lalu banjir menggenangi rumah dan bangunan sekolah. “Jadi tidak ada istilah libur sekolah. Semuanya mulai dari kepala sekolah dan guru tetap melakukan aktivitas belajar mengajar sebagaimana biasanya, sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung,” ungkapnya.
Edy mengatakan, kesiagaan Satlak ini bakal dilakukan sampai dengan proses pembangunan tangkis selesai. “Kesiagaan Satlak ini akan tetap dilakukan hingga pembangunan tangkis yang jebol kemarin selesai. Sehingga kekhawatiran kita jika ada hujan lebat susulan tidak sampai menggenangi perumahan penduduk,” tengaranya.
Karenanya, ia menarget pembangunan tangkis tersebut antara 7-10 hari akan rampung digarap. “Mulai kemarin sore sampai malam kita lembur mengerjakan tangkis yang jebol itu. Semoga dalam seminggu ini pembangunannya selesai,” tandasnya. Meski begitu, imbuhnya, proses pelayanan pada masyarakat dalam bentuk bantuan logistik dan dapur umum akan terus berlangsung hingga kondisi benar-benar normal. (RI-1)
Jadi Korban Bencana, Ternak-ternak Diobati
Jember – Upaya penanganan korban bencana banjir bandang di beberapa kecamatan dan terbesar di kecamatan Kencong, naga-naganya bukan hanya difokuskan ke warga dan harta benda mati saja. Namun juga kepada hewan ternak yang turut menjadi korban.
Hal ini dibuktikan dengan langkah Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan yang menajaga agar hewan ternak tidak iktu mati.
“Dengan upaya semacam ini diharapkan warga tidak semakin bertambah sedih, saat tertimpa musibah, sudah sedih kehilangan harta benda, bias semakin sedih ketika ternaknya mati juga, ini jangan sampai terjadi,” ujar Kepala DInas Perikanan Peternakan dan Kelautan, Ir. Dalhar.
Upaya penyelamatan ternak sendiri menurut Dalhar dilakukan dengan sejumlah cara. Ada ribuan hewan ternak milik warga Desa Paseban dan Desa Kraton yang berhasil diselamatkan saat banjir melanda desa mereka.
Untuk itulah, ribuan ternak diberikan suntikan vitamin agar tidak mati. Sedikitnya sepuluh petugas dikerahkan untuk memberi suntikan vitamin tersebut. Baik itu terhadap hewan ternak yang ada di lokasi pengungsian, di atas tangkis, atau yang masih dibiarkan di rumah warga.
Menurut Dalhar, hewan ternak yang selamat di Desa Kraton mencapai 600 sapi, sedangkan di Desa Paseban mencapai 1.500 sapi. Hewan ternak yang paling banyak mati didominasi itik hingga mencapai 1.000 ekor. Sementara, jumlah ayam warga yang mati terdata mencapai 140 ekor.
Sementara untuk lahan perikanan, hingga kini belum bias dihitung secara pasti berapa yang mati, karena berhektar-hektar lahan perikanan habis tertelan banjir. Lahan perikanan yang terendam banjir, menurutnya, luasnya mencapai 6,5 hektare. Termasuk 21 kolam ikan milik warga yang juga terkena banjir. (RI-1)
Kembali ke Perkampungan, Logistik Tetap Dikirm
Jember - Kendati masyarakat Desa Kraton dan Paseban yang tertimpa bencana banjir mulai menempati rumahnya masing-masing. Tapi Satuan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Jember tetap menyuplai kebutuhan dasar masyarakat. Rencananya, suplai logistik dan antisipasi bencana bakal dilakukan selama seminggu sambil menunggu situasi dan kondisi di daerah bencana benar-benar kembali pulih dan aman.
Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Jember, Drs Agoes Slameto MSi, mengatakan, kondisi perkampungan warga yang beberapa hari ini terendam air kini mulai surut. Sedangkan perkampungan warga yang berada di sekitar hilir sungai Bondoyudo dan berdekatan dengan laut masih digenangi air, berangsur-angsur surut.
Dengan begitu, masyarakat yang terdiri dari 400 kepala keluarga atau sejumlah 700 orang, ketika bencana banjir terjadi diungsikan di Balai Desa Paseban dan Kraton, dua hari terakhir secara bergelombang kembali ke perkampungannya. “Rendaman air hari ini berangsur-angsur surut dan mengering, masyarakat telah kembali ke rumahnya masing-masing,” katanya.
Aktivitas masyarakat yang bisa dipantau di titik bencana, sekarang ini mulai sibuk membersihkan rumahnya dari kotoran akibat rebakan banjir yang sempat merendam rumahnya. “Hari ini kondisi di daerah bencana sudah mulai normal. Masyarakat sibuk membersihkan rumahnya dari material lumpur dan air yang beberapa waktu ini membanjiri dalam rumahnya,” ungkapnya.
Ia mengatakan, meski penduduk sudah pulang ke kampung halaman, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Lantaran, kondisi belum memungkinkan bagi masyarakat untuk bekerja. Ditambah sebagian besar logistik masyarakat di rumah-rumah rusak diterpa banjir.
Karenanya, Satlak PBP Kabupaten Jember bakal menyuplai makanan dari dapur-dapur umum yang dipusatkan di Balai Desa Kraton dan Paseban. “Tim Satlak Bencana akan tetap mengirim bahan makanan dari dapur-dapur umum sambil menunggu kondisi benar-benar dalam keadaan normal,” terangnya.
Pengumpulan logistik siap distribusi, katanya, dipusatkan di Posko Induk atau Posko Satlak PBP yang terletak di rumah warga Desa Kraton. Sedangkan bahan-bahan logistik tersebut dibagikan ke warga secara langsung melalui Posko 2 dan 3, yang berada di Balai Desa Kraton dan Paseban.
Persediaan logistik korban bencana, sambungnya, mencukupi guna menyuplai kebutuhan makanan sekitar 2.000 orang. Logistik yang disiapkan, kata Agoes, berupa beras dari gudang Dolog sebanyak 6 ton. Selain itu, bahan makanan dari jenis sayur-mayur, mie dan lauk pauk juga siap dibagikan pada para warga lewat dapur umum. “Bantuan-bantuan yang masuk semuanya telah tercatat dan siap untuk didistribusikan,” jelasnya.
Tim Satlak PBP, sambungnya, bakal tetap siaga sebagai langkah antisipasi bencana susulan sampai keadaan lingkungan dan aktivitas kehidupan masyarakat benar-benar pulih dan kondusif. “Selama satu minggu Satlak dapur umum akan dibuka, karena kebutuhan dasar masyarakat harus terus dipenuhi,” imbunya.(RI-1)
Pemasangan Bronjong Dikebut
Jember - Guna mengantisipasi banjir kiriman berikutnya akibat luapan air Sungai Bondoyudo. Pemerintah Kabupaten Jember mulai melakukan pekerjaan pemasangan bronjongan di 2 titik tangkis sungai tersebut, yang beberapa waktu lalu jebol diterjang air bah. Pemasangan bronjongan itu dikerjakan maraton oleh Dinas Pengairan mulai hari ini, Kamis (5/2).
Tangkis yang putus bakal dipasang bronjongan untuk menghalau luapan air sungai yang berada di 2 titik tangkis yang jebol. Diantaranya, tangkis sungai Desa Kraton, rusak sepanjang 38 meter akibat diterjang banjir bandang pada hari Sabtu (31/1) dini hari. Sedangkan tangkis sungai Desa Paseban sepanjang 32 meter juga mengalami rusak berat, selang tak beberapa lama dari jebolnya tangkis di Desa Kraton.
Menurut Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto MSi, rehabilitasi kedua tangkis itu bakal dilaksanakan. Bahkan material yang digunakan untuk pembangunan sudah mulai dikirim ke sekitar tangkis-tangkis itu. “Material dan alat berat mulai dikirim di kedua titik tangkis yang jebol tersebut,” katanya.
Pembangunan tangkis dilaksanakan seiring dengan surutnya debit air sungai di lokasi bencana. Ditandai dengan mulai mengecilnya debit air sungai dan tidak adanya hujan lebat yang terus-menerus. “Yang jelas untuk pembangunan tangkis itu Dinas Pengairan sudah melakukan kalkulasi secara teknis,” ujarnya.
Selain pengiriman bebatuan sebagai bahan pembuatan bronjongan. Dinas Pengairan yang tergabung dalam Tim Satlak PBP Kabupaten Jember juga menyiapkan karung-karung pasir, yang digunakan untuk menahan luapan air ke daratan. Tentunya, dengan pemasangan karung-karung pasir di sepanjang pelipis sungai luapan air ke daratan bisa diminimalisir. Sehingga tidak masuk ke pemukiman penduduk. “Karung-karung pasir itu juga akan ditempatkan di titik-titik sumber air yang rawan,” terangnya.
Sementara itu Susmiadi, Pengamat Pengairan Wilayah Kencong mengatakan selain akan dipasang brojong-bronjong ditangkis yang jebol, memang sebaiknya tangkis tersebut juga harus dilebarkan. “Selain sebagai penahan air, tangkis tersebut juga dapat digunakan sebagai jalan baru, sehingga mempunyai 2 manfaat,” jelasnya.
Masih menurut Susmiadi kendala yang dihadapi dalam pemasangan bronjong selama ini, karena materialnya sulit masuk sampai ke lokasi pengerjaan, sehingga masih menunggu surutnya air yang masuk ke permukiman warga dan mulai selasa kemarin, debet air surut mencapai 130 meter dan ini artinya rabu kemarin pengerjaan bronjong sudah dapat dimulai. “Karena debet air terus menurun, maka pekerjaan bronjong sudah dapat dimulai,” katanya.
Menurut rencana, apabila tidak ada kendala dan debet air sungai terus menurun, maka pekerjaan pemasangan bronjong akan dapat diselesaikan pekan ini. “Pekerjaan akan dikebut dan menggunakan alat berat untuk mempercepat selesainya pekerjaan tersebut,” ujarnya. (RI-1)
Dinas Pendidikan Mulai Dirikan Sekolah Sementara
Jember – Banjir bandang yang diakibatkan jebolnya tangkis sungai Tanggul di desa Kraton, juga berimbas pada proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sejumlah sekolah di daerah bencana.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jember, H. Achmad Sudiono Msi, pihaknya bersama UPTD terdekat sudah mendirikan posko pendidikan baru yang juga dijadikan lokasi pelaksanaan KBM.
Sejumlah posko pendidikan tersebut diantaranya yakni di SDN Cakru II, SDN Kraton II, dan kantor UPTD Kencong. “Namun karena jumlah siswa masih sangat banyak yang tidak tertampung, maka posko berkembang ke rumah-rumah warga yang tidak tergenang,” jelasnya.
Sesuai dengan data di Dinas Pendidikan Jember sejumlah sekolah yang KBM-nya terganggu karena rendaman air adalah SD Paseban 01, 02, dan 03. Untuk SDN Kencong IV bukan hanya terendam namun banyak buku pelajaran yang hanyut terbawa banjir.
Bukan hanya 4 sekolah tersebut yang menjadi korban meluapnya air sungai TAnggul. Masih ada sejumlah sekolah lagi seperti Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kraton, dan SMP Trunojoyo Paseban.
Sehingga lebih dari 600 siswa hingga hari ini menjalani proses KBm di rumah warga dan di posko pendidikan. “Pada prinsipnya proses KBM harus tetap jalan, jangan sampai terhalang karena tidak ada tempat, Karena masih ada rumah warga dan posko pendidikna yang bias dipakai untuk menuntut ilmu,” imbuhnya. (RI-1)
Jebolan Bertambah Lebar, Pemkab Dirikan 4 Posko
Jember – Tangkis sungai Tanggul yang jebol pada Sabtu lalu, hingga saat ini bertambah lebar saja. Pasalnya upaya Pemkab Jember untuk merealisasikan tangkis sementara belum terwujud.
Sehingga lebar jebolan kembali bertambah 10 meter. Dari semula hanya 45 meter kemudian bertambah menjadi 50 meter dan kali ini mencapai 60 meter. Lebarnya jebolan tangkis tersebut semakin membawa korban bertambah banyak.
Untuk itu, Pemkab Jember mendirikan 4 posko. Empat posko penanganan bencana itu masing-masing ditempatkan di balai desa Kraton, balai desa Paseban, di SDN Cakru, dan Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.
“Empat posko ini terus melakukan koordinasi. Hal ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pengungsi,” kata Wakil Ketua Satlak Bencana Jember, Edy BUdi Susilo Msi.
Di sisi lain Edy menjelaskan hingga saat ini debit air masih besar, sehingga air yang tumpah lewat tangkis yang jebol, semakin memperparah kondisi. Ketinggian air yang menggenangi rumah warga semakin bertambah.
Tak terkecuali lahan pertanian milik warga yang terendam semakin meluas. Ratusan rumah warga di daerah Desa Kraton, Paseban, Cakru, dan Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, juga mulai merasakan imbas banjir.
“Hal inilah yang membuat Pemkab Jember kesulitan membuat tangkis sementara seperti yang disampaikan Bapak Bupati,” ujarnya. Menurut Edy, kondisi air masih tinggi. Sehingga tidak mungkin memasukkan bahan material untuk membendung tangkis yang jebol. (RI-1)
Tangkis Jebol, Kerugian Capai 10 Miliar
JEmber – Pasca banjir bandang yang menimpa kecamatan PAnti, Rambipuji, Tanggul dan Kencong, kerugian yang diderita Pemkab Jember dan masyarakat diperkirakan mencapai Rp. 10 miliar.
Padahal akibat banjir sebelumnya kerugian sudah mencapai sekitar Rp. 12 miliar. “Kerugian sekitar 10 miliar tersebut akibat dari jebolnya tangkis di KRaton Kencong dam sejumlah infrastruktur lain yang rusak akibat banjir akhir minggu kemarin,” ungkap ASisten Ekonomi Pembangunan Pemkab JEmber, Edy Budi Susilo.
Selain tangkis sepanjang 50 meter jebol, sejumlah jembatan juga rusak dan putus. Belum lagi plengsengan-plengsengan yang tersebar di sepanjang sungai Tanggul dan Bedadung.
Hal ini bertambah parah ketika sejumlah ruas njalan juga turut rusak berat akibat tergerus banjir. “Pemkab masing menghitung pasti angka kerugian tersebut, dan berencana kembali membangunnya,” ujarnya.
Namun untuk dalam waktu dekat ini, Edy menegaskan bahwa langkah yang efektif adalah menangani korban bencana terlebih dahulu dan membuat tangkis sementara. Untuk infrastruktur jalan lain masih dalam tahap perencanaan.
Dan jika memungkinkan maka bakal dilaksanakan pada tahun anggaran 2009 ini. “Tergantung kesiapan dana dari sejumlah unit kerja,” imbuhnya. (RI-1)
103 Balita Jember Alami Gizi Buruk
Jember - Angka balita Kekurangan Energi Protein (KEP) total atau gizi buruk masih tergolong 0tinggi, lantaran prevalensi KEP total Jawa Timur masih lebih rendah dibandingkan Jember. Tercatat ada 103 balita di Jember pada 2008 lalu mengalami Gizi Buruk. Meski sebenarnya angka balita gizi buruk tersebut sudah menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2007 lalu sebanyak 286 balita.
Data yang berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, menyebutkan angka prevalensi KEP total Jatim sebesar 18,4 persen, sedangkan KEP Jember jumlahnya 20 persen. Itu berarti angka gizi buruk Jember rata-rata lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota yang tersebar di Jatim.
“KEP total kita sekarang memang cukup tinggi hampir 20 persen. Tapi yang kategori buruk sekali kita temukan baik yang di opname di RSUD dr Soebandi maupun di lapangan yang hanya dirawat di Puskesmas tahun ini kita temukan sebanyak 103 balita,” kata Kasi Gizi Dinkes Kabupaten Jember, Fathona.
Dari jumlah 103 balita yang dinyatakan gizi buruk itu. Sebanyak 19 persen balita masuk dalam kategori gizi buruk ringan dan sedang, sedangkan 1 persen dikategorikan berat. “Penyebab langsung gizi buruk ini karena kurangnya asupan gizi dan penyakit, lha kedua hal ini tergantung dari perilaku dan pola asuh ibu,” katanya.
Ia mengatakan, kurangnya asupan gizi di satu sisi disebabkan oleh kebiasaan ibu memberikan makanan tambahan sejak bayi itu dilahirkan. Pada sisi lain, para ibu yang memiliki balita tidak memberikan Air Susus Ibu (ASI) eksklusif pada bayinya selama 6 bulan penuh.
Padahal pemberian makanan tambahan pada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan, relatif berisiko bagi pertumbuhan gizinya. Pasalnya, ASI memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada usia tersebut, salah satunya adalah kolostrum. “Pemberian ASI eksklusif pada bayi di Jember ini masih sangat rendah, karena kurang dari 15 persen,” ungkapnya.
Jumlah balita Jember tiap tahunnya rata-rata 38 ribu. Sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif baru sekitar 13 persen dari total balita tersebut. Itu berarti, sebanyak kurang lebih 87 persen balita yang baru lahir rata-rata telah diberi makanan tambahan sejak dilahirkan.
Lebih jauh, ia menjelaskan, ciri-ciri bayi gizi buruk ditandai adanya oedema (pembekakan) pada tungkai. Bila hal ini terdapat pada balita, maka bayi itu menderita kwasiorkor (gizi buruk berat). Sedangkan marasmik/marasmus bisa diketahui melalui pada penampakan mukanya seperti kera (muka kera). “Balita yang seperti ini berarti tidak mampu mempertahankan tumbuh kembangnya,” terangnya.
Makanya untuk mengetahui sejak dini kondisi anak kita, orang tua harus aktif menanyakan dan melaporkan pada petugas Posyandu atau Puskesmas bila berat badan anak kita perkembangannya tidak mengikuti pelangi yang ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).
Dengan begitu, Dinkes bakal mengambil tindakan bila menemukan anggota masyarakat yang memiliki balita gizi buruk. Tindakan yang dilakukan, diantaranya memberikan asupan seper tiga kebutuhan gizi dalam sehari selama 90 hari. (RI-1)
Bupati Djalal Minta Tangkis Darurat Segera Dibangun
Jember – Bupati Jember, MZA Djalal, mengaku sangat prihatin atas musibah banjir yang dialami warga masyarakat di desa Kraton dan Desa Paseban Kecamatan Kencong akibat jebolnya tangkis sungai di Desa Kraton tersebut. Untuk itu Djalal minta pada unit kerja terkait untuk segera membangun tangkis sementara.
Tangkis sementara ini betul-betul mendesak untuk dibangun. Karena jebolnya tangkis bertambah lebar, yang semula hanya 45 meter hari ini sudah mencapai 50 meter. Dan warga-pun bakal tertimpa musibah banjir terus menerus, jika tangkis tidak dibangun. Pasalnya, di sekitar pegunungan Argopuro selalu turun hujan, setiap harinya.
“Paling tidak menggunakan bronjong terlebih dahulu, dan saya minta dalam minggu ini diselesaikan, agar masyarakat tidak terus was-was akan terjadinya banjir,” tegasnya usai mengunjungi lokasi bencana.
Selain itu, Djalal juga minta pada semua tim Satkorlak dan unit kerja di Pemkab Jember untuk mendirikan posko-posko kesehatan serta dapur umum. “Pokoknya masyarakat jangan ada yang kelaparan akibat rumah mereka tidak bisa digunakan untuk memasak, maka dapur umum ini nantinya yang akan mensuplai kebutuhan makan tersebut,” imbuhnya.
Tidak itu saja, Bupati Jember MZA Djalal juga berharap Satlak Kabupaten Jember untuk mencukupi kebutuhan masyarakat selain makan, tempat tidur, mandi dan tempat ibadah juga harus disediakan. “Masyarakat korban banjir ini jangan sampai terlantar dan ini untuk sementara menjadi tanggung jawab Satlak Kabupaten Jember yang bekerjasama dengan instansi terkait,” ujarnya.
Untuk itu agar kebutuhan masyarakat dapat terlayani dengan baik, Djalal juga minta Satlak Kabupaten Jember sementara tetap berada di lokasi terjadinya banjir tersebut. “Hal itu untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat warga pengungsi,” harapnya. (RI-1)
Belum Surut Betul, Puluhan KK Mulai Kembali Kerumah
Jember – Meski belum surut betul dan rasa trauma masih menghantui warga desa Kraton kecamatan Kencong, mulai pagi ini, puluhan KK di desa tersebut mulai kembali ke rumah dan bersih-bersih.
Meski sebenere warga juga was-was akan banjir susulan. Pasalnya, curah hujan di pegunungan Argopuro masih realtif tinggi. Sehingga masih memungkinkan adanya banjir susulan di wilayah kecamatan Kencong.
Kepala Desa Kraton, Kecamatan Kencong, Edy Winoto, yang dikonfirmasi siang ini, menegaskan bahwa sudah ada sekitar 84 KK dengan 171 jiwa di dua RW mereka sudah mulai menempati rumahnya. "Mereka yang kembali itu langsung membersihkan lumpur yang masuk ke dalam rumah," katanya.
Menurutnya, hingga kini sejumlah jaringan PLN masih ditangani beberapa petugas PLN dari Kencong. Selain itu, Edy juga menghimbau warga yang dapur dan rumahnya masih digenangi air dan tidak bias memasak sendiri untuk dating ke Posko Tagana di kantor Balai Desa Kraton.
Demikian juga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, suda ada posko kesehatan baik dari PMI maupun tim kesehatan dari Puskesmas Kencong. Di sisi lain Edy menugaskan pada seluruh perangkatnya untuk memantau cuaca. Karena cuaca masih mendung dan hujan masih akan terjadi. “Saya perintahkan perangkat segera melakukan evakuasi bila sewaktu-waktu air sungai itu naik,” tegasnya. (RI-1)
Hujan Tiada Henti, Jembatan dan Tangkispun Jebol
Jember - Hujan lebat di Jember selama 3 hari berturut-turut tiada henti, mulai jumat hingga Senin (2/2) pagi ini, membuat sejumlah infrastruktur rusak parah. Bukan hanya perumahan penduduk yang tergenang air banjir bandang saja, namun Jembatan dan sejumlah plengsengan serta tangkis ikut jebol juga.
Di Kecamatan Panti, misalnya setelah diguyur hujan terus menerus akhirnya jembatan di dusun Gebang desa Panti putus, tangkis jembatan Prapah jebol, dan pondasi jembatan Glensengan tergerus, sehingga bila tidak secepatnya ditangani akan mengakibatkan kerugian yang serius.
Sementara itu di kecamatan Kencong juga terjadi hal yang sama yaitu ada 8 titik sungai yang tangkisnya jebol, sedangkan di kecamatan Rambipuji yang tidak jauh dari jantung kota Jember terdapat satu tangkis jebol tepatnya di desa Rambigundam.
“Untuk mengantisipasi meluasnya bencana, dinas terkait langsung datang dan memperbaiki tangkis tersebut,” ungkap Kepala bagian Humas Pemkab Jember, drs. Agoes Slameto usai meninjau lokasi bencana.
Belum lagi, kerusakan non infrastruktur, seperti lahan pertanian, lahan hutan dan desa yang longsor, seperti yang terjadi di kecamatan Patrang kelurahan Bintoro dusun Mojan. Di Sukorambi desa Karangpring dusun Sumber kembang dan lain-lainnya.
“Ya untungnya bencana tanah longsor tersebut juga tidak menimbulkan korban jiwa, karena memang jauh dari perkampungan warga,“ tegasnya.
Agoes menuturkan, kawasan rawan banjir dibeberapa titik di Kabupaten Jember hingga pagi ini masih normal. "Berdasarkan hasil monitor kami, walaupun hujan semalaman genangan belum sampai membahayakan jiwa dan harta,” imbuhnya. (RI-1)
Jebol 45 Meter, Terpanjang Selama Bencana Terjadi
Jember – Banjir bandang yang menimpa lebih dari 500 rumah di dua desa (Paseban dan Kraton) di kecamatan Kencong, Sabtu dini hari kemarin (31/1), diakibatkan karena jebolnya tangkis sungai Tanggul yang jebol sepanjang 45 meter.
Tangkis buatan belanda ini memang sering bocor di kanan kirinya setiap terjadi luapan air dari pegunungan Argopuro. Namun kali ini tercatat yang paling parah sehingga mengakibatkan jebolan terpanjang (45 meter).
Akibatnya ribuan warga Desa Paseban dan Desa Kraton kemarin terpaksa mengungsi dan empat ratusan (400-an) hektare sawah dan ratusan rumah warga terendam banjir hingga sekitar 1 meter ketinggiannya.
Ketinggian debit air di Dam Pondok Waluh, Kecamatan Jombang mencapai 3,6 meter lebih. Padahal dalam keadaan normal, ketinggian air tak lebih dari dua meter. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi kondisi tangkis Sungai Tanggul di bagian hilir.
"Tangkis Tanggul ini dibangun sejak zaman Belanda. Sudah ada delapan titik rembesan di kiri dan kanan tangkis. Kami sudah melakukan pembenahan di sebelah kiri, namun bagian kanan belum dilakukan dan akhirnya jebol," ujar Ir Rasyid Zakaria, Kepala Dinas Pengairan Pemkab Jember.
Menurut Rasyid, sekitar pukul 00.00, air sungai mulai meluber dari atas tangkis. Awalnya, terjadi di bagian kiri tangkis di kilometer 11. Warga sebenarnya sudah mengantisipasi agar tangkis tidak jebol. Puluhan karung plastik berisi pasir digunakan untuk menahan.
Namun, karung plastik berisi pasir yang digunakan sebagai penahan, tak kuat menahan derasnya air. Sekitar pukul 02.00, air sungai meluber di bagian kanan tangkis tepatnya di titik kilometer 11. Debit air dalam jumlah besar kemudian mengikis atas tangkis di Desa Kraton.
“Dalam waktu tak lama, tangkis sepanjang 45 meter jebol,” imbuhnya.(RI-1)
Satkorlak Hanya Bisa Mendirikan Dapur Umum
Jember – Nasib Satkorlak bencana Pemkab Jember memang lagi apes, belum usai menyelesaikan pekerjaan rumahnya, atas bencana banjir bandang di 4 kecamatan, Silo, Jenggawah, Mayang, Tempurejo. Kini kembali disibukkan dengan datangnya banjir di sejumlah kecamatan seperti PAnti, Rambipuji, Kaliwates, Tanggul dan Kencong.
Dan dengan segala keterbatasannya, Satkorlak Jember hanya bias mendirikan dapur umum saja. Sama seperti yang dilakukannya pada bencana banjir bandang sebelumnya. Menurut koordinator Satkorlak Jember yang juga Asisten Ekonomi Pembangunan, Drs. Edy Budi Susilo, Pemkab Jember masih mengalami kesulitan dana.
Seperti yang dituturkan Kabag Penyusunan Program, Slamet Urip Santoso, beberapa waktu lalu. Sebagai bawahan Edy, Urip, menegaskan bahwa dana tak tersangka yang disiapkan Pemkab Jember untuk tahun anggaran 2009 ini hanya sebesar Rp. 4 miliar saja.
Padahal bencana banjir bandang yang pertama lalu saja diperkirakan kerugian sudah mencapai Rp. 12 miliar. Dan untuk kecamatan Silo saja sudah mencapai Rp. 4 miliar. “Artinya kalau dana itu digunakan untuk kecamatan silo saja sudah habis, sementara yang membutuhkan dana masih banyak kecamatan,” ujarnya.
Belum lagi banjir yang baru saja terjadi Jumat dan Sabtu kemarin. Pemkab dipastikan sudah tidak berdaya lagi, untuk mengucurkan bantuan kepada korban banjir.
Sementara itu Camat Silo, Eko Heru Santoso, menegaskan bahwa selama bencana terjadi pihaknya dbbantu banyak pihak sehingga tidak terlalu mengalami kesulitan. Salah satu diantaranya, Heru mengaku dibantu 500 paket sembako dari Pemprov Jatim, melalui sejumlah rekannya di DInas Sosial Propinsi.
Untuk itu perlu pejabat wilayah seperti camat yang saat ini sedang tertimpa masalah berpikir kreatif segera mencari hubungan ke instansi lain agar mendapatkan bantuan. Jika berpangku tangan menunggu bantuan Pemkab Jember dipastikan bakal lama turunnya. (RI-1)
TNMB Juga Amankan Perambah Hutan
Jember – Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jember, juga mengamankan seorang perambah hutan bernama Ponari (45). Ponari, ditangkap pertugas dan diserahkan ke Mapolsek Tempurejo karena terbukti merambah hutan milik TNMB, kemarin Kamis (29/1), di blok Aren dusun MAndilis, desa Sanenrejo kecamatan Tempurejo.
Sayangnya, 5 perambah lain berhasil melarikan diri dari upaya penangkapan petugas keamanan TNMB. Menurut Kepala TNMB Jember, Ir. Herry Subagiadi, pelaku diamankan karena berusaha merambah di areal hutan lindung milik TNMB.
“Biasanya mereka merambah dan setelah dirambah, ditanami padi, untuk itu kami amankan sementara untuk diproses hokum lebih lanjut oleh Polsek,” ujarnya.
Kasus perambahan hutan di Jember marak terjadi, karena kebanyakan para pencuri kayu beralih profesi. Kalau mencuri kayu sering tertangkap, sementara merambah jarang ditangkap, apalagi usai merambah mereka menanami lahan hasil rambahan tersebut dengan tanaman palawija atau yang lain.
Dan hasil dari tanaman tersebut biasanya dibagi dengan oknum petugas jaga di sekitar lahan tersebut.
LSM Pemerhati Kehutanan Jember, Abdi MASyarakat, menyesalkan banyaknya kasus perambahan yang biasanya akan berujung pada pencurian kayu juga. “Jika merambah dan menanami areal tersebut tidak ditangkap maka, ujungnya bakal mencuri kayu, apalagi saat ini Dinas Kehutanan diduga acuh terhadap kasus pencurian kayu,” ujar Ketua Abdi MAsyarakat, HUsni Thamrin SH.
Terbukti pada saat penangkapan pencurian kayu di Andongrejo yang diduga kuat merupakan kayu TNMB, Dinas Kehutanan justru mengeluarkan SKSHH sebagai bukti kepemilikan kayu. “Dan Dinas Kehutanan tidak mau tandatangan ketika kayu tersebut sudah dibuktikan oleh uji lab, bahwa bukan kayu desa namun kayu hutan TNMB,” imbuhnya.
Sehingga pihaknya mendukung penuh langkah TNMB yang menangkap perambah hutan di areal TNMB. Dan para perambah tersebut harus dihukum berat sesuai dengan UU nomor 41 tahun 1999, tentang kehutanan. "dengan ancaman hukuman 10 tahun dan denda sebesar Rp. 5 miliar," tegasnya. (RI-1)
Hujan Terus, Pegunungan LYT Longsor 3 Titik
Jember – Hujan yang terus turun di wilayah Jember dan setiap hari khususnya di pegunungan Argopura Jember, membuat sejumlah punggung bukit di pegunungan tersebut, termasuk di wilayah BKPH Lereng Yang Timur (LYT), mengalami longsor.
Longsoran punggung bukit di pegunungan Argopura tersebut mencapai 3 titik, diantaranya di petak 59 c dan 58. longsoran terjadi cukup parah dan mengakibatkan sekitar 2 hektar lahan hutan lindung tersebut hilang tanamannya.
Untungnya 3 titik longsoran tersebut jauh dari perumahan Magersaren milik warga sekitar. Jarak longsoran sekitar 2 km dari kawasan perumahan Magersaren, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Hanya saja, ribuan tanaman kopi, tanaman keras yang baru saja ditanam pada program Gerhan 2008 hilang. “Bisa sampean lihat sendiri, ini di kemiringan sekitar tidak sampai 45 derajat, dan dihutan lindung lagi, jadi sudah tidak boleh dirambah atau ditanami lain-lain, akibatnya longsor begini,” ujar Kepala BKPH LYT, Budi Mulyono, sambil menujukkan lokasi longsoran yang terdapat di petak 59c, dengan posisi sekitar 3000 meter diatas permukaan laut.
Budi juga menjelaskan, bahwa sudah seharusnya masyarakat ikut menjaga areal tanaman keras milik Perhutani, bukan malah mematikan atau menebangnya. “Meski kayunya tidak dibawa ke bawah, tetapi akhirnya mati karena diobat, kalau sudah mati arealnya ditanami kopi, ini sama saja dengan mencuri,” imbuhnya.
Budi berharap melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Kembang, yang juga mempunyai sekitar 400 anggota pesanggem, di wilayah tersebut masyarakat bias lebih terbina dan terarah ketika hendak menanami areal hutan. (RI-1)
Perlengkapan Penanggulangan Bencana Jember Ditambah
Jember – Mensos, H Bahtiar Chamsah, menegaskan bahwa setiap terjadi bencana alam di daerah perlu dilakukan percepatan penanggulangan bencana, terutama bagi daerah-daerah rawan bencana dan daerah yang berjauhan dengan ibu kota propinsi. “Tidak saja disiapkan peralatan lengkap di propinsi, tapi juga di daerah-daerah yang berjauhan dari ibu kota propinsi dan kabupaten yang sering terjadi bencana,” ujarnya.
Tanpa upaya tersebut menurut Bahtiar, korban bencana bakal terlantar. Bahtiar mencontohkan seperti yang terjadi di Jember, yang menurutnya sudah termasuk lengkap. “Walaupun Jember jauh dari Surabaya , tapi kelengkapan penanggulangan bencana sama dengan propinsi,” imbuhnya.
Dengan begitu, harapannya ketika terjadi bencana sewaktu-waktu pemerintah bias segera mengambil tindakan dengan fasilitas perlengkapan yang telah tersedia. Dan untuk semakin melengkapi perlengkapan tersebut, Bahtiar menyerahkan tambahan perlengkapan diantaranya, satu unit mobil dapur lapangan, truk pengangkut logistik, mobil tangki air.
Termasuk, satu unit mobil dan perahu SAR yang digunakan untuk percepatan mobilitas penanggulangan bencana, yang diserahkan secara langsung oleh Mensos pada Bupati Jember di Gedung Serba Guna Pemkab Jember, hari ini, Kamis (29/1).
Selain itu, Pemkab Jember juga mendapat bantuan berupa pemenuhan logistik guna memenuhi kebutuhan pangan korban bencana alam. Karena logistic merupakan kebutuhan mendasar yang perlu diberikan sewaktu-waktu pada korban bencana alam.
“Saya sudah membicarakan hal ini dengan Dirjen dan tadi saya menginstruksikan supaya realiasinya pada tahun 2009 ini jangan lama-lama. Kalau bisa antara bulan Maret-April harus bias terealisasi,” katanya.
Pada saat yang sama, Bachtiar mengungkapkan, kepala daerah diberi kewenangan untuk mengeluarkan dari gudang Dolog antara 50-100 ton guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang tertimpa bencana alam. Sedangkan kewenangan gubernur untuk mengeluarkan beras, katanya, antara 100-200 ton.
Dari pos APBN Departemen Sosial tahun anggaran 2009, lanjutnya, Kabupaten Jember akan dibantu suplai beras sebesar kuota propinsi di gudang-gudang dolog Jember. Asalkan, Pemkab Jember mampu membuat depot-depot logistik baru. “Jika Bupati Jember mampu membuat gudang-gudang logistic, Depsos akan mengisinya sama dengan propinsi antara 100-200 ton,” tuturnya. (RI-1)
Satu Dusun, Warga Kekurangan Air Bersih
Jember - Kualitas air sumur warga masyarakat di Dusun Bulu Rejo Desa Paseban Kecamatan Kencong terus memburuk beberapa tahun terakhir. Akibatnya, lebih dari 500 kk di kawasan tersebut kekurangan air bersih untuk dikonsumsi.
Untuk itu warga meminta pemerintah agar sesegera mungkin membangun fasilitas air bersih di kawasan tersebut. Shultan Arifin, salah satu warga desa tersebut yang mengalami kesulitan air bersih karena air sumurnya terasa asin mengeluh setiap harinya harus memikul air bersih dari rumah warga tetangga yang airnya tidak terasa asin. “Banyak masyarakat yang sehari-harinya menggunakan harus berjalan mencari air bersih untuk dikonsumsi,” tuturnya.
Menurutnya, penurunan kualitas air bersih sudah menahun. Pemerintah daerah sendiri telah membangun instalasi klep air bersih di sana. Sayangnya, bangunan tersebut tidak berfungsi sama sekali. “Nanti kita bicarakan dengan dinasnya, kalau fasilitas yang sudah ada bisa diperbaiki dan difungsikan ya tidak usah membuat baru. Tapi kalau tidak bisa lagi terpaksa dibuat lagi, dan kita minta jangan sampai gagal,” katanya.
Untuk itu ia meminta dinas terkait agar memperbaiki klep air bersih yang paling tepat, yang mampu dioperasikan masyarakat secara efektif dan efisien. Di tengah keterbatasan anggaran daerah, menurut dia, pemerintah sebaiknya menggunakan teknologi murah. Misalnya saringan air atau mesin pengolahan air mineral listrik.
Ketika menenggok nasib warga Dusun Bulu Rejo Desa Paseban Kecamatan Kencong tak kunjung berubah. Karena setiap hari, setidaknya ada 500 warga di dusun tersebut harus menggotong jurigen air dari rumahnya menuju ke sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan air bersih rumah tangganya, lantaran air sumurnya terasa asin. Karena itu, mohon kepada masyarakat untuk memberikan bantuan berupa saluran drainase yang bisa mempermudah penduduk setempat mendapatkan air bersih.
Ketua Kelompok Petani Pengguna Air Desa Paseban Kecamatan Kencong, Shultan Arifin, mengatakan kesulitan air ini sebenarnya telah berlangsung sejak 10 tahun lalu, semenjak rusaknya klep Afur Rowo Bedes yaitu penghubung air buangan sungai dari lahan persawahan penduduk ke laut. “Sejak rusaknya klep itu air laut sering masuk ke lahan pertanian, karena berlangsung lama akhirnya merembes ke perumahan warga, terutama yang berdekatan dengan areal persawahan dan laut itu. Air sumurnya sekarang menjadi air payau (terasa asin),” katanya.
Ia mengatakan, jarak antara rumah perkampungan penduduk dengan pinggiran laut tak kurang dari 300 meter. Pada saat laut pasang atau musim penghujan, air laut dalam jumlah yang cukup besar menggenangi daratan melalui sungai. “Karena klepnya rusak, maka air laut bercampur dengan air tawar dengan mudah di areal persawahan,” tengaranya.
Saat ini upaya penduduk memenuhi kebutuhan akan air bersih sehari-hari terutama untuk memasak dan minum, katanya ditempuh dengan mengusung atau mengambil air dari daerah sekitar di Dusun Bulu Rejo yang tak dirembesi air laut. “Setiap hari penduduk Bulu Rejo mengusung air, karena air sumurnya tidak bisa diminum,” tandasnya. (RI-1)
