Jember - Angka Kematian Ibu (AKI) dalam persalinan mengalami penurunan pada kurun waktu 2 tahun terakhir ini. Umumnya, kematian tersebut dialami oleh ibu hamil (bumil) beresiko tinggi, dan faktor budaya masyarakat yang melakukan proses persalinan ke dukun bayi. Pasalnya, rasio jumlah dukun jauh lebih tinggi hingga kini lebih tinggi dibandingkan jumlah bidan.
Data yang dirilis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, jumlah AKI pada tahun 2007 cukup signifikan, yakni sejumlah 40 ibu meninggal dunia saat melahirkan. Lalu sepanjang tahun 2008 angka tersebut menurun 10 persen, sehingga didapati jumlah AKI pada saat persalinan sebesar 30 orang.
Menurut Kasi Promosi Kesehatan dan Hubungan Masyarakat Dinkes Kabupaten Jember, Yumarlies, walaupun rasio dukun lebih tinggi dibandingkan tenaga kesehatan. Tapi, proses persalinan yang ditangani oleh bidan telah mencapai 77 persen sementara yang masih menggunakan tenaga dukun bayi sebesar 23 persen.
Ia mengatakan, rata-rata kelahiran bayi sebanyak 38 ribu per tahunnya. Angka itu didapatkan dari hasil survei jumlah balita yang berusia 0-11 bulan sepanjang tahun 2008. “Berarti sepanjang tahun 2008 dari 38 ribu ibu hamil yang mengalami proses persalinan, sejumlah 40 ibu di antaranya meninggal dunia,” tuturnya.
Pihaknya menengarai, angka kematian itu rata-rata disebabkan oleh persalinan melalui dukun. Lantaran, jumlah dukun bayi sebanyak 1.080 orang, sedangkan jumlah bidan hanya 321 orang. “Di Jember rasio dukun jauh lebih tinggi dibandingkan bidan,” tengaranya.
Untuk meminimalisir terjadinya kematian bayi pada saat persalinan, katanya, Dinkes mulai membangun kemitraan antara bidan dan dukun bayi guna membantu kelancaran persalinan. Langkah yang ditempuh dengan cara memanfaatkan tenaga dukun guna mengantarkan bumil ke tempat praktik bidan pada saat ditemui ibu persalinan.
“Untuk mengurangi resiko AKI, kita memanfaatkan tenaga dukun bayi untuk mengantarkan ibu bersalin ke bidan. Setiap 4 kali persalinan para dukun itu diberi uang Rp 100 ribu. Bukan berarti kita membasmi keberadaan para dukun itu. Tapi mereka masih kita perlukan untuk perawatan bayi pasca kelahiran, itulah bentuk kemitraan yang dibangun,” terangnya.
Meski begitu, katanya, persalinan yang masih menggunakan tenaga dukun galibnya dipengaruhi oleh faktor budaya dan rendahnya pendidikan masyarakat. Terutama, masyarakat yang berada di daerah Jember Utara, misalnya di Kecamatan Silo, Jelbuk, Sumberjambe, Arjasa dan Ledokombo.
Naiknya AKI, sambungnya, juga dipengaruhi oleh bumil beresiko tinggi. Yang termasuk dalam kategori tersebut, antara lain bumil yang mengalami gizi buruk, memiliki penyakit komplikasi. "Selain itu juga karena pengambilan keputusan yang salah menjelang proses persalinan dan masih melekatnya budaya persalinan ke dukun," terangnya.(RI-1)
RADAR INVESTIGASI
AKI Jember Menurun 10%
UTD PMI Tetapkan Harga Baru Kantong Darah
Jember - Menyusul dinaikkannya Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD), per 1 Pebruari oleh UTD PMI se Jawa Timur, yang diputuskan pada Musyawarah Kerja se Jawa Timur beberapa waktu lalu. Maka kepada kepada seluruh UTD diberikan hak untuk menetapkan harga. Adapun kisaran harga yang ditetapkan tersebut yakni antara Rp.200 ribu hingga 300 ribu per kantong.
Terkait dengan ini, Humas UTD PMI Jember, Dimyati, mengungkapkan bahwa naiknya harga darah yang disebabkan karena kenaikan kantong darah itu, pada dasarnya tidak banyak mempengaruhi kinerja PMI Jember.
Mungkin yang sempat membuat kesal adalah bantuan atau subsidi reagen atau uji saring dari Departemen Kesehatan, yang diberikan kepada UTD PMI Jember selama ini, sejak September 2008 dihentikan. “Hal tersebut inilah yang berpengaruh sekali terhadap perubahan harga,” katanya.
Meski begitu, Dimyati tetap optimis, bahwa ketiadaan subsidi untuk UTD PMI Jember tak akan banyak menurunkan kualitas kinerja, bahkan sebaliknya akan semakin meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada masyarakat.
“Apalagi dengan diraihnya ISO 9000-2001 oleh UTD PMI Jember maka peningkatan kualitas pelayanan menjadi prioritas bagi UTD PMI Jember,” ujarnya.
Mengenai harga darah per kantong di Jember diputuskan saat ini antara Rp.200 ribu hingga Rp 250 ribu. Harga ini akan dibedakan oleh rumah sakit pelayanan. Jika pasien dirawat di puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah maka harga per kantongnya hanya RP.200 ribu. Dan apabila pasien dirawat di RS Swasta atau dirawat di luar Kabupaten Jember maka harga yang ditetapkan adalah Rp.250 ribu. (RI-1)
Pendonor Aktif Dapat Gratis Kantong Darah
Jember - Upaya untuk melakukan yang terbaik demi kepentingan kemanusiaan dan pelayanan masyarakat terus dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jember. Setelah berhasil mendapatkan ISO 9000- 2001, UTD PMI Kabupaten Jember, kini memiliki kiat baru dalam menjaring minat masyarakat untuk mendonorkan darahnya.
Menurut Kepala UTD PMI Jember, Dr. Oemi Djauhari, kiat baru yang digagas PMI Jember agar masyarakat berminat mendonorkan darahnya, bagi pendonor yang menunjukkan kartu dan keaktifan 3 bulan terakhir dengan minimal donor 10 kali keatas maka kepadanya akan diberikan reward berupa gratis darah berapapun. Pemberian reward kepada pendonor aktif ini, kata Umi, merupakan bentuk peningkatan layanan kepada masyarakat yang berusaha terus dilakukan PMI Jember.
Umi menegaskan, bahwa pemberian reward ini tidak akan mempengaruhi stok darah yang ada, meski per 1 Februari 2009 ada kenaikan harga darah serentak di seluruh Jawa Timur. “Kenaikan serentak itu karena dicabutnya subsidi kepada UTD PMI dan naiknya harga berbagai elemen uji saring untuk pemrosesan darah namun UTD PMI Jember terus berbenah dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh terkait pemberian reward kepada para pendonor, Humas UTD PMI Jember Dimyati, menambahkan, bahwa pemberian reward kepada para pendonor sebenarnya sudah dilaksanakan sejak lama. Hanya saja mereka yang akan mendapatkan 1 kantong darah secara gratis adalah yang sudah menjadi pendonor aktif sebanyak 10 kali.
Demikian halnya dengan pendonor yang sudah 25 kali, akan mendapatkan 3 kantong secara gratis dan yang sudah 75 kali akan mendapatkan gratis. “Selama ini pendonor aktif 10 kali hanya diberikan gratis 1 kantong, 25 kali 3 kantong dan 75 kali baru bisa gratis. Saat ini per 1 Februari 2009 dengan menunjukkan kartu dan keaktifan 3 bulan terakhir dengan minimal donor 10 kali keatas, maka akan mendapatkan reward berupa gratis berapapun dia butuh darah untuk dirinya dan keluarganya yang tertanggung di dalam K,” papar Dimyati.
Yang dimaksud keluarga tertanggung menurut Dimyati, apabila pendonor telah berkeluarga, maka yang tertanggung yaitu suami, istri dan anak. Akan tetapi bila belum berkeluarga, maka yang tertanggung adalah orang tua dan saudara kandung. (RI-1)
103 Balita Jember Alami Gizi Buruk
Jember - Angka balita Kekurangan Energi Protein (KEP) total atau gizi buruk masih tergolong 0tinggi, lantaran prevalensi KEP total Jawa Timur masih lebih rendah dibandingkan Jember. Tercatat ada 103 balita di Jember pada 2008 lalu mengalami Gizi Buruk. Meski sebenarnya angka balita gizi buruk tersebut sudah menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2007 lalu sebanyak 286 balita.
Data yang berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, menyebutkan angka prevalensi KEP total Jatim sebesar 18,4 persen, sedangkan KEP Jember jumlahnya 20 persen. Itu berarti angka gizi buruk Jember rata-rata lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota yang tersebar di Jatim.
“KEP total kita sekarang memang cukup tinggi hampir 20 persen. Tapi yang kategori buruk sekali kita temukan baik yang di opname di RSUD dr Soebandi maupun di lapangan yang hanya dirawat di Puskesmas tahun ini kita temukan sebanyak 103 balita,” kata Kasi Gizi Dinkes Kabupaten Jember, Fathona.
Dari jumlah 103 balita yang dinyatakan gizi buruk itu. Sebanyak 19 persen balita masuk dalam kategori gizi buruk ringan dan sedang, sedangkan 1 persen dikategorikan berat. “Penyebab langsung gizi buruk ini karena kurangnya asupan gizi dan penyakit, lha kedua hal ini tergantung dari perilaku dan pola asuh ibu,” katanya.
Ia mengatakan, kurangnya asupan gizi di satu sisi disebabkan oleh kebiasaan ibu memberikan makanan tambahan sejak bayi itu dilahirkan. Pada sisi lain, para ibu yang memiliki balita tidak memberikan Air Susus Ibu (ASI) eksklusif pada bayinya selama 6 bulan penuh.
Padahal pemberian makanan tambahan pada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan, relatif berisiko bagi pertumbuhan gizinya. Pasalnya, ASI memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada usia tersebut, salah satunya adalah kolostrum. “Pemberian ASI eksklusif pada bayi di Jember ini masih sangat rendah, karena kurang dari 15 persen,” ungkapnya.
Jumlah balita Jember tiap tahunnya rata-rata 38 ribu. Sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif baru sekitar 13 persen dari total balita tersebut. Itu berarti, sebanyak kurang lebih 87 persen balita yang baru lahir rata-rata telah diberi makanan tambahan sejak dilahirkan.
Lebih jauh, ia menjelaskan, ciri-ciri bayi gizi buruk ditandai adanya oedema (pembekakan) pada tungkai. Bila hal ini terdapat pada balita, maka bayi itu menderita kwasiorkor (gizi buruk berat). Sedangkan marasmik/marasmus bisa diketahui melalui pada penampakan mukanya seperti kera (muka kera). “Balita yang seperti ini berarti tidak mampu mempertahankan tumbuh kembangnya,” terangnya.
Makanya untuk mengetahui sejak dini kondisi anak kita, orang tua harus aktif menanyakan dan melaporkan pada petugas Posyandu atau Puskesmas bila berat badan anak kita perkembangannya tidak mengikuti pelangi yang ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).
Dengan begitu, Dinkes bakal mengambil tindakan bila menemukan anggota masyarakat yang memiliki balita gizi buruk. Tindakan yang dilakukan, diantaranya memberikan asupan seper tiga kebutuhan gizi dalam sehari selama 90 hari. (RI-1)
Lagi, 2 Pengidap HIV Meninggal
Jember – Pasien klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing)RSUD dr. Soebandi Jember kembali ada yang meninggal dunia. Setelah beberapa bulan terakhir ini tidak ada yang meninggal. Tercatat pada bulan Januari 2009 ini ada 2 orang pasien penderita HIV AIDs meninggal dunia.
Satu orang berusia sekitar 35 tahun dan berprofesi sales keliling serta satu lagi adalah balita. Balita satu ini menderita HIV AiDs karena tertular oleh orang tuanya.
Hal ini memunculkan sikap prihatin dari penanggungjawab klinik VCT dr Soebandi Jember, dr. Yustina Evi. Evi menyatakan bahwa masih banyak masyarakat yang belum secara rutin memeriksakan diri ke kliniknya, meski sudah terjangkit penyakit mematikan tersebut.
“Dengan tidak memeriksakan diri secara rutin maka banyak warga lain yang rentan terhadap penularan virus HIV AIDS, dan juga berbahaya bagi diri sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut Evi menegaskan harapannya kepada masyarakat pengidap HIV AIDs untuk bersedia berobat rutin ke kliniknya. “Jangan malu, karena kami menjaga kerahasiaan status penderita,” imbuhnya.
Sementara itu, selain kedua warga Jember yang meninggal akibat terinveksi HIV AIDS, pada bulan ini ada tambahan penderita. Tiga pasien lainnya tersebut berasal dari Lumajang, Bondowoso dan Situbondo kesemuanya terdeteksi mengidap HIV ADIS. (RI-1)
Diskes Bakal Terjunkan Tim ke Sekolah
Jember – Makin maraknya peredaran jajan (makanan ringan) yang berbahaya di lingkungan sekolah-sekolah, membuat Dinas Kesehatan (Diskes) Jember turun tangan. Humas Diskes Jember, H. Yumarlis SH, menegaskan bakal menurunkan tim ke sekolah-sekolah.
“Tim tersebut bakal meninjau atau melakukan pengawasan atas beredarnya makanan berbahaya tersebut,” ujarnya.
Selanjutnya Diskes bakal mengambil sample makanan atau minuman yang diduga membahayakan kesehatan anak-anak. Apalagi saat ini banyak beredar makanan atau minuman murah yang disenangi siswa-siswi.
“Anak-anak khususnya di tingkat SD lebih suka jajan makanan yang murah, padahal makanan itu berbahaya, karena mengandung sejumlah zat beracun, seperti pewarna pakaian, pengawet, penambah rasa non gula dan lainnya,” ungkap Yumarlis.
Sehingga Diskes berharap kepada pihak sekolah untuk turut mengawasi pedagang yang berjualan di sekolah-sekolah tersebut. Jika memang diduga kuat makanan dan minuman tersebut berbahaya, sebaiknya sekolah melarang pedagang dimaksud untuk berjualan di lingkup sekolah.
Selain kandungan zat berbahaya di dalam makanan dan minuman, menurut Yumarlis, pedagang biasanya juga tidak menjaga kualitas air atau masakannya. Tak jarang air yang digunakan air mentah yang tidak steril.
Cara memasaknyapun sembarangan, sehingga banyak yang keracunan atau terserang penyakit tipes, hepatitis dan muntaber. (RI-1)
3000 Posyandu Dibantu TV dan VCD Player

Jember – Memahami arti pentingnya peran posyandu, Pemkab Jember membantu masing-masing pos pelayanan terpadu tersebut dengan TV dan VCD palyer. Menurut Bupati Jember, MZA Djalal, di ember saat ini terdapat 3000 posyandu.
Yang mana semua kader posyandu tersebut siap memberikan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya kepada masyarakat. “Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memberikan sarana berupa TV dan VCD Player untuk masing-masing Posyandu agar digunakan memberikan informasi kepada masyarakat, karena dengan sarana tersebut sangat memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat,” jelas Djalal.
Tidak hanya itu saja, menurut Djalal, pemerintah juga memberikan insentif serta memberikan penghargaan atau reward kepada anak kader posyandu untuk dibebaskan biaya sekolah mulai SD s/d SMA di Kabupaten Jember.
“Jangan dilihat besar kecilnya, tetapi ini merupakan perhatian pemerintah kepada masyarakat (kader posyandu.red) dalam membantu menciptakan masyarakat untuk berpola hidup sehat menuju generasi bangsa yang lebih baik dan cerdas,” tegasnya.
Kepada para kader posyandu yang ada diwilayah kecamatan dan desa, Djalal meminta untuk melakukan kerjasama yang sinergis setiap program kegiatan dengan dinas lintas sektoral, PKK baik desa maupun kelurahan, agar masyarakat benar-benar dapat dilayani dengan baik.
Pada kesempatan yang sama, Djalal juga menyampaikan rasa terimakasihnya kepada kader posyandu dari Kecamatan Patrang yang keluar sebagai juara pertama dengan perolehan nilai skor sebanyak 695 pada acara posyandu show beberapa hari lalu. (RI-1)
Warga Jember Lor Tetap Minta RSP Dipindah
Jember – Pasca unjukrasa warga sekitar Rumah Sakit Paru (RSP) beberapa hari lalu, akhirnya warga dengan pihak rumah sakit mengadakan pertemuan. Sayangnya, pertemuan antara warga di sekitar RS Paru Jember, di kawasan Lingkungan Jemberlor Kecamatan Patrang, dengan pihak RS Paru Jember, berlangsung a lot dan menemui jalan buntu.
Warga tetap menolak keberadaan RS Paru di lingkungannya, dan minta relokasi RS Paru tersebut. Tapi, pihak direktur RS Paru dan pengelola mengaku tidak berhak memberi keputusan.
Pertemuan yang buntu dan tidak menghasilkan kesepakatan ini, dinilai cukup mendapat kemajuan. Sebab, pihak RS Paru melunak dengan menyerap semua aspirasi dan protes warga itu untuk disampaikan kepada yang lebih berhak yakni di Propinsi Jawa Timur.
Direktur RS Paru Jember, Dr Arya Sidemen, di pertemuan yang dihadiri Kapolsek Patrang AKP Mustamu, Danramil Kapten Wahyudi, Lurah Anang Suprianto, ini menjelaskan kepada warga bahwa RS Paru secara administrative telah memenuhi Amdal dan standart lokasi RS. RS Paru juga telah melakukan standarisasi pengelolaan limah RS berdasar aturan yang berlaku.
Terkait janji perawatan bagi masyarakat lingkungan setempat yang berobat ke RS Paru, Direktur berjanji lagi untuk merealisasikannya dengan memberi kartu pra bayar atau system kartu khusus untuk berobat gratis.
“Yang persoalannya memang masyarakat tidak pernah tahu selama ini,” ujar Dr Arya.
Terkait jalan tembus samping belakang RS Paru yang baru diperbaiki menurutnya akan diserahkan kembali ke warga. Terkait protes agar tembok ditutup lebih tertutup maka pihak RS berjanji akan menutup dengan model tembok yang lebih tertutup.
“Sebenarnya model tembok dengan agak terbuka itu kita merasa lebih dekat dengan warga dan saling tegur sapa. Tapi kalau dibilang dapat menyebarkan virus ke pemukiman kita serahkan kembali ke warga,” ujarnya lagi.
Sejumlah tokoh yang hadir dalam pertemuan itu, Slamet, Sudarsono, Edy S, merasa tetap pada pendirian warga. Mereka tetap menolak keberadaan RS Paru dengan alasan lokasinya dekat dengan 2 sekolahan di kiri dan di blok depan dekat dengan perumahan penduduk.
Warga tetap bersikukuh bahwa demi anak cucu mereka tidak rela anaknya terkena TBC atau penyakit dalam lainnya akibat keberadaan RS Paru tersebut. “Menurut kita RS Paru ini tidak ada keuntungannya sama sekali,” ujarnya.
Warga tetap satu kata untuk merelokasi RS Paru tersebut. Soal teknis pemindahan diserahkan kepada pemerintah. “Kita tetap minta RS Paru dipindah. Masih banyak tanah pemerintah yang bisa dimanfaatkan yang jauh dari lokasi perumahan penduduk,” ujar Sudarsono. (RI-1)
Gencarkan Posyandu Melalui Quis

Jember – Pemkab Jember kembali gencar melakukan pos pelayanan terpadu (Posyandu) dengan sejumlah cara. Diantaranya dengan menggairahkan dan memacu semangat kader posyandu dalam menjalankan tugasnya.
Salah satu kiat yang bisa dilakukan yakni dengan cara diadakannya quis diantara mereka. Kegiatan quis seperti itu paling tidak akan dapat meningkatkan gairah dan kreasi dalam bekerja dan melaksanakan tugas para kader posyandu sebagai relawan dalam membantu memberikan layanan kesehatan dan pendidikan keluarga kepada masyarakat.
Hal ini mulai dilakukan pada hari Sabtu, 13 Desember lalu yang dimotori oleh Dinas Kesehatan. Quis yang juga disiarkan lewat media cetak dan elektronik ini, diharapkan akan semakin memperkenalkan aktivitas kader poysandu ke masyarakat luas.
Menurut Dr Olong Fajri Maulana, MARS, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, bahwa kegiatan quis sebagaimana yang sudah dilaksanakan, dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan kreatifitas kader posyandu yang kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu PKK dimasing-masing kecamatan.
Dengan demikian Olong berharap masyarakat yang menjadi sasaran posyandu, bisa hadir setiap bulan di posyandu. “Kadernya juga harus bisa lebih meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya, agar mutu pelayananya bisa meningkat pula,” tandasnya.(RI-1)
Gandeng Dinkes, Jamsostek Gelar Pengobatan Gratis
Jember - Dinas Kesehatan Kab. Jember bersama dengan PT Jamsostek Cabang Jember, beberapa hari ini menggelar pengobatan gratis untuk masyarakat. Pengobatan gratis yang dilaksanakan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, selama 2 hari ini, cukup mendapat sambutan dari masyarakat setempat, utamanya kalangan keluarga kurang mampu.
Pengobatan cuma-cuma yang dilakukan PT Jamsostek Cabang Jember ini bertujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu, khususnya yang pra sejahtera dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya. “Kita tahu bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan lebih, justru banyak warga masyarakat prihatin tidak dapat memenuhi kesehatannya, karena itu PT Jamsosek cabang Jember berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat yang memperlukan layanan pengobatan cuma-Cuma,”ujar Kepala PT Jamsostek Cabang Jember, Drs Salman Alfaris.
Menurut Salman, ada banyak keuntungan yang diperoleh lewat kegiatan pengobatan gratis yang diberikannya untuk masyarakat ini. Selain bisa membantu dalam hal pemenuhan kebutuhan kesehatan, masyarakat juga akan semakin mengenal PT Jamsostek tidak hanya sebatas tenaga kerja saja. “Seluruh lapisan masyarakat, umumnya di pelosok daerah, akan tahu, apalagi sasaran yang hendak dicapai tidak hanya tenaga kerja di sector formal, namun juga di sector informal, seperti buruh tani, nelayan, pekerja lepas di sector informal, pengayuh becak, tukang ojek maupun pedagang,” paparnya.
Selain memberi pengobatan cuma-cuma, Jamsostek juga mengajak semua pekerja mendaftarkan diri menjadi peserta Jamsostek. Sejumlah keuntungan ikut menjadi peserta JAmsostek diantaranya adalah perlindungan pada hari tua, kecelakaan kerja untuk pekerja, jaminan kesehatan dan lain sebagainya.
Sementara itu, Dr. Hari Pitono dari Dinkes Jember mengatakan, dengan kegiatan ini PT Jamsostek menunjukkan satu kepedulian yang tinggi dimana sebenarnya PT Jamsostek punya ikatan dengan tenaga kerja di setiap perusahaan yang ter-cover oleh Jamsostek. “Ini merupakan bentuk lain kerjasama yang baik untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. pemerintah menyediakan fasilitas Mobil Unit Pelayanan Dinkes dari UPTD Puskesmas dengan petugasnya yang terlibat,” katanya. (RI-1)
Perilaku Hidup Bersih Terus Disosialisasikan
Jember - Terwujudnya masyarakat yang sehat tidak terlepas dari perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan rumah tangga.
Sebab, rumah tangga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat. Dengan terciptanya kehidupan masyarakat yang sehat, hal ini merupakan modal utama dan aset yang sangat berharga untuk melaksanakan pembangunan.
Kepala Dinas Kesehatan Dr. Olong Fajri M, MARS saat acara pembekalan TP PKK Kabupaten mengatakan rumah tangga sehat merupakan aset atau modal utama pembangunan di masa depan yang perlu dijaga.
Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena gangguan berbagai penyakit. Karena itu adanya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi dan non-infeksi dapat dicegah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
PHBS katanya adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu mempraktikkan PHBS dengan tujuan memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Selain mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat PHBS, juga mewujudkan tatanan rumah tangga sehat.
Adapun perilaku sehat itu, meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI kepada balita, mempunyai air bersih (sarana yang memenuhi syarat), mempunyai jamban, lantai rumah kedap air, ada anggota keluarga yang ikut Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Askes), tidak merokok dan pemenuhan gizi seimbang (makan sayur dan buah setiap hari).
Sedangkan lingkungan hidup sehat meliputi, adanya sarana air bersih (sumur gali, sumur pompa tangan, perpipaan, PDAM), adanya jamban keluarga, adanya sarana air limbah/air pembuangan, memiliki tempat pembuangan sampah dan rumah bebas jentik nyamuk. (RI-1)
DBD Mulai Ngetrend
Jember – Demam Berdarah Dengue (DBD) pada akhir tahun ini mulai ngetrend. Angka penderita DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan (Diskes) mulai nampak ada peningkatan.
Menurut Humas Diskes, H. Yumarlis SH, pada bulan ini sudah ada 13 pasien yang dirawat di rumah sakit dan puskesmas di tiga kecamatan kota dan kecamatan Gumukmas.
“Kecamatan kota seperti KAliwates, Sumbersari dan PAtrang, masih menjadi daerah favorit untuk penyebaran nyamuk Aedes Aegifty,” ujarnya. Sehingga Diskes menghimbau warga perkotaan untuk lebih berhati-hati akan serangan nyamuk DBD tersebut.
Selain wilayah kota , kecamatan lain yang selama ini juga menjadi sasaran utama penyebaran nyamuk mematikan ini yakni,Gumukmas dan Kencong.
Untuk itu sejumlah camat diwilayah etrsebut dengan proaktif melakukan pendeteksian dini akan adanya penderita DBD. Selain melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serempak dan rutin, juga menugaskan perangkat desa untuk segera melaporkan jika ada penderita DBD.
Camat Kencong, Suwoto, misalnya, pada beberapa hari ini dirinya disibukkan dengan mengantar pasien DBD ke Puskesmas terdekat. Meski tidak banyak, Suwoto mengaku tidak ingin kecolongan akan merebaknya penderita DBD diwilayahnya.
Sementara itu data di Diskes sejak Januari 2008 lalu hingga pertengahan Nopember ini sudah ada 687 kasus. (RI-1)
Perangi DBD, Puskesmas Sumbersari Latih Jumantik

Jember – Guna mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menurut Kepala Puskesmas Sumbersari, dr. Edwina Purwastutik, diperlukan peran serta masyarakat yang melibatkan kader kesehatan seperti juru Pemantau Jentik (Jumantik).
Hal ini berguna membasmi atau memutus mata rantai penularan jentik nyamuk Aedes Aegypti sebagai pembawa virus DBD. Untuk itu pihaknya mulai melatih 30 personil jumantik diwilayahnya.
Dengan pelatihan Jumantik diharapkan dapat mensukseskan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).”Hasil kerja Jumantik selama ini memang telah menunjukkan hasil, sebab jumlah penderita DBD dari tahun ke tahun telah mengalami penurunan,” tuturnya usai memberi pengarahan personil jumantik, Senin (3/11).
Menurutnya para kader jumantik tersebut merupakan kader kesehatan yang berasal dari warga masyarakat setempat dan telah dilatih oleh Petugas Kesehatan mengenai cara pengendalian dan pencegahan penyakit DBD serta cara-cara pemeriksaan jentik di masyarakat.
Tugas pokok Jumantik adalah dengan mendatangi rumah penduduk, tempat-tempat umum dan tempat-tempat ibadah untuk melakukan pemeriksaan jentik secara berkala 1 minggu sekali. Selain itu, melaksanakan penyuluhan tentang 3 M (Menguras, Mengubur dan Menutup) kepada masyarakat, memasang dan mengisi Kartu Rumah Pemeriksaan Jentik, mencatat hasil pemeriksaan jentik ke buku register lalu melaporkan hasilnya ke koordinator / petugas kesehatan setempat.
Sementara itu, Suhartono, AMKL selaku Koordinator Jumantik dan sekaligus petugas penyuluh dari Dinas Kesehatan menerangkan, seorang Jumantik harus benar-benar teliti dalam memantau jentik, terutama di tempat-tempat yang sulit dijangkau dan yang kurang mendapat perhatian.
Oleh karena itu, untuk memudahkan tugas Jumantik, mereka akan dibekali peralatan kerja, yaitu lampu senter, buku catatan pemeriksaan jentik berkala dan PSN, dan juga Kartu Rumah Pemeriksaan Jentik.
Suhartono menegaskan, seorang Jumantik harus bisa memberikan pengarahan dan menggugah masyarakat atau warganya untuk melakukan PSN. “Melalui kegiatan 3 M diharapkan akan dapat meminimalisir jumlah penderita DBD”, tukasnya. (RI-1)
MCW Resmi Surati Konsil Kedokteran dan Menkes
Pasca Mala Praktik
Jember – Medical Corruption Watch (MCW) Jatim perwakilan Besuki di Jember, Isma Hakim Rahmat, bersama Aliansi Masyarakat Miskin (ARM) resmi mengadukan masalah dugaan mala praktek dan penyimpangan pelanggaran pelayanan medis atau kesehatan yang dilakukan oleh pihak RSUD dr Soebandi.
Hal ini dilakukan karena baik secara kelembagaan atau profesi pihak rumah sakit dan dokter yang menangani pasien Elok Prihatin, tidak segera bertangguungjawab akan musibah yang diterima pasien tersebut.
Aduanpun langsung ditujukan kepada Komite Disiplin Profesi Kedokteran RI, YLKI, dan Menkes di Jakarta. “Jika pasien Elok Prihatin tidak segera ditangani, maka surat tersebut bukan lagi sebuah ancaman, tetapi wujud perhatian kami pada korban-korban mala praktik,” ujar Isma.
Sesuai UU No 23 tahun 1992, pasal 15ayat (1) dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat ditakukan tindakan medis tertentu.
Dalam ayat dua jelas bahwa tindakan medis tertentu itu hanya dapat dilakukan jika berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan itu, oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli.
Tentu saja, sebelumnya perlu dilakukan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya. Termasuk kepada sarana kesehatan tertentu yang ada di RSUD tempat dilakukannya operasi itu.
“Kita melihat pula di Peraturan Pemerintah itu, bahwa ini menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Jika ada kelalaian dalam penyampaian data kesehatan bisa dilakukan tindakan disiplin tenaga kesehatan itu. Sesuai pasal 54 UU ini,” ujar Isma.
Dalam kasus Elok Prihatin, itu tindakan medis itu menjadi tanggungjawab pelayanan prasarana rumah sakit, selain profesi yakni dokter. Sebelum dilakukan tindakan operasi itu telah dibentuk tim.
Selain mengingatkan sejumlah lembaga penyelenggara kesehatan juga meminta bahwa masalah pasien Elok Prihatin yang hingga kini masih koma itu bisa dipidana sesuai pasal 80 ayat 1.
“Di sana disebutkan barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (RI-1)
LSM Desak RSUD Bertanggungjawab
Mala Praktek
Jember - Dugaan mala praktek yang menimpa honorer (rollstaat) di RSUD dr Soebandi bagian Keuangan ini langsung mendapat perhatian serius dari beberapa kalangan terutama dari Aliansi Rakyat Miskin (ARM) pimpinan Andik S, dan Isma HR, dari Medical Corruption Watch (MCW) Jatim perwakilan Besuki di Jember.
Menurut Andi, bahwa wadir pelayanan medis dr Bagas Kumoro, harus bertanggungjawab terhadap semua kejadian pelayanan yang tak beres di rumah sakit dr Soebandi selama ini. ARM tidak ingin kejadian yang menimpa Rohimatus, warga Jl dr Soebandi terjadi lagi karena akibat kran air macet tidak ada air di toilet, pasien diare ini mengalami keguguran.
“Kita meminta kepada dr Bagas Kumoro, untuk segera melakukan langkah – langkah. Karena semua penanganan itu atas tanggungjawab wadir pelayanan medis. Soal dokter yang menangani , tentu saja menjadi pertimbangan sendiri di internal RSUD,” ujar Andi.
Di sisi lain, Isma HR, dari MCW meminta agar pelayanan umum dan medis di RSUD diperbaiki. Analisis kesehatan, observasi harus benar – benar diperhitungkan. Sehingga akibat fatal tidak terjadi. Dia menghargai jerih payah dari dokter yang menyelamatkan pasien karena kode etik. Tapi, jika pelayanan di RSUD secara sistemik tidak baik atau mengalami ketimpangan akan berakibat kepada yang lain.
“Ya pihak yanmed harus tanggap dan segera meresponnya. Sudah tiga hari tidak sadar ini, harus segera diambil tindakan,” ujar Isma.
Di lain tempat sumber di RSUD sendiri menegaskan bahwa kasus itu kini sedang dalam penanganan serius pihak RSUD dan menjadi perhatian petinggi rumah sakit tersebut. Tapi, menurut sumber ini kenapa baru dirapatkan setelah 3 hari tidak sadarkan diri. Bahkan saking repotnya pihak RSUD akan menganggarkan dana khusus untuk membantu penanganan pasien Elok.
Sementara itu, wadir pelayanan medis dr Bagas Kumoro, tak berhasil dikonfirmasi. Termasuk dr Endang Makruf SpOG, yang menanganinya. Menurut sumber di RSUD dokter ahli kandungan ini buka praktek malam di Jl PB Sudirman di Klinik Margi Rahayu. (RI-1)
Usai Operasi Cesar, 3 Hari Tak Sadarkan Diri
Jember - Setelah diguncang isu praktik korupsi dugaan penyalahgunaan proyek fisik dan alkes miliaran rupiah, ditambah protes pelayanan kesehatan yang tak beres sehingga mengakibatkan pasien Rohimatus Andiyah keguguran, kini muncul dugaan mala praktek yang menimpa Elok Prihatin (31) warga Jl Manggis VI No 19 Kelurahan Jemberlor, Kecamatan Patrang.
Catatan yang didapat dari sejumlah sumber di RSUD dr. Soebandi diawali dengan sejumlah kronologis pasien Elok Prihatin seperti berikut ini. KAndungan Elok (honorer RSUD dr. Soebandi) yang menginjak di usia 9 bulan berjalan normal.
Dan pada hari Selasa (21/10) jam 22.00 WIB ada indikasi bayi didalam kandungannya tidak bisa dikeluarkan karena kondisi pasien lemah. Lalu pasien dibawa ke ruang HCU (High Care Unit) untuk dilakukan operasi caesar.
Awal masuk kadar gula 300. Setelah ditangani oleh dr Endang Makruf SpOG, bayi bisa dilselamatkan. Bayi laki – laki lahir normal, kendati sempat dirawat di ruang Perinatologi.
Anehnya, pasca operasi Elok Prihatin ini tiba-tiba mengalami kondisi ketahanan tubuhnya menurun atau drop. Ada indikasi bahwa pasien ini mengalami komplikasi Diabetes Melitus (DM), dan Hipertensi, termasuk gangguan pernafasan.
Kondisi seperti ini, yang seharusnya lebih awal disampaikan kepada keluarga pasien, menurut suami Elok, Wakik, ternyata tidak disampaikan.
“Hingga akhirnya istri saya pingsan dan tak sadarkan diri,” ujar Wakik. Sementara bayi yang dilahirkan pasien Elok ini sudah langsung dibawa pulang ke rumah oleh neneknya.
Dan ironisnya pingsannya pasien ini berlanjut hingga di hari ketiga ini. Dan kini pasien hanya ditunggui oleh suaminya. Wakik, saat ditanya wartawan, hanya terdiam tidak protes.
Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu soal kesehatan dan operasi itu. “Ahlinya ya dokter, saya tidak tahu,” ujarnya singkat.
Sementara pihak rumah sakit hingga berita ini diturunkan tidak bersedia berkomentar sama sekali. Baik Dirut –nya, dr Yuni Ernita maupun bagian pelayanan medis dr. Bagas Kumoro selalu menghindar ketika hendak dikonfirmasi. (RI-1)
Diskes Siapkan Ratusan kg Abate
Jember – Mulai merebaknya penyakit demam berdarah di awal musim hujan ini, membuat Dinas Kesehatan (Diskes) Jember mulai mempersiapkan persedian obat untuk Pemberantasan Nyamuk Aedes Aegypti.
Untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Diskes mempersiapkan logistik berupa Larvasida (ABATE) sebanyak 875 Kg, cairan Insectisida sebanyak 420 Liter, Swing Fogg (Mesin Fogging) sebanyak 35 buah dengan biaya operasional secara gratis.
Karena menurut Kadiskes Jember, dr. olong Fajri Maulana, wabah Deman Berdarah Dengue (DBD) yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti di musim penghujan ini benar-benar perlu diwaspadai.
Meski, jumlah korban DBD di Kabupaten Jember saat ini telah mengalami penurunan, namun masyarakat dihimbau untuk terus melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit mematikan ini.
“Kesadaran untuk selalu hidup sehat dan bersih merupakan langkah awal untuk menangkis segala bentuk penyakit, khususnya yang dibawa oleh virus,” jelasnya.
Olong menjelaskan semenjak ada program PSN dan GJB (Gerakan Jumat Bersih) jumlah kasus DBD menurun drastis. Jika sebelum ada kedua program tersebut jumlah kasus mencapai 1.873 kasus dan jumlah korban DBD sebanyak 29 pada periode September 2005-Agustus 2006.
Namun, sesudah dilakukan program PSN dan GJB selam kurun waktu 2 tahun, jumlah kasus mengalami penurunan, yaitu menjadi 821 kasus dan ada kematian sebanyak 3 kasus pada periode September 2007 – Agustus 2008.
Pada dasarnya, tidak ada satu daerah/kecamatan di Kab. Jember yang bebas dari ancaman penyakit ini. Kecamatan yang paling banyak kasus DBD-nya adalah Kec. Sumbersari, yaitu terdapat 131 kasus. Sedang kecamatan yang paling sedikit kasus DBD-nya adalah Kec. Umbulsari, Kencong dan Ambulu, masing-masing 16 kasus.
“Untuk daerah yang ringan kasus DBD-nya adalah Kec, Ledokombo, Sumberjambe dan Jelbuk, sedang untuk daerah yang endemis / sporadis adalah Kec. Bangsalsari, Panti, Sukorambi, Arjasa, Sukowono, Silo dan Tempurejo,” imbuh Olong.
Untuk langkah selanjutnya setelah menyediakan sejumlah logistik, pihaknya menghimbau untuk meningkatkan peran RT/RW dan Kader Posyandu sebagai petugas Jumantik untuk melakukan pemeriksaan jentik secara berkala dan melakukan pengisian kartu rumah serta penyuluhan kepada masyarakat.
“Nanti dilibatkan juga peran siswa SD sampai SMA untuk melakukan pemeriksaan jentik dirumahnya, kemudian mengadakan pelaporan kepada guru atau program PSN yang ada di sekolahnya,”, terangnya. (RI-1)
Pemkab Kembali Galakkan Jumat Bersih
Jember – Gerakan Jumat bersih yang pernah dilakukan jajaran Pemkab Jember beberapa waktu lalu akhirnya kembali digalakkan. Pasalnya memasuki musim hujan ini sudah mulai timbul kasus demam berdarah, meski belum membawa korban jiwa.
Menurut Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas, usai mengumpulkan pejabat di jajaran Pemkab Jember, Kamis (16/10), gerakan Jumat bersih harus kembali digalakkan.
“Karena dengan gerakan bersih-bersih lingkungan secara gotong royong tersebut ternyata cukup efektif dilakukan untuk mencegah merebaknya demam berdarah,” ungkapnya.
Jumat bersih menurut Kusen merupakan bagian dari gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Hal senada juga disampaikan Humas Dinas Kesehatan Jember, H. Yumarlies SH, menurutnya pada akhir 2008 ini mulai timbul kasus demam berdarah.
“Sudah ada 11 kasus yang timbul diakhir-akhir ini, jadi PSN sangat diperlukan,” ujarnya. Namun Yumarlies berharap kepada seluruh masyarakat Jember untuk tidak berpangku tangan dan menunggu aparat petugas saja.
Seharusnya setiap ada gerakan jumat bersih atau kegiatan kebersihan lain, masyarakat bahu membahu untuk turut membersihkan lingkungan. “Khususnya di genangan air bersih dimana tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypty,” imbuhnya.
Gerakan ini menurutnya bakal kembali dilakukan pada Jumat (17/10) besok. Dilakukan secara serempak di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Jember dengan disertai semua pejabat yang ada. (RI-1)
Pendonor Aktif Diberi Penghargaan
Jember - Kali kesekian Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Cabang Jember memberi penghargaan berupa piagam dan pin kepada para pendonor aktif yang selama ini telah dengan rutin rela menyumbangkan darahnya demi kepentingan kemanusiaan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para relawan ini karena perbuatannya adalah sangat mulia. Mereka memberikan darah dengan ikhlas demi kemanusiaan,” kata Dr Oemi Djauhari, Kepala UTD PMI Cabang Jember saat memberikan penghargaan kepada pendonor yang ke-10, 25 dan 50 kali di kantor PMI.
Oemi menyatakan bahwa acara ini diselenggarakan sekaligus untuk mempererat tali silaturrahmi antara para relawan pendonor dengan PMI sebagai unit pelayan masyarakat yang membantu dalam penyediaan darah.
“Kami akan terus bekerja keras, dan berhati – hati sebab PMI bisa menolong masyarakat tapi bisa juga membunuh jiwa, sehingga kami akan upaya melakukan yang terbaik demi menyelamatkan jiwa pasien,“ bebernya.
Sebagai seorang pendonor sebelum donor darah harus yakin bahwa darah yang diberikan adalah darah yang sehat dan aman. “Kendati anda merasa sehat, darah anda belum tentu sehat,” ujarnya.
Sehingga sebelum donor darah, Oemi menyarankan agar mengisi quesioner riwayat kesehatan secara umum untuk membantu pihak PMI dalam memutuskan bahwa darah orang ini aman untuk disumbangkan.
Di sisi lain Kepala Dinas Kesehatan Dr. Olong Fadjri yang juga turut hadir dalam acara tersebut, mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para pendonor yang telah memberikan sebagian anggota tubuhnya untuk menyelamatkan jiwa orang lain.
“Atas nama kemanusiaan dan misi PMI kami ucapkan terima kasih kepada para pendonor, sebab dengan partisipasi anda sekalian PMI dapat menyediakan darah untuk menyelamatkan orang lain dan tanpa bantuan itu kami tidak akan dapat melakukan tugas kami,“ bebernya.
Ia berharap, agar apa yang telah dilakukan pendonor dapat menjadi amal-ibadah yang dapat balasan dari Allah.
“Sebab dengan donor darah kita telah bersedekah untuk orang lain terutama bagi mereka yang sangat membutuhkan,” ujarnya.
Pendonor yang menerima penghargaan saat itu adalah Achmad Asjik (pendonor sebanyak 50 kali), Salim Umar (pendonor sebanyak 25 kali) dan Irma Savitri (pendonor sebanyak 10 kali).
Ditanya alasan menjadi pendonor aktif, Irma mengaku sadar orang lain banyak yang butuh. “Saya secara rutin donor darah, karena ingin membantu dan beramal kepada orang lain yang memerlukan darah,” ujarnya.
Mahasiswa semester akhir Unej ini, menambahkan keinginan menjadi pendonor aktif bermula dari aksi sosial saat di bangku SMA. Kala itu dia jadi anggota PMR di sekolah dan menggelar aksi donor darah di sekolah. “Di situlah, pertama kali saya donor darah sampai sekarang,” ujarnya. (RI-1)
Dinkes dan Disnakkan Terus Waspadai Flu Burung
Ket. Foto : Sosialisasi antisipasi merebaknya flu burung di Jember.
Jember – Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Peternakan Perikanan (Disnakkan) Jember sampai saat ini masih terus mewaspadai mewabahnya flu burung. Apalagi menurut Diah Kusworini, Kasie Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Jember, perilaku hidup sehat di negeri ini masih belum membudaya.
“Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar hingga saat ini belum disertai kesadaran akan perilaku hidup sehat,” ujarnya. Hal ini menyebabkan wabah virus H5N1 yang menimbulkan penyakit Flu Burung menyebar luas di masyarakat secara cepat. Berdasarkan hasil penelitian WHO baru-baru ini, Indonesia menduduki peringkat tertinggi untuk jumlah penderita Flu Burung.
Berpedoman pada fenomena tersebut, maka Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten berupaya untuk terus melakukan sosialisasi pencegahan penyakit dengan nama asing Avian Influenza tersebut.
“Oleh karena itu, koordinasi tentang Avian Influenza dengan instansi terkait terus kami upayakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat akan virus mematikan ini,” kata Diah usai membuka Pertemuan Koordinasi dan Review Avian Influenza, Kamis (18/09) di Aula Bakti Husada Dinas Kesehatan.
Selama ini, katanya, Dinas Kesehatan bersama Dinas Peternakan dan Perikanan telah melakukan monitoring unggas yang mati secara mendadak sejak tahun 2006 pada 16 kecamatan (16 desa/kelurahan) terhadap 253 ekor unggas. Tahun 2007 dilakukan monitoring terhadap 8 ekor unggas yang mati pada 17 kecamatan (17 desa/kelurahan) dan tahun 2008 monitoring dilakukan pada 205 ekor unggas yang mati mendadak pada 5 kecamatan (5 desa/kelurahan).
Perlu diketahui bahwa pada tahun 2008 ini ditemukan sebanyak 16 orang yang diduga terjangkit Flu Burung, namun setelah diadakan pemeriksaan ternyata bukan virus H5N1.
Saat ini Dinas Kesehatan juga telah melatih perwakilan dari PMI sebanyak 25 orang, dari PP Muhammadiyah sebanyak 136 orang untuk dijadikan sebagai relawan dan sudah tersebar di 17 kecamatan guna mengamati kematian unggas. “Setelah itu mereka harus melaporkan pada Dinas Kesehatan atau Dinas Peternakan dan Perikanan untuk diteliti lebih lanjut,” imbuhnya.
Di sisi lain dokter spesialis paru Jember, dr. Edy Nurtjahja Sp.P menyampaikan bahwa Avian Influenza merupakan jenis penyakit baru yang masih dalam proses penyelidikan.
Oleh karena itu, masyarakat harus tanggap untuk mengenali gejala-gejala infeksi virus itu. Misalnya, seseorang tiba-tiba mengalami demam tinggi hingga 38 derajat C atau lebih, sakit tenggorokan yang disertai batuk-pilek, sengaja atau tidak sengaja bersinggunga/tinggal di sekitar atau terkena kotoran/bangkai unggas, mengalami sesak nafas dan turunnya leukosit atau sel darah putih.
Bila di masyarakat ditemukan ada seseorang yang diduga terjangkit gejala-gejala tersebut, hendaknya di lakukan pemeriksaan pada rumah sakit yang merupakan rumah sakit rujukan. “Sebab ini adalah kebijakan nasional yang menunjuk rumah sakit tertentu sebagai rumah sakit rujukan penyakit Flu Burung, dan di Jember sendiri yang ditunjuk adalah RS. Dr. Soebandi,” jelasnya.
Ciri-ciri lain yang perlu diwaspadai adalah bahwa virus H5N1 ini dapat bertahan di air hingga 4 hari pada suhu 22 derajat C dan lebih dari 30 hari pada suhu 0 derajat C. Waktu masuknya virus ke tubuh hingga timbul gejala pada seseorang, rata-rata adalah 7 hari.
“Saat ini memang sudah ditemukan obat untuk penyakit itu namun masyarakat tetap harus mewaspadai geljala-gejala yang timbul,” imbuhnya. Melalui penelitian WHO disarankan orang dengan gejala-gejala tersebut dapat mengkonsumsi obat Oseltamivir yang setiap 75 mg kapsul bernilai Rp 18.000,-. Dan pengobatannya memerlukan waktu 5 hari, 2 kapsul per hari.
Langkah lain yang perlu dilakukan yakni jangan menyentuh unggas yang sakit atau mati, namun jika terlanjur, hendaknya cepat mencuci tangan menggunakan sabun. Selain itu, dianjurkan untuk mencuci tangan dan peralatan makan sebelum makan, memasak unggas dan telur hingga matang. Memisahkan unggas dari manusia dan memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat bila mengalami gejalanya.
“Jika terpaksa kontak dengan unggas, lindungi kulit, mulut, hidung, dan mata dari kontak dengan udara ataupun kotoran dengan menggunakan sepatu bot, sarung tangan, masker dan kacamata khusus,” tegasnya. (RI-1)
