Jember – Baru menginjak hari pertama pekan raya durian di Jubung, Mangli Jember, sudah dipadati pengunjung. Pengunjung yang datang ke pekan durian tersebut berasal dari sejumlha kota di sekitar Jember. Diantaranya dari Bondowoso, Banyuwangi dan Lumajang serta dari sejumlah kecamatan di Jember sendiri.
Mayoritas pengunjung, rata-rata ingin melihat berbagai jenis durian lokal Jember yang tidak kalah dengan durian montong dari luar negeri. Seperti diberitakan kemarin, sejumlah jenis durian lokal didatangkan dari Sumberjambe.
“Beberapa varietas lokal yang unggul tersebut diantaranya adalah durian si pelor, Pelai, Ronjengan, si Kasur, si Belanda dan si Fatima,” ujar Kadiskop Jember, Ir Mirfano. Beberapa jenis durian tersebut pada tahun lalu sempat memenangi kontes durian di Sumberjambe.
Yang selanjutnya durian lokal temuan petani setempat tersebut terus dikembangkan dan dibina oleh Dinas Pertanian Jember.
Sementara itu, penyelenggara pekan raya durian belum bisa memastikan jumlah durian yang laku hingga Sabtu siang (28/2). Karena pengunjung masih terus berdatangan dan memadati areal penjualan durian di bekas TPK Perhutani Jubung, Mangli.
Meski demikian Mirfano mengaku tidak khawatir akan kehabisan stock durian. Pasalnya ribuan durian sudah dipesan dan disediakan untuk memenuhi kebutuhan pembeli pada pekan raya durian tersebut. (RI-1)
RADAR INVESTIGASI
Baru Dibuka, Pekan Raya Durian Diserbu Pengunjung
Petani Siap Datangkan 1500 Durian
Jember – Persiapan pecan raya durian di outlet Jember, Jubung Mangli, sudah memasuki massa paripurna. Persiapan yang dilakukan sudah betul-betul matang. Bahkan salah satu koperasi Samarot yang menaungi sejumlah petani durian, siap memasok durian sebanyak 1500 buah.
Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Koperasi Jember, Ir. Mirfano, selaku pencetus kegiatan pecan raya tersebut. Adapun jenis durian yang akan dijajakan sekaligus dipamerkan antara lain durian si Pelor, Polai, Ronjengan, Kasur, si Belanda dan Fatima.
“Jenis durian lokal ini merupakan buah durian unggulan petani kecamatan sumberjambe, rasayanya luar biasa,” ujarnya.
Digelarnya pameran di Jember Outlet ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan para petani buah durian, selain itu juga membantu mempermudah pemasarannya.
“Dengan pasar raya durian ini kita berusaha menarik perhatian para maniak buah durian supaya datang ke Sumberjambe,” tegasnya.
Durian Sumberjambe memiliki varietas yang khas dan banyak diminati oleh masyarakat Jember, bahkan sangat diminati oleh penggemar durian tingkat regional.
“Kita mengajak masyarakat Jember dan di luar jember, supaya berkunjung ke Sumberjambe, karena di sini banyak buah durian yang memiliki rasa yang khas terutama durian-durian varietas unggul yang pohonnya berumur antara 100 sampai 200 tahun,” ungkapnya (RI-1)
Diskop Bakal Gelar Kontes Durian LAgi
Jember – Pasca digelarnya kontes Durian pada tahun lalu, Dsinas Koperasi (Diskop) Jember melihat ada lonjakan permintaan dan harga di Jember. “Dampak positifnya, ya harga tidak murah lagi, petani durian jadi lebih untung, bukan hanya pedagangnya saja yang untung,” ujar Kadiskop Jember, Ir. Mirfano.
Untuk itu pihaknya akan terus berupaya mempromosikan durian local Jember. Diantaranya dengan menggelar kembali kontes durian pada akhir Pebruari ini. “Rencana bakal kita gelar sepekan mulai tanggal 28 Pebruari mendatang,” tuturnya.
Digelarnya kontes tersebut menurut Mirfano mampu meningkatkan harga ditingkat petani, dulu yang biasa buah durian dibeli dipohon oleh tengkulak dengan harga murah, kini sudah dihargai dengan harga layak.
Sehingga keuntungan juga dirasakan olehpetani, bukan hanya pedagang saja. Padahal biasanya pedagang membeli dengan harga sangat murah dan menjual dengan mahal.
“Kontes kali ini sesuai rencana bakal digelar di halaman TPK Perhutani di Jubung, yang sudah direhab menjadi pusat oleh-oleh Jember,” imbuhnya. (RI-1)
Jual Raskin, Ketua RW Dipolisikan
Jember – Karena tertangkap basah menjual beras jatah warga miskin atau raskin, Ketua RW XII dusun Krajan desa Curahnongko kecamatan Tempurejo, dipolisikan oleh perangkat desa setempat.
Ketua RW XII, Samin, menjual sekitar 15 kg raskin ke took B. Nur tetangganya melalui jasa Surip, orang kepercayaannya. Mengetahui hal ini, salah satu anggota BPD Curahnongko, H. Zaenuri, menangkap pelaku dan melaporkannya ke Polsek Tempurejo.
“Sebelumnya teman-teman BPD menyidangkan pak Samin di BPD dan desa, selanjutnya mereka melaporkannya ke Polsek,” ujar Kades Curahnongko, Hj. Enik Ayu Nurhidayati SPd.
Enik mengaku menyayangkan dari perbuatan Ketua RW tersebut. Karena menurut Enik hal tersebut mencoreng nama baik pemerintahan desa dibawah kepemimpinannya.
“Dia perangkat, seharusnya memberi contoh yang baik, ini kok malah menujual beras jatah warga miskin, keterlaluan,” imbuhnya.
Selanjutnya, Enik menyerahkan sepenuhnya proses hokum ke Polsek Tempurejo. “Biar Polsek yang tangani, kami hanya berharap Polsek menangani dengan srius biar ini menjadi pelajaran bagi pelaku dan shock therapy kepada perangkat lainnya,” tegas Enik. (RI-1)
Inflasi Tinggi, TPID Kembali Konsolidasi
Jember - Untuk menciptakan perekonomian Kabupaten Jember yang berkelanjutan dengan tingkat inflasi yang rendah dan stabil, maka di perlukan koordinasi pengendalian inflasi itu sendiri. Untuk pengendalian tingkat inflasi di Jember, Bank Indonesia Cabang Jember dan Asisten II Pemkab Jember bersama dengan Deputi Pemimpin Bank Indonesia Surabaya, beberapa kali melakukan konsolidasi dan koordinasi.
Menurut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Jember, Drs. H Edy B. Susilo M.Si, Pemkab akan selalu mendukung dan mem-back up keberadaan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
“Hal ini akan memberikan manfaat dalam rangka pengumpulan data dan analisa data kemudian sampai dengan pemberian rekomendasi, sehingga dengan adanya Tim ini minimal bisa mengerem laju inflasi pada kondisi stabil, tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu rendah yang bisa menyebabkan terjadinya deflasi,” jelasnya.
Bila hal itu bisa dilakukan, kata Edy, maka hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan otonomi daerah akan dapat berkembang dengan baik. “Dengan demikian, anggota Tim ini itu harus selalu memonitoring, mendata dan mengkaji untuk dianalisa bersama untuk berbagai kepentingan sesuai dengan kebutuhan daerah,” terangnya lagi.
Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi, misalnya harga – harga kebutuhan pokok, termasuk juga nilai UMR, harga BBM dan lain sebagainya. Bila indikator – indikator tersebut stabil, maka laju inflasi tentu juga dapat ditekan atau minimal tidak meningkat terlalu tajam.
Sementara itu, menurut Pemimpin Bank Indonesia Jember, A. Rasjid Madjid, dalam UU No. 4 tahun 2003 tentang Bank Indonesia, Bank Sentral, yaitu BI dalam mengukur stabilitas rupiah salah satu indikatornya adalah tingkat inflasi. “BI mengajak kerjasama dengan instansi terkait di Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten untuk bersama-sama menekan inflasi agar menjadi terkendali sesuai dengan harapan Pemerintah,” urainya.
Rasjid mengatakan, Jember merupakan salah satu kabupaten yang ada di propinsi Jawa Timur yang tingkat inflasinya relatif tinggi, (tingkat inflasi tertinggi adalah Madiun, red). Hal ini dikarenaka letak strategis Kabupaten Jember yang berada di wilayah timur, sehingga banyak barang-barang yang didistribusikan dari pusat kota Surabaya ke Jember mempunyai jarak tempuh dan biaya yang cukup tinggi.
“Disamping itu juga sarana dan prasarana jalannya yang masih belum memungkinkan untuk bisa di lalui secara cepat,” kilahnya.
Ia kemudian menjelaskan, salah satu kendalanya adalah adanya musibah Lapindo yang menyebabkan stagnasi lalu lintas, sehingga untuk mencapai Jember, distribusi barang dari Surabaya ke Jember memerlukan waktu 7 jam, ditambah lagi biaya yang tidak murah. (RI-1)
Jember Dapat Jatah PNPM 85 miliar
Jember – Kabupaten Jember pada tahun 2009 ini bakal menerima jatah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sebesar Rp. 85 milyar. Dana sebanyak itu bakal disebar di 23 kecamatan.
Dengan rincian pembagian dana Rp. 68 milyar untuk PNPM Mandiri Pedesaan dan PNPM Kota. Sementara untuk infrastruktur desa, juga bakal dikucuri dana sebesar Rp. 12 milyar.
Jatah dana PNPM yang diterima Pemkab Jember tahun ini naik jika dibandingkan penerimaan tahun lalu. “Tahun lalu Pemkab Jember hanya mendapat jatah Rp. 15,5 milyar,” ujar Kepala Bappekab Jember, Mudhar Syarifudin.
Mudhar juga menjelaskan bahwa dana Rp. 85 miliar tersebut merupakan dana dari Pemerintah Pusat. Untuk Pemkab Jember sendiri sesuai dengan juklak dan juknisnya, harus menyediakan dana pendamping sebanyak 20% dari dana pusat tersebut.
Dana sharing sebesar 20 % tersebut menurutnya senilai dengan Rp. 13,6 milyar. Hal senada juga disampaikan Kepala Bappemas Jember, Suhardiyanto, menurutnya dana sebanyak itu nantinya bakal digunakan untuk tiga kategori PNPM, yaitu PNPM infrastruktur, PNPM MP untuk kawasan pedesaan dan PNPM kota . (RI-1)
Bank Gakin Jember, dari 1,4 miliar Jadi 14,4 miliar
Jember - Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) atau Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) Jember meningkat pesat 3 tahun terakhir ini. Setidaknya, lembaga keuangan yang memilih nasabahnya dari masyarakat ekonomi sangat lemah (miskin) itu mampu memutar keuangannya dari Rp 1,4 Milyar menjadi Rp 14,4 Milyar dalam waktu yang relatif singkat bagi ukuran lembaga keuangan.
Kepala Seksi (Kasi) Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop dan UKM) Kabupaten Jember, Agus Edhi Susanto mengatakan prinsip yang dijalankan pada sistem Bank Gakin ini adalah penguatan kelembangaan, tanggung renteng, kedisiplinan dan pembangunan solidaritas antar sesama nasabahnya. “Bank Gakin bisa berjalan, karena kami menerapkan sistem tanggung renteng dan solidaritas antar sesama nasabah,” katanya.
Selain itu, Bank Gakin yang membidik usaha miko masyarakat itu dioperasionalkan pada kelompok masyarakat (pokmas) yang terdiri atas 6 orang. Asas yang dibangun adalah solidaritas, sehingga pokmas dibentuk dilingkup dusun dan desa saja. “Anggotanya terdiri atas pokmas yang dibentuk di dusun-dusun masing-masing desa,” ungkapnya.
Agus mengatakan, yang dimaksud dengan tanggung renteng adalah bahwa setiap anggota bertanggung jawab untuk menanggung resiko. Jika salah satu dari anggota pokmas tak mampu melunasi tunggakan uang yang dipinjamnya dalam seminggu, maka 5 orang lainnya harus berusaha melunasinya (tanggung renteng).
“Jadi satu orang saling memikul beban anggota kelompok lainnya. Angsuran selama seminggu bisa dicicil selama 10 kali. Hal inilah yang membuat Bank Gakin Jember bertahan, karena semua anggotanya berkomitmen terhadap kesuksesan usaha kelompoknya,” jelasnya.
Bank Gakin yang pada tahun 2005, nasabahnya hanya berjumlah 100 orang yang difokuskan di 2 dusun. Setelah berjalan 3 tahun, nasabahnya menjadi 4.500 orang tersebar di 34 dusun di berbagai desa kelurahan dan desa miskin. Sedangkan perkembangan modalnya selama 3 tahun itu juga berputar cepat dari Rp 1,4 Milyar menjadi Rp 14,4 Milyar pada akhir tahun 2008. (RI-1)
Probolinggo Juga Tertarik Bank Gakin Jember
Jember – Suksesnya Dinas Koperasi Jember menelurkan gagasan pembentukan Bank Gakin atau Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM), ditambah sukses juga dalam pengelolaannya sehingga mampu mengangkat harkat pengusaha kecil, membuat Kota Probolinggo tertarik untuk tuurut mengembangkannya.
Terbukti rombongan Komisi II DPRD Kota Probolinggo berkunjung ke Jember dan bermaksud belajar atau melakukan studi banding ke Pemkab Jember. Pasalnya, penanganan LKMM di Kota Probolinggo cenderung menghasilkan kredit macet, sehingga diperlukan perubahan sistem yang setidaknya menyamai Bank Keluaga Miskin (Gakin) Jember.
Salah satu anggota komisi II Kota Probolinggo, Matsumarwo, mengatakan, pengelolaan LKMM atau Bank Gakin di Jember cukup bagus. Lantaran, selain tanpa agunan, kredit macetnya nol persen.
“Sebenarnya kami juga meluncurkan program yang hampir mirip dengan Bank Gakin di Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo, tapi sampai dengan saat ini terkendala adanya kredit macet sehingga Lembaga Keuangan kami tidak bisa berjalan lancar,” katanya.
Hal serupa diungkapkan pula oleh Merwi, staf Dinas Koperasi, Energi Negara, Industri dan Perdagangan Pemkot Probolinggo. Ia mengatakan, Pemkot Probolinggo memiliki dana kredit yang bersifat terus dengan total Rp 2,6 Milyar. Dialokasikan sebagai bantuan kredit usaha mikro masyarakat.
“Awalnya eksis, tapi setelah berjalan selama 2 tahun dan kami perbaiki manajemennya, tapi masih saja terjadi kredit macet,” tukasnya.
Oleh karenanya, pihaknya ingin mengetahui lebih jauh soal seluk-beluk mekanisme sistem Bank Gakin Jember yang dikelola oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Jember. “Kami ingin penjelasan lebih jauh mengenai mekanisme manajemennya dan cara pendekatan pada masyarakat supaya mau berpartisipasi dalam kelompoknya,” ungkapnya.
Menurut Asisten Perekonomian Pembangunan Pemkab Jember, Edy Budi Susilo, yang menerima secara langsung rombongan tersebut menjelaskan, perkembangan Bank Gakin Jember saat ini cukup pesat.
Nasabahnya pun semakin melejit, dari 100 orang, kini telah mencapai 4.500 nasabah selama 3 tahun terakhir, terhitung mulai tahun 2005. Yang menjadi nasabah, katanya, dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. “Untuk sementara ini, kalau pola-polanya sudah banyak di daerah lain, tapi Bank Gakin ini mungkin baru satu-satunya di Jawa Timur, bahkan di Indonesia ,” tuturnya.
Lebih lanjut Edy menandaskan, tidak menutup kemungkinan kalau hal ini juga bisa diterapkan di Pemkot Probolinggo yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik kota tersebut dengan sasaran dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. “Bank Gakin ini dilakukan dengan sistem bergulir dan tanggung renteng,” cetusnya.
Sementara itu, Kasi Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kab. Jember, Agus Edhi Susanto SE, yang juga hadir pada acara itu menjelaskan, prinsip tanggung renteng Bank Gakin menitikberatkan pada pembangunan solidaritas para nasabah. Maksudnya, bila salah satu anggota kelompok masyarakat (Pokmas) yang terdiri 6 orang itu gagal membayar tanggungannya selama seminggu, maka 5 anggotanya bertanggung jawab memikul tunggakannya. (RI-1)
BRI Kucurkan 34 Miliar Untuk KUR
Jember - Pengucuran kredit untuk rakyat(KUR) tanpa jaminan di seluruh Kecamatan di Kabupaten Jember mencapai Rp 34,6 Milliar hingga akhir Desember 2008 kemarin.
Target pengucuran dana di tahun 2009 ini diprediksi akan bertambah. Di akhir tahun 2008 kemarin, dana sebesar itu diberikan kepada Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 12.801 orang.
Adanya kemudahan kredit bagi pengusaha kecil ini akan semakin tinggi permintaannya karena syarat mendapatkan kredit itu sangat mudah. Usaha itu minimal harus berjalan selama 6 bulan.
“Baru setelah 6 bulan mereka mendirikan usahanya, kita berikan kredit KUR itu, dan itu syaratnya KUR bisa dicairkan,” ujar Bambang Iriyanto, Kepala BRI Cabang Gajah Mada Jember.
Dari jumlah Rp 34,6 miliar itu ada 7 wilayah Kecamatan yang tingkat NPL nya sudah di atas 3 %. Sehingga memungkinkan wilayah kecamatan lain meningkat, dan sasaran meningkat lagi.
Dikatakan Bambang Irianto, bahwa pengucuran kredit ini terlepas dari bantuan kredit sebelumnya yang sudah pernah dikucurkan pemerintah. Sistemnya menggunakan cek list pengusaha yang belum dan sudah mendapat bantuan Kredit tanpa jaminan ini. Termasuk di luar sasaran dari Bank Kredit Desa (BKD).
“Itu yang mengeluarkan adalah sistem informasi dari Bank Indonesia,” ujarnya.
Di tahun 2009 ini diperkirakan sasaran UMKM akan meningkat, dari 12.801 pengusaha diperkirakan target bulan Maret 2009 saja akan ada peningkatan 8.500 UMKM. (RI-1)
Seribu Rumah Tidak Layak Huni Juga Dibantu
Jember – Kedatangan Menteri Sosial (Mensos), Bahtiar Chamsah ke Jember, betul-betul dimanfaatkan untuk penyaluran berbagai macam bantuan. Mulai dari bantuan pondok pesantren, usaha kecil menengah dan terakhir untuk rumah tidak layak huni.
Bahtiar menegaskan untuk rumah tidak layak huni dikucuri bantuan senilai Rp. 2,5 miliar. “Dengan bantuan 2,5 miliar tersebut saya yakin Pemkab Jember mampu memanfaatkannya untuk perbaikan 1000 rumah menjadi rumah layak huni (RLH),” tegasnya.
Bantuan tersebut sebagai wujud perhatian Pemerintah Pusat kepada Pemkab Jember yang telah sukses melaksanakan program bedah rumah. “Dan sampai saat ini informasi yang kami terima sudah mencapai 46 ribu rumah, dan per rumahnya hanya perlu Rp. 2,5 juta,” imbuhnya.
Padahal untuk kabupaten atau kota lain di luar Jember, setiap rumahnya bias mencapai Rp. 10 juta. Sehingga hanya mampu dinikmati beberapa unit rumah saja. Sementara di Jember untuk satu rumahnya hanya Rp. 2,5 juta sehingga jumlhanya bias mencapai 1000 unit rumah milik warga kurang mampu.
Dengan bantuan tersebut, diharapkan rumah yang sebelumnya tidak memiliki kelayakan untuk dihuni, menjadi lebih baik dan layak huni. (RI-1)
Mensos Siapkan 24 T Untuk KUR
Jember – Selama berkunjung ke Jember, Mensos Bahtiar Chamsah, menyalurkan sejumlah sumbangan ke tokoh agama dan sosial. Untuk bidang sosial, Bahtiar, mengaku siap menekan angka kemiskinan di Indonesia.
Dengan program sosial yang dilaksanakan itu, katanya, angka kemiskinan di tingkat nasional bisa menurun 2 tahun terakhir dari 37 juta penduduk yang hidup di garis kemiskinan pada tahun 2007 berhasil ditekan menjadi 35 juta hingga akhir 2008.
“Kemiskinan itu tidak bisa ditekan dengan iklan dan pidato-pidato saja, tapi harus dengan kerja keras dengan pelaksanaan program yang jelas dan terarah,” ujarnya. Bahtiar menyatakan program unggulan yang kini sedang berjalan, diantaranya program yang sifatnya bantuan tunai, pemberdayaan dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Program bantuan tunai, antara lain Bantuan Tunai Langsung (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH) dan beras miskin (raskin). Sedangkan program yang diorientasikan guna pemberdayaan masyarakat adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan alokasi dana Rp 1-3 Milyar per kabupaten/kota.
Sedangkan KUR diprioritaskan pada masyarakat miskin yang memiliki usaha di sektor riil. Nilai dananya dalam skala nasional tahun 2008 sekitar Rp 12 Triliyun, lalu pada tahun 2009 meningkat menjadi sekitar Rp 24 Triliyun.
“KUR ini diberikan pada masyarakat miskin dalam bentuk pinjaman lunak agar orang-orang miskin bisa mengembangkan usahanya dan mau berusaha,” tengaranya
Di kesempatan tersebut Mensos H. Bachtiar Chamzah minta baik pemerintah pusat maupun daerah punya kewajiban mengentaskan kemiskinan. Ia juga meminta agar pemerintah daerah mengajarkan masyarakat untuk tidak berpangku tangan dan bangga dengan menjadi peminta-peminta bantuan.
“Rakyat harus diajarkan untuk bekerja keras. Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Rakyat jangan sampai bergantung kepada pemerintah. Tugas pemerintah adalah memfasilitasi dan mendorong serta menstimulasi rakyat untuk mandiri dan tidak berpangku tangan,” ujarnya. (RI-1)
Produksi Kakao Jember Menurun
Jember – Produksi kakao Jember semakin hari semakin menurun saja. Padahal sebelumnya Jember merupakan penompang utama produksi kakao Indonesia yang dikirim ke Amerika dan eropa.
Kepala Kantor Penelitian Kopi dan Kakao Jember, DR. Surip Mawardi menyatakan bahwa saat ini produksi kakao Kab. Jember cenderung menurun.
“Produksi kakao dari PTP saat ini tidak banyak, hanya sekitar 5.000 ton saja, sedang yang lainnya dari kakao perkebunan rakyat, sehingga total produksinya adalah sekitar 600 ribu ton,” ungkapnya.
Dirinya menyayangkan kondisi yang terjadi saat ini, pasalnya hampir seluruh Negara pemasok kakao di dunia juga sedang mengalami penurunan. Untuk itu pihaknya berupaya keras untuk turut meningkatkan produksi dalam negeri.
Apalagi bukan hanya permintaan luar negeri saja yang terus meningkat. Namun juga permintaan dalam negeri. Dengan begitu, jika produksi mampu meningkat, maka bakal mampu mendatangkan devisa Negara maupun PAD bagi kabupaten Jember.
“Apalagi sampai saat ini kualitas kakao yang diincar pasar dunia sebagian besar berasal dari Indonesia,” imbuhnya. (RI-1)
HArga Karet Terus Menurun
Jember - Krisis komoditi ekspor rupanya terus terjadi, menyusul beberapa Negara di Amerika dan Eropa mengurangi kuantitas impornya terhadap bahan baku asal Indonesia . Setelah minyak kelapa sawit dari Indonesia mengalami penurunan harga cukup drastis, kini giliran komoditi karet asal Indonesia juga terkena dampaknya.
Menurut Koordinator Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Wilayah Besuki, Probolinggo dan Lumajang, Herlambang, penurunan harga yang terjadi saat ini memukul produsen karet, khususnya PTPN 12 yang selama ini eksis memasok kebutuhan karet yang runtuh.
Pasalnya berlangsung secara terus menerus hingga pada awal 2009 ini. Padahal penurunan sudah terjadi sejak akhir tahun 2008 lalu.
“Komoditi karet, penurunannya sangat signifikan karena konsumen terbesar karet dunia adalah Amerika, sehingga saat Amerika menurunkan demand (permintaan, red) karet, maka Negara pengekspor karet seperti Indonesia otomatis mengalami penurunan ekspor”, paparnya.
Bahkan menurut Herlambang, disbanding dengan harga tembakau, harga karet dan kopi masih lebih rendah, sebab harga tembakau justru mengalami kenaikan.
Herlambang memperkirakan, krisis financial yang melanda negara-negara Eropa dan Amerika akan berlangsung relative lama dan dampaknya akan sangat terasa di Indonesia pada tahun 2009 ini.
Perlu diketahui, menurut Herlambang harga karet di tahun 2008 pernah mencapai level tertinggi 3,15 dollar AS per kilogram (kg) atau Rp 28.914 per kg yakni di bulan Juli lalu.
Kemudian harga terus merosot menjadi 1,82 dollar AS atau Rp 17.998 per kilogram di bulan November 2008. "Awal tahun ini, tren harga terus menunjukkan penurunan cukup tajam yakni 1,35 dollar AS atau Rp 12,285 per kg," katanya.
Alex menambahkan, harga tersebut merupakan standar harga di pasaran internasional. Dengan demikian, harga jual-beli di tingkat petani dipastikan lebih rendah dari angka tersebut. (RI-1)
UKM Tak Tersentuh Krisis Global
Jember - Peningkatan perekonomian melalui sector riil yang tidak terpengaruh oleh krisis global salah satunya adalah meningkatkan daya saing Unit Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Ke depan Pemerintah Jember akan mengoptimalkan pemberdayaan UKM di tahun 2009 ini.
Kepala Disperindag Pemkab Jember, Ir Hariyanto, MM, mengakui itu. Kata dia ada 3 komponen dalam peningkatan dan pengembangan bidang kerakyatan diantaranya pemilihan bahan baku , dan teknologi.
Dengan penerapan teknologi misalnya UKM dan sentra industri kecil yang bekerja sama dengan Universitas Jember sebagai institusi pendidikan akan menghasilkan pelatihan tepat guna.
Salah satu contoh adalah kepada nelayan Puger. Pelatihan membuat tepung ikan dan abon ikan dengan teknologi sederahana akan membantu masyarakat terhindar dari pengaruh krisis global. Untuk itu pihaknya telah menggandeng Politeknik Negeri Jember sebagai mitra.
Komponen yang terakhir adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Untuk itu pemerintah telah menjalin kerjasama dengan beberapa universitas dan lembaga terkait untuk pengembangan program ekonomi kerakyatan itu lebih optimal.
Menurutnya, krisis ekonomi global selama ini diakui atau tidak, belum bisa menyentuh sector ekonomi riil. Untuk memperkuat itu, maka sector UKM sangat efektif memperkuat ketahanan ekonomi bangsa.
Setelah pengembangan sentra industri kecil dan menengah akan diupayakan ke penguatan permodalan. Untuk mencapai itu semua kerjasama dengan pengusaha juga tidak ditutup.
Hal itu akan menambah spread pasar produk UKM tersebut. “Kami akan bekerjasama dengan pengusaha untuk memasarkan hasil – hasil produksi UKM dan industri kecil itu. Sebab prospeknya lebih berpeluang,” ujarnya. (RI-1)
Pengembangan Ternak Terus Dipacu
Jember – Hingga saat ini, Dinas Peternakan dan Perikanan Jember terus memacu pengembangan populasi ternak sapi di Kabupaten Jember. Alhasil ada peningkatan populasi meski belum begitu besar. Sampai akhir tahun 2008 lalu populasi ternak di Jember sudah mencapai 210.000 ekor setiap tahun.
Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Jember, Ir Dalhar, daging ternak yang dihasilkan, selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, sebagiannya lagi juga dikirim ke luar daerah.
Upaya pengembangan ternak sapi maupun kambing di Kabupaten Jember ini, katanya, sudah sejalan dengan program pemerintah pusat, dalam hal swasembada daging.
Dari data yang ada, khusus populasi sapi potong yang ada di Jember sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal. Dan saat ini pihaknya terus berusaha meningkatkan produksinya agar mampu memnugi kebutuhan nasional. Mengingat untuk hidup sehat dibutuhkan 7,6 kg/kapita/tahun.
Selain mmenuhi kebutuhan lokal produksi Jember juga memenuhi kebutuhan beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Pengiriman ternak dari Jember ke daerah lain ini, setiap tahunnya berkisar antara 23 ribu sampai dengan 25 ribu ekor.
Dari program pengembangan peternakan di jember juga mendapat hasil lain berupa susu. Meski masih sangat sedikit, rata-rata produksi susu yang dihasilkan dari setiap ekor sapi dalam setiap harinya berkisar antara 10 sampai dengan 15 liter.
Untuk jumlah sapi perah yang dikembangkan di Kabupaten Jember, hingga saat ini baru sebanyak 500 ekor. “Dan setiap dua hari sekali, kita sudah mengirimkan susu ke Indo-Lacto sekitar 200 sampai dengan 500 liter per duahari,” jelasnya. (RI-1)
Setahun, BI Amankan Upal 200 juta
Jember - Kabupaten Jember memang diindikasikan sebagai daerah yang cukup potensial untuk peredaran uang palsu (upal). Selama setahun lalu (2008), Bank Indonesia (BI) Jember telah menemukan sebanyak 7.000 lembar lebih uang palsu senilai Rp 205 juta.
Menurut Pimpinan BI Jember, A. Rasyid Madjid, peningkatan jumlah uang palsu yang beredar di 4 kabupaten, yakni, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi sudah begitu besar, namun perlu diantisipasi agar tahun 2009 tidak semakin tinggi.
Dengan jumlah upal sebanyak itu, katanya cukup merugikan masyarakat kalangan menengah kebawah yang awam akan upal. Meski jika dibandingkan dengan totally jumlah uang yang diedarkan oleh BI Jember yang meliputi 4 kabupaten tersebut, tidak terlalu besar. “Namun tetap merugikan masyarakat,” ujarnya.
Ditanya mengenai daerah terbanyak uang palsunya, Pimpinan BI tersebut mengatakan bahwa Jember-lah yang paling banyak indikasi beredarnya uang palsu.
Rasyid sendiri jugamenegaskan bahwa fenomena uang palsu ini tidak dapat dihilangkan. “Hanya bias dikurangi saja, jadi kami dari Bi berwenang turut menekan peredaran upal tersebut,” imbuhnya.
Rasyid juga mencontohkan apa yang terjadi di Amerika Serikat, di negara maju ini uang palsu juga ada.
Untuk mengantisipasi peredaran uang palsu ini, pihak BI akan selalu bekerjasama dengan pihak kepolisian. “Kami akan bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk mengurangi / menekan jumlah uang palsu,” ujarnya.
Untuk itu, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk menekan peredaran uang palsu di wilayah Kab. Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi dengan cara segera melaporkan ke Polsek terdekat dan jika mengetahui adanya pelaku yang mengedarkan uang palsu. (RI-1)
Persediaan Daging Hingga Tahun Baru Aman

Jember - Memasuki akhir tahun 2008 dan Tahun Baru 2009, diperkirakan ketersediaan daging tidak akan menghadapi masalah. Dari pantauan di beberapa pusat perbelanjaan di Kabupaten Jember, untuk persediaan daging diprediksi tidak akan terjadi kekurangan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tidak terganggunya stok daging saat menjelang Tahun Baru ini, menurut, Ir Dalhar, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), Kabupaten Jember, karena pihaknya sudah melakukan antisipasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Sebagai penghasil ternak sapi, masyarakat Jember tidak usah khawatir akan kekurangan daging ternak, untuk kebutuhan konsumsi masyarakat kita sediakan dan siap untuk dikonsumsi masyarakat Jember sebanyak 210.000 ekor sapi,” katanya.
Ketersediaan ternak di Jember sendiri karena disebabkan sejumlah faktor yang diantaranya kondisi alam yang terdiri dari kawasan pertanian, perkebunan bahkan hutan, sehingga berpotensi untuk pengembangan peternakan dan sekaligus bisa menjadi sentra ternak sapi di Jawa Timur.
Di Jember-pun menurut Dalhar, tidak hanya sekedar menjadi sentra ternak saja. Namun dirinya menjamin bahwa ternak yang disediakan untuk kebutuhan masyarakat dalam merayakan Natal dan Tahun Baru itu, sudah dinyatakan bebas dari penyakit.
“Walaupun begitu, kami minta kepada masyarakat apabila ditemukan ada tanda-tanda ternak sakit dan membahayakan untuk dikonsumsi, segeralah masyarakat melaporkan kepada Dinas Peternakan dan Perikanan atau petugas yang ada di kecamatan, karena takut ada daging ternak dari luar kota Jember,” imbaunya. (RI-1)
Berkat PKH, Warga Miskin Jadi Mandiri

Jember - Pemberdayaan masyarakat sangat miskin melalui Program Keluarga Harapan (PKH) menunjukkan hasil nyata.
Dengan dana PKH yang dikucurkan membuat Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Desa Balung Kulon telah berdaya.
Bantuan Departemen Sosial sejak 2007 ini membuat warga RTSM setempat jadi mandiri dengan aneka usaha baru didirikan untuk menunjang ekonomi keluarga.
Koordinator Pendamping PKH Balung, Rokhmat Saefudin (34), mengatakan sebelum ada PKH, RTSM di Desa Balung Kulon banyak bekerja sebagai buruh tani dan buruh serabutan.
Tapi setelah Depsos menggulirkan dana PKH, RTSM di sana kini hidup mandiri. Para ibu RTSM membuka usaha baru dengan menciptakan usaha sendiri diantaranya usaha warung bakso, warung kopi, pengrajin tusuk sate, penjual ampelas, pengrajin tasbih, pengrajin tikar dan sebagainya.
Rokhmat, asal Surabaya ini mengatakan setiap bulan dia selalu mengadakan pertemuan rutin untuk mendengarkan kisah pengalaman RTSM dalam mengelola usaha baru mereka.
“Itu akan jadi motivasi tersendiri bagi anggota lain agar terpacu meniru dan berkarya,” ujarnya.
Selain bidang pemberdayaan ekonomi, anggotanya juga dimnta meningkatkan taraf kesehatan. Caranya dengan mengaktifkan posyandu di daerah masing – masing. Untuk bidang pendidikan, pihaknya secara rutin 2 kali seminggu mengadakan pelatihan baca tulis.
Bertempat rumah warga setempat dibentuk dua kelompok beranggotakan masing – masing 25 orang untuk latihan baca tulis. Pesertanya mayoritas berusia 45 tahun ke atas.
Salah seorang PKH Desa Balung Kulon, Sumiati (38), mengaku ekonominya sejak ada PKH menjadi terbantu.
Sebagai buruh kerja di pengrajin tikar dia kini bisa membeli alat penganyam tikar sendiri. “Alhamdulillah, sekarang saya bisa membuat tikar sendiri dijual ke pasar,” ujarnya.
Warga lain, Siti Romlah (35), kini telah punya warung bakso berkat PKH. Laba bersihnya kini sudah dapat Rp 50 ribu per hari.
“Kalau ada bantuan lagi, saya ingin kembangkan lagi,” ujarnya.
Sejak Juli 2007, Departemen Sosial meluncurkan Program Keluarga Harapan dengan memberikan uang tunai kepada RTSM yang sedang hamil, memiliki balita atau anak usia sekolah sesuai data BPS selama 6 tahun diberi anggaran APBN yang dikirim via PT Pos sebesar Rp 300 ribu tiap bulan. (RI-1)
Tak Ada Mitan, Tungku-pun JAdi
Jember - Minimnya pasokan minyak tanah (mitan) ke 3 kecamatan kota di Jember, naga-naganya berimbas ke hampir seluruh kecamatan di Jember. Seperti misalnya kecamatan Jelbuk, kecamtan yang jauh dari kota Jember tersebut ternyata juga mengalami nasib serupa.
Hamper setiap hari sulit mendapatkan mitan. Jikalaupun ada, harganya selangit bahkan tembus ke angka Rp. 5.500,-. Hal inilah yang membuat Camat Jelbuk putar otak memikirkan warganya.
Akhirnya kecamatan Jelbuk membuat tungku alternatif yang dirancang khusus, sehingga irit bahan bakar. Tungku alternatif tersebut menggunakan kayu bakar. Namun bukan sembarang tungku, karena bara dalam tungku cukup bagus. “Karena dinding-dindingnya dirancang khusus dan dilapisi mangaan (timah hitam penyimpan panas, Red). Meski hanya dipenuhi dua kayu bakar, nyala tungku tersebut luar biasa panas,” ujar Camat Jelbuk, Ir Eko Heru Sunarso.
Heru mengaku tidak mengalami kesulitan atau kendala ketika memproduksi tungku tersebut. Karena Heru memanfaatkan kaleng cat bekas dan "dipermak" dengan semen, sudah bisa dibuat tungku dengan desain yang antik. "Mungkin seperti zaman dulu, tapi bisa dibuktikan keiritannya. Sudah banyak warga yang meminta untuk dibuatkan tungku tersebut," katanya.
Menurutnya hingga minggu ini sudah ada sekitar 30 tungku yang didistribusikan ke warga. Tungku ini sangat pas digunakan warga yang berdiam di kawasan pegunungan yang masih kesulitan minyak tanah. (RI-1)
Petugas Parkir Minta Dihonor Sesuai UMK
Jember – Seiring dengan bakal diterapkannya parkir berlangganan di Jember pada JAnuari 2009 mendatang, ada tuntutan baru dari petugas parkir. Petugas parkir menuntut mulai JAnuari mendatang diberi honor sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK).
Menurut sejumlah petugas yang enggan disebut identitasnya, sudah selayaknya petugas parkir diberi honor layak. “Dan itu sesuai dengan UMK, kami menolak jika dishonor sebesar Rp. 200 atau 300 ribu perbulan, itu tidak manusiawi,” ujarnya.
Pasalnya, petugas parkir tidak lagi bakal banyak memungut uang restribusi. Karena petugas parkir dari Dishub ini hanya bakal memungut kendaraan yang mempunyai plat nomor di luar Jember dan kendaraan yang belum berstiker alias belum bayar restribusi parkir tahunan.
Sehinga dipastikan petugas parkir bakal makan honor bulanan saja. Berbeda dengan ketika menarik parkir setiap hari, petugas masih banyak menerima sisa uang kembalian dari pengguna jalan yang tidak mau dikembalikan.
Seperti telah diberitakan besarnya tarif retribusi parkir selama setahun, untuk kendaraan roda dua Rp 20 ribu, kendaraan roda empat Rp 40 ribu, kendaraan roda lebih dari empat Rp 75 ribu, dan mobil penumpang umum (MPU) serta kendaraan barang Rp 25 ribu.
Sehingga pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor parkir bakal melonjak naik. Dari yang semula hanya menyumbang sekitar Rp 500 juta setahun, ditargetkan naik menjadi sekitar Rp 1,9 miliar.
Hal inilah yang membuat petugas parkir di Jember menuntut honor yang layak. (RI-1)
