Jember – Upaya penanganan korban bencana banjir bandang di beberapa kecamatan dan terbesar di kecamatan Kencong, naga-naganya bukan hanya difokuskan ke warga dan harta benda mati saja. Namun juga kepada hewan ternak yang turut menjadi korban.
Hal ini dibuktikan dengan langkah Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan yang menajaga agar hewan ternak tidak iktu mati.
“Dengan upaya semacam ini diharapkan warga tidak semakin bertambah sedih, saat tertimpa musibah, sudah sedih kehilangan harta benda, bias semakin sedih ketika ternaknya mati juga, ini jangan sampai terjadi,” ujar Kepala DInas Perikanan Peternakan dan Kelautan, Ir. Dalhar.
Upaya penyelamatan ternak sendiri menurut Dalhar dilakukan dengan sejumlah cara. Ada ribuan hewan ternak milik warga Desa Paseban dan Desa Kraton yang berhasil diselamatkan saat banjir melanda desa mereka.
Untuk itulah, ribuan ternak diberikan suntikan vitamin agar tidak mati. Sedikitnya sepuluh petugas dikerahkan untuk memberi suntikan vitamin tersebut. Baik itu terhadap hewan ternak yang ada di lokasi pengungsian, di atas tangkis, atau yang masih dibiarkan di rumah warga.
Menurut Dalhar, hewan ternak yang selamat di Desa Kraton mencapai 600 sapi, sedangkan di Desa Paseban mencapai 1.500 sapi. Hewan ternak yang paling banyak mati didominasi itik hingga mencapai 1.000 ekor. Sementara, jumlah ayam warga yang mati terdata mencapai 140 ekor.
Sementara untuk lahan perikanan, hingga kini belum bias dihitung secara pasti berapa yang mati, karena berhektar-hektar lahan perikanan habis tertelan banjir. Lahan perikanan yang terendam banjir, menurutnya, luasnya mencapai 6,5 hektare. Termasuk 21 kolam ikan milik warga yang juga terkena banjir. (RI-1)
RADAR INVESTIGASI
Jadi Korban Bencana, Ternak-ternak Diobati
Sosialisasi, Caleg Demokrat Diusir Warga
Jember – Situasi politik di Jember mulai memanas, usai pelaporan yang dilakukan oleh Ketua PPDI terhadap Ketua PKPB Jember, kini ada pengusiran caleg oleh warga. Kejadian tragis tersebut menimpa caleg nomor urut 1 daerah pemilihan 1 Jember dari PArtai Demokrat, Ayub Khan, tadi malam, Kamis (5/2) di perumahan Cahaya Emas Sempusari, Kaliwates.
Ironisnya lagi, kedatangan Ayub didampingi istri dan Cabup Independent 2010, yang juga mantan Wakil Bupati Jember, H. Bagong Sutrisnadi, bersama istri. Kedua pasangan suami istri tersebut bermaksud melakukan sosialisasi Pemilu di hadapan sekitar 60 peserta pengajian.
Namun baru saja datang dan memberi sambutan, sudah diusir warga yang juga peserta pengajian. Aksi pengusiran yang memalukan caleg tersebut ketika Bagong sedang memegang mikrofon hendak berbicara.
“Baru berdiri dan berucap salam, tiba-tiba salah satu warga bernama Abdul Syukur, berteriak bahwa acara tersebut merupakan acara pengajian bukan kampanye, dan karena tidak berijin maka maka harus dibubarkan,” ujar Sekretaris RW VI, Sempusari, Husni Thamrin, didampingi Ketua RW VI setempat, Sya’im Widigdo, menirukan ucapan Abdul Syukur.
Puluhan warga yang lainpun akhirnya turut bereaksi dan menghendaki acara dibubarkan, dan minta keempat tamu tersebut pulang. “Ya akhirnya pak Bagong dan pak Ayub serta istrinya pulang semua, karena warga tidak menghendaki pertemua tersebut dicampuri dengan acara kampanye,” imbuhnya.
Naga-naganya warga sudah kesal karena caleg Demokrat satu ini sudah kedua kalinya melakukan sosialisasi kepada warga dengan cara tidak baik atau tidak berijin terlebih dahulu. “Pertama dulu juga bagi-bagi sarung di mushola, warga juga nggak ada yang dating, karena itukhan tempat ibadah, malah waktu itu, ada caleg DPR RInya, NAzarudin,” jelasnya.
Karena situasi memanas, akhirnya acara pengajian banyak ditinggalkan warga. “Ini sama juga memecah belah warga, seharusnya tuan rumah, pak Adi Purnomo, menyampaikan ke warga,” imbuhnya lagi.
Warga benar-benar menyesalkan aksi pemanfaatan kegiatan pengajian dan tempat ibadah menjadi ajang kampanye caleg. (RI-1)
BRI Kucurkan 34 Miliar Untuk KUR
Jember - Pengucuran kredit untuk rakyat(KUR) tanpa jaminan di seluruh Kecamatan di Kabupaten Jember mencapai Rp 34,6 Milliar hingga akhir Desember 2008 kemarin.
Target pengucuran dana di tahun 2009 ini diprediksi akan bertambah. Di akhir tahun 2008 kemarin, dana sebesar itu diberikan kepada Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 12.801 orang.
Adanya kemudahan kredit bagi pengusaha kecil ini akan semakin tinggi permintaannya karena syarat mendapatkan kredit itu sangat mudah. Usaha itu minimal harus berjalan selama 6 bulan.
“Baru setelah 6 bulan mereka mendirikan usahanya, kita berikan kredit KUR itu, dan itu syaratnya KUR bisa dicairkan,” ujar Bambang Iriyanto, Kepala BRI Cabang Gajah Mada Jember.
Dari jumlah Rp 34,6 miliar itu ada 7 wilayah Kecamatan yang tingkat NPL nya sudah di atas 3 %. Sehingga memungkinkan wilayah kecamatan lain meningkat, dan sasaran meningkat lagi.
Dikatakan Bambang Irianto, bahwa pengucuran kredit ini terlepas dari bantuan kredit sebelumnya yang sudah pernah dikucurkan pemerintah. Sistemnya menggunakan cek list pengusaha yang belum dan sudah mendapat bantuan Kredit tanpa jaminan ini. Termasuk di luar sasaran dari Bank Kredit Desa (BKD).
“Itu yang mengeluarkan adalah sistem informasi dari Bank Indonesia,” ujarnya.
Di tahun 2009 ini diperkirakan sasaran UMKM akan meningkat, dari 12.801 pengusaha diperkirakan target bulan Maret 2009 saja akan ada peningkatan 8.500 UMKM. (RI-1)
AKLI Bantah Monopoli Listrik
Jember - Mendapat sorotan dari banyak pihak, terkait dugaan monopoli dalam pengadaan kelistrikan di Jember, Ketua DPD AKLI Jember H Sutrisno, menolak tegas anggapan itu.
Menurutnya, selama ini AKLI bukanlah satu – satunya rekanan yang bekerja dibidang pemborongan listrik di Jember. Tapi, sebelumnya juga sudah ada AKLINDO, dan APLINDO. “Saya kira tidak ada monopoli dalam bidang kelistrikan saat ini. Karena AKLI yang selalu eksis sehingga bisa dipersepsi negatif seakan monopoli,” ujarnya.
Di sisi lain, H Arief Sugito, - salah satu kabid di AKLI – menegaskan bahwa semua kegiatan AKLI dan proyek kelistrikan dilindungi oleh Undang – undang. Pelanggan pun tidak dibatasi untuk memilih AKLI saja, tapi bisa memilih rekanan lain.
Hal itu sesuai aturan Kepmendagri No 29 tahun 2009, dan Keppres No 80 tahun 2003, tentang pengadaan barang dan jasa jelas telah dibuka lebar – lebar tidak hanya AKLI yang berperan.
“Mitra PLN itu banyak, tidak AKLI saja. Tapi, sudah ada AKLINDO, dan AKLINAS, bahkan ASMED. Dan pengawasannya ada LPJK, hingga KPPU,” ujar Arief Sugito.
Tapi, dia setuju jika ada rekanan di luar AKLI yang profesional mampu bersaing di iklim persaingan usaha saat ini untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Manager Area PT PLN (persero) Kabupaten Jember Agus Kuwardoyo, menegaskan bahwa bagi PLN pelayanan kepada masyarakat itu yang sangat dipentingkan.
Sehingga terkait tarif dasar listrik (TDL) yang menurut rencana ada kenaikan Rp 650 per kwh itu akan segera disosialisasikan. Maka dari itu, perlu ada kerja sama dengan semua pihak termasuk kepada yayasan konsumen Indonesia.
PLN juga sangat terbuka dengan pengaduan dan protes dari pelanggan. Karena ada jaminan Undang – undang No 15 tahun 1985, terkait pengelolaan kelistrikan, dan UU No 20 tahun 200. Sayangnya semangat persaingan di UU No 20 itu, dicabut, dan ditarik Mahkamah Konstitusi.
PLN tentu saja bukan perusahaan BUMN yang monopoli dalam pengadaan kelistrikan. Di PLTU Paiton saja, sebagian saja milik PLN dan dijual harganya lebih murah dibanding swasta itu. Tapi, di Cikarang Jawa Barat ada lingkup daerah yang semua kebutuhan listriknya disuplai oleh swasta bukan semata PLN.
“Saat ini kita bersaing keras dalam bidang pelayanan. Masyarakat ini ke depan bisa memilih dan bebas mendapatkan suplai listrik dari mana saja, sesuai undang – undang itu,” ujar Agus Kuswardoyo. (RI-1)
Kembali ke Perkampungan, Logistik Tetap Dikirm
Jember - Kendati masyarakat Desa Kraton dan Paseban yang tertimpa bencana banjir mulai menempati rumahnya masing-masing. Tapi Satuan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Jember tetap menyuplai kebutuhan dasar masyarakat. Rencananya, suplai logistik dan antisipasi bencana bakal dilakukan selama seminggu sambil menunggu situasi dan kondisi di daerah bencana benar-benar kembali pulih dan aman.
Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Jember, Drs Agoes Slameto MSi, mengatakan, kondisi perkampungan warga yang beberapa hari ini terendam air kini mulai surut. Sedangkan perkampungan warga yang berada di sekitar hilir sungai Bondoyudo dan berdekatan dengan laut masih digenangi air, berangsur-angsur surut.
Dengan begitu, masyarakat yang terdiri dari 400 kepala keluarga atau sejumlah 700 orang, ketika bencana banjir terjadi diungsikan di Balai Desa Paseban dan Kraton, dua hari terakhir secara bergelombang kembali ke perkampungannya. “Rendaman air hari ini berangsur-angsur surut dan mengering, masyarakat telah kembali ke rumahnya masing-masing,” katanya.
Aktivitas masyarakat yang bisa dipantau di titik bencana, sekarang ini mulai sibuk membersihkan rumahnya dari kotoran akibat rebakan banjir yang sempat merendam rumahnya. “Hari ini kondisi di daerah bencana sudah mulai normal. Masyarakat sibuk membersihkan rumahnya dari material lumpur dan air yang beberapa waktu ini membanjiri dalam rumahnya,” ungkapnya.
Ia mengatakan, meski penduduk sudah pulang ke kampung halaman, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Lantaran, kondisi belum memungkinkan bagi masyarakat untuk bekerja. Ditambah sebagian besar logistik masyarakat di rumah-rumah rusak diterpa banjir.
Karenanya, Satlak PBP Kabupaten Jember bakal menyuplai makanan dari dapur-dapur umum yang dipusatkan di Balai Desa Kraton dan Paseban. “Tim Satlak Bencana akan tetap mengirim bahan makanan dari dapur-dapur umum sambil menunggu kondisi benar-benar dalam keadaan normal,” terangnya.
Pengumpulan logistik siap distribusi, katanya, dipusatkan di Posko Induk atau Posko Satlak PBP yang terletak di rumah warga Desa Kraton. Sedangkan bahan-bahan logistik tersebut dibagikan ke warga secara langsung melalui Posko 2 dan 3, yang berada di Balai Desa Kraton dan Paseban.
Persediaan logistik korban bencana, sambungnya, mencukupi guna menyuplai kebutuhan makanan sekitar 2.000 orang. Logistik yang disiapkan, kata Agoes, berupa beras dari gudang Dolog sebanyak 6 ton. Selain itu, bahan makanan dari jenis sayur-mayur, mie dan lauk pauk juga siap dibagikan pada para warga lewat dapur umum. “Bantuan-bantuan yang masuk semuanya telah tercatat dan siap untuk didistribusikan,” jelasnya.
Tim Satlak PBP, sambungnya, bakal tetap siaga sebagai langkah antisipasi bencana susulan sampai keadaan lingkungan dan aktivitas kehidupan masyarakat benar-benar pulih dan kondusif. “Selama satu minggu Satlak dapur umum akan dibuka, karena kebutuhan dasar masyarakat harus terus dipenuhi,” imbunya.(RI-1)
Pemasangan Bronjong Dikebut
Jember - Guna mengantisipasi banjir kiriman berikutnya akibat luapan air Sungai Bondoyudo. Pemerintah Kabupaten Jember mulai melakukan pekerjaan pemasangan bronjongan di 2 titik tangkis sungai tersebut, yang beberapa waktu lalu jebol diterjang air bah. Pemasangan bronjongan itu dikerjakan maraton oleh Dinas Pengairan mulai hari ini, Kamis (5/2).
Tangkis yang putus bakal dipasang bronjongan untuk menghalau luapan air sungai yang berada di 2 titik tangkis yang jebol. Diantaranya, tangkis sungai Desa Kraton, rusak sepanjang 38 meter akibat diterjang banjir bandang pada hari Sabtu (31/1) dini hari. Sedangkan tangkis sungai Desa Paseban sepanjang 32 meter juga mengalami rusak berat, selang tak beberapa lama dari jebolnya tangkis di Desa Kraton.
Menurut Kepala Bagian Humas Pemkab Jember, Drs Agoes Slameto MSi, rehabilitasi kedua tangkis itu bakal dilaksanakan. Bahkan material yang digunakan untuk pembangunan sudah mulai dikirim ke sekitar tangkis-tangkis itu. “Material dan alat berat mulai dikirim di kedua titik tangkis yang jebol tersebut,” katanya.
Pembangunan tangkis dilaksanakan seiring dengan surutnya debit air sungai di lokasi bencana. Ditandai dengan mulai mengecilnya debit air sungai dan tidak adanya hujan lebat yang terus-menerus. “Yang jelas untuk pembangunan tangkis itu Dinas Pengairan sudah melakukan kalkulasi secara teknis,” ujarnya.
Selain pengiriman bebatuan sebagai bahan pembuatan bronjongan. Dinas Pengairan yang tergabung dalam Tim Satlak PBP Kabupaten Jember juga menyiapkan karung-karung pasir, yang digunakan untuk menahan luapan air ke daratan. Tentunya, dengan pemasangan karung-karung pasir di sepanjang pelipis sungai luapan air ke daratan bisa diminimalisir. Sehingga tidak masuk ke pemukiman penduduk. “Karung-karung pasir itu juga akan ditempatkan di titik-titik sumber air yang rawan,” terangnya.
Sementara itu Susmiadi, Pengamat Pengairan Wilayah Kencong mengatakan selain akan dipasang brojong-bronjong ditangkis yang jebol, memang sebaiknya tangkis tersebut juga harus dilebarkan. “Selain sebagai penahan air, tangkis tersebut juga dapat digunakan sebagai jalan baru, sehingga mempunyai 2 manfaat,” jelasnya.
Masih menurut Susmiadi kendala yang dihadapi dalam pemasangan bronjong selama ini, karena materialnya sulit masuk sampai ke lokasi pengerjaan, sehingga masih menunggu surutnya air yang masuk ke permukiman warga dan mulai selasa kemarin, debet air surut mencapai 130 meter dan ini artinya rabu kemarin pengerjaan bronjong sudah dapat dimulai. “Karena debet air terus menurun, maka pekerjaan bronjong sudah dapat dimulai,” katanya.
Menurut rencana, apabila tidak ada kendala dan debet air sungai terus menurun, maka pekerjaan pemasangan bronjong akan dapat diselesaikan pekan ini. “Pekerjaan akan dikebut dan menggunakan alat berat untuk mempercepat selesainya pekerjaan tersebut,” ujarnya. (RI-1)
Dinas Pendidikan Mulai Dirikan Sekolah Sementara
Jember – Banjir bandang yang diakibatkan jebolnya tangkis sungai Tanggul di desa Kraton, juga berimbas pada proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sejumlah sekolah di daerah bencana.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jember, H. Achmad Sudiono Msi, pihaknya bersama UPTD terdekat sudah mendirikan posko pendidikan baru yang juga dijadikan lokasi pelaksanaan KBM.
Sejumlah posko pendidikan tersebut diantaranya yakni di SDN Cakru II, SDN Kraton II, dan kantor UPTD Kencong. “Namun karena jumlah siswa masih sangat banyak yang tidak tertampung, maka posko berkembang ke rumah-rumah warga yang tidak tergenang,” jelasnya.
Sesuai dengan data di Dinas Pendidikan Jember sejumlah sekolah yang KBM-nya terganggu karena rendaman air adalah SD Paseban 01, 02, dan 03. Untuk SDN Kencong IV bukan hanya terendam namun banyak buku pelajaran yang hanyut terbawa banjir.
Bukan hanya 4 sekolah tersebut yang menjadi korban meluapnya air sungai TAnggul. Masih ada sejumlah sekolah lagi seperti Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kraton, dan SMP Trunojoyo Paseban.
Sehingga lebih dari 600 siswa hingga hari ini menjalani proses KBm di rumah warga dan di posko pendidikan. “Pada prinsipnya proses KBM harus tetap jalan, jangan sampai terhalang karena tidak ada tempat, Karena masih ada rumah warga dan posko pendidikna yang bias dipakai untuk menuntut ilmu,” imbuhnya. (RI-1)
Jebolan Bertambah Lebar, Pemkab Dirikan 4 Posko
Jember – Tangkis sungai Tanggul yang jebol pada Sabtu lalu, hingga saat ini bertambah lebar saja. Pasalnya upaya Pemkab Jember untuk merealisasikan tangkis sementara belum terwujud.
Sehingga lebar jebolan kembali bertambah 10 meter. Dari semula hanya 45 meter kemudian bertambah menjadi 50 meter dan kali ini mencapai 60 meter. Lebarnya jebolan tangkis tersebut semakin membawa korban bertambah banyak.
Untuk itu, Pemkab Jember mendirikan 4 posko. Empat posko penanganan bencana itu masing-masing ditempatkan di balai desa Kraton, balai desa Paseban, di SDN Cakru, dan Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.
“Empat posko ini terus melakukan koordinasi. Hal ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pengungsi,” kata Wakil Ketua Satlak Bencana Jember, Edy BUdi Susilo Msi.
Di sisi lain Edy menjelaskan hingga saat ini debit air masih besar, sehingga air yang tumpah lewat tangkis yang jebol, semakin memperparah kondisi. Ketinggian air yang menggenangi rumah warga semakin bertambah.
Tak terkecuali lahan pertanian milik warga yang terendam semakin meluas. Ratusan rumah warga di daerah Desa Kraton, Paseban, Cakru, dan Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, juga mulai merasakan imbas banjir.
“Hal inilah yang membuat Pemkab Jember kesulitan membuat tangkis sementara seperti yang disampaikan Bapak Bupati,” ujarnya. Menurut Edy, kondisi air masih tinggi. Sehingga tidak mungkin memasukkan bahan material untuk membendung tangkis yang jebol. (RI-1)
Tangkis Jebol, Kerugian Capai 10 Miliar
JEmber – Pasca banjir bandang yang menimpa kecamatan PAnti, Rambipuji, Tanggul dan Kencong, kerugian yang diderita Pemkab Jember dan masyarakat diperkirakan mencapai Rp. 10 miliar.
Padahal akibat banjir sebelumnya kerugian sudah mencapai sekitar Rp. 12 miliar. “Kerugian sekitar 10 miliar tersebut akibat dari jebolnya tangkis di KRaton Kencong dam sejumlah infrastruktur lain yang rusak akibat banjir akhir minggu kemarin,” ungkap ASisten Ekonomi Pembangunan Pemkab JEmber, Edy Budi Susilo.
Selain tangkis sepanjang 50 meter jebol, sejumlah jembatan juga rusak dan putus. Belum lagi plengsengan-plengsengan yang tersebar di sepanjang sungai Tanggul dan Bedadung.
Hal ini bertambah parah ketika sejumlah ruas njalan juga turut rusak berat akibat tergerus banjir. “Pemkab masing menghitung pasti angka kerugian tersebut, dan berencana kembali membangunnya,” ujarnya.
Namun untuk dalam waktu dekat ini, Edy menegaskan bahwa langkah yang efektif adalah menangani korban bencana terlebih dahulu dan membuat tangkis sementara. Untuk infrastruktur jalan lain masih dalam tahap perencanaan.
Dan jika memungkinkan maka bakal dilaksanakan pada tahun anggaran 2009 ini. “Tergantung kesiapan dana dari sejumlah unit kerja,” imbuhnya. (RI-1)
103 Balita Jember Alami Gizi Buruk
Jember - Angka balita Kekurangan Energi Protein (KEP) total atau gizi buruk masih tergolong 0tinggi, lantaran prevalensi KEP total Jawa Timur masih lebih rendah dibandingkan Jember. Tercatat ada 103 balita di Jember pada 2008 lalu mengalami Gizi Buruk. Meski sebenarnya angka balita gizi buruk tersebut sudah menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2007 lalu sebanyak 286 balita.
Data yang berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, menyebutkan angka prevalensi KEP total Jatim sebesar 18,4 persen, sedangkan KEP Jember jumlahnya 20 persen. Itu berarti angka gizi buruk Jember rata-rata lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota yang tersebar di Jatim.
“KEP total kita sekarang memang cukup tinggi hampir 20 persen. Tapi yang kategori buruk sekali kita temukan baik yang di opname di RSUD dr Soebandi maupun di lapangan yang hanya dirawat di Puskesmas tahun ini kita temukan sebanyak 103 balita,” kata Kasi Gizi Dinkes Kabupaten Jember, Fathona.
Dari jumlah 103 balita yang dinyatakan gizi buruk itu. Sebanyak 19 persen balita masuk dalam kategori gizi buruk ringan dan sedang, sedangkan 1 persen dikategorikan berat. “Penyebab langsung gizi buruk ini karena kurangnya asupan gizi dan penyakit, lha kedua hal ini tergantung dari perilaku dan pola asuh ibu,” katanya.
Ia mengatakan, kurangnya asupan gizi di satu sisi disebabkan oleh kebiasaan ibu memberikan makanan tambahan sejak bayi itu dilahirkan. Pada sisi lain, para ibu yang memiliki balita tidak memberikan Air Susus Ibu (ASI) eksklusif pada bayinya selama 6 bulan penuh.
Padahal pemberian makanan tambahan pada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan, relatif berisiko bagi pertumbuhan gizinya. Pasalnya, ASI memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada usia tersebut, salah satunya adalah kolostrum. “Pemberian ASI eksklusif pada bayi di Jember ini masih sangat rendah, karena kurang dari 15 persen,” ungkapnya.
Jumlah balita Jember tiap tahunnya rata-rata 38 ribu. Sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif baru sekitar 13 persen dari total balita tersebut. Itu berarti, sebanyak kurang lebih 87 persen balita yang baru lahir rata-rata telah diberi makanan tambahan sejak dilahirkan.
Lebih jauh, ia menjelaskan, ciri-ciri bayi gizi buruk ditandai adanya oedema (pembekakan) pada tungkai. Bila hal ini terdapat pada balita, maka bayi itu menderita kwasiorkor (gizi buruk berat). Sedangkan marasmik/marasmus bisa diketahui melalui pada penampakan mukanya seperti kera (muka kera). “Balita yang seperti ini berarti tidak mampu mempertahankan tumbuh kembangnya,” terangnya.
Makanya untuk mengetahui sejak dini kondisi anak kita, orang tua harus aktif menanyakan dan melaporkan pada petugas Posyandu atau Puskesmas bila berat badan anak kita perkembangannya tidak mengikuti pelangi yang ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).
Dengan begitu, Dinkes bakal mengambil tindakan bila menemukan anggota masyarakat yang memiliki balita gizi buruk. Tindakan yang dilakukan, diantaranya memberikan asupan seper tiga kebutuhan gizi dalam sehari selama 90 hari. (RI-1)
