Kondisi Membaik, Samsul Belum Bisa Temui Tamu

Jember – Mantan Bupati Jember, Drs. H. Samsul Hadi Siswoyo Msi, yang pada sore (17.30 wib) kemarin, Jumat (13/2), sempat dilarikan ke RSUD dr. Soebandi karena mengalami sesak nafas dan tekanan darah tinggi, hari ini, Sabtu (14/2), kondisinya mulai membaik.

Namun meski sudah membaik, Samsul masih belum bisa menemui tamu. Pasalnya sejumlah alat kesehatan masih terpasang disejumlah anggota tubuhnya. Mantan Bupati yang sempat kesandung kasus korupsi Kasda ini belum bisa bangun dari posisi tidurnya.

Pantauan beritajatim.com, kondisi tubuhnya masih lemah, meski tensi darah dan pernafasannya sudah mulai membaik. Kedua kelopak matanya nampak masih bengkak meski tidak sebesar kemarin sore, sewaktu dilarikan ke rumah sakit.

Menurut dr. Danddy dan dr. Usman yang merawatnya, Samsul diminta istirahat total dan tidak diperkenankan naik turun tempat tidur. Karena kondisinya memang tidak memungkinkan untuk itu. Samsul terus menolak tamu yang berdatangan ke tempatnya, kecuali keluarga dekat dan petugas kesehatan yang merawatnya.

Namun meski kondisi tubunya lemah dan nampak ada dua infus dilengan tangannya dan beberapa alat kesehatan lain di anggota tubuhnya, Samsul tetap berusaha tersenyum dan mengeluarkan sejumlah joke, ketika Direktur RSUD dr. Soebandi, dr. Yuni Ernita dan Wadir Keuangan, Damanhuri menjenguknya.

Bahkan dr. Yuni dan Damanhuri sering terpingkal-pingkal ketika mendengar lontaran joke Samsul. “Ya untung sekarang saya sakit boleh keluar LP, kalau tidak nggak tahu apa jadinya, dan untungnya ada bu dokter yang baik ini,” ujarnya disambut senyum dr. Yuni.

Sejalan dengan itu, dr. Yuni juga menyatakan turut prihatinnya ketika Samsul tidak bisa keluar LP mengikuti pemakaman mendiang Almarhumah Ny. Ima Samsul beberapa waktu lalu. “Iya abah, alhamdulillah sekarang bisa berobat di sini, saya juga prihatin ketika dulu Umi meninggal Abah tidak bisa keluar,” jawabnya.

Mendengar pernyataan keprihatinan serius dari Direktur rumah sakit daerah tersebut, Samsul tidak membalas dengan serius. Samsul justru menjawab dengan guyonan. “Ya, tetapi lebih penting lagi yang sekarang ini, kira-kira dapat diskon apa tidak?, tanyanya.

Mendengar itu dr. Yuni dan Damahuri tidak mampu menahan tawa kerasnya. Saling tertawa dan saling balas melontarkan joke tersebut sempat berlangsung sekitar 15 menit, sebelum kemudian dr. Yuni meninggalkan ruang kamar paviliun Anggrek nomor 7 RSUD dr. Soebandi.

Dr. Yuni sendiri mengaku senang dapat bertemu dengan mantan Bupati Jember tersebut. “Ternyata beliau masih seperti dulu, dan tadi itu hanya hiburan saja, supaya beliau tidak tegang dan cepat sembuh, kami semua turut mendoakan kesembuhan beliau,” ujarnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Bank Gakin Jember, dari 1,4 miliar Jadi 14,4 miliar

Jember - Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) atau Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) Jember meningkat pesat 3 tahun terakhir ini. Setidaknya, lembaga keuangan yang memilih nasabahnya dari masyarakat ekonomi sangat lemah (miskin) itu mampu memutar keuangannya dari Rp 1,4 Milyar menjadi Rp 14,4 Milyar dalam waktu yang relatif singkat bagi ukuran lembaga keuangan.

Kepala Seksi (Kasi) Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop dan UKM) Kabupaten Jember, Agus Edhi Susanto mengatakan prinsip yang dijalankan pada sistem Bank Gakin ini adalah penguatan kelembangaan, tanggung renteng, kedisiplinan dan pembangunan solidaritas antar sesama nasabahnya. “Bank Gakin bisa berjalan, karena kami menerapkan sistem tanggung renteng dan solidaritas antar sesama nasabah,” katanya.

Selain itu, Bank Gakin yang membidik usaha miko masyarakat itu dioperasionalkan pada kelompok masyarakat (pokmas) yang terdiri atas 6 orang. Asas yang dibangun adalah solidaritas, sehingga pokmas dibentuk dilingkup dusun dan desa saja. “Anggotanya terdiri atas pokmas yang dibentuk di dusun-dusun masing-masing desa,” ungkapnya.

Agus mengatakan, yang dimaksud dengan tanggung renteng adalah bahwa setiap anggota bertanggung jawab untuk menanggung resiko. Jika salah satu dari anggota pokmas tak mampu melunasi tunggakan uang yang dipinjamnya dalam seminggu, maka 5 orang lainnya harus berusaha melunasinya (tanggung renteng).

“Jadi satu orang saling memikul beban anggota kelompok lainnya. Angsuran selama seminggu bisa dicicil selama 10 kali. Hal inilah yang membuat Bank Gakin Jember bertahan, karena semua anggotanya berkomitmen terhadap kesuksesan usaha kelompoknya,” jelasnya.

Bank Gakin yang pada tahun 2005, nasabahnya hanya berjumlah 100 orang yang difokuskan di 2 dusun. Setelah berjalan 3 tahun, nasabahnya menjadi 4.500 orang tersebar di 34 dusun di berbagai desa kelurahan dan desa miskin. Sedangkan perkembangan modalnya selama 3 tahun itu juga berputar cepat dari Rp 1,4 Milyar menjadi Rp 14,4 Milyar pada akhir tahun 2008. (RI-1)

Selengkapnya...

Japer Juga Laporkan Caleg PKPB ke PAnwaskab

Jember – Setelah Ketua PPDI Jember, Abdul KADar, melaporkan Ketua PKPB Jember yang juga caleg PKPB, kini giliran JAringan Pemilih Rasional (Japer) Jember melaporkan hal yang sama.

Ketua Japer Jember, Drs. Farid Wajdi, menegaskan bahwa Panwaskab Jember sudah menerima laporannya atas dugaan money politic yang dilakukan oleh Ketua PKPB Jember, Moh. Sanusi Muhtar Fadilah.

Farid melampirkan sejumlah KTA PKPB yang diketemukannya di sejumlah warga di daerah pemilihan (dapil) 3 Jember. Dalam KTA yang terdapat gambar caleg Sanusi bertuliskan sejumlah janji ketika dirinya terpilih kembali sebagai anggota dewan.

“Diantaranya Sanusi berjanji bakal memberi santunan sebesar Rp. 1 juta kepada pemegang KTA tersebut dan bakal memberi Rp. 500 ribu kepada pemegang KTA yang mempunyai hajatan pernikahan,” ujarnya.

Janji lain yakni pemegang KTA juga berhak menerima dana jarring aspirasi masyarakat atau jarring asmara dari Sanusi ketika Sanusi terpilih lagi.

Menurut Farid, upaya Sanusi tersebut sudah tergolong money politic, sehingga pemilih tertarik karena iming-iming yang tercantum dalam KTA bukan karena program atau visi misi PKPB atauun caleg Sanusi.

Namun, Farid menyayangkan sikap Panwaskab yang hingga saat ini belum serius menangani kasus tersebut. “Sudah seharusnya Panwaskab serius tangani kasus ini, dan bias menjerat calegnya ke proses hukum,” ujarnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Klompangan Dijadikan Sentra Duku

Jember – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bakal wujudkan desa Klompangan, kecamatan Ajung sebagai sentra tanaman duku. Selama ini desa klompangan sudah dikenal banyak mensuplai duku sebagai salah satu hasil buminya ke berbagai kota, mulai dari Denpasar hingga Yogyakarta. Selain itu juga didukung keadaan tanah dan iklim desa Klompangan yang cocok untuk pengembangan tanaman buah-buahan tersebut.

Menurut Ketua Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA) desa Klompangan, Dandik Samsul Hadi, buah duku sudah banyak dikembangkan oleh masyarakat desa ini. Bahkan, secara kualitas duku dari desa Klompangan memiliki varietas yang lebih unggul dibandingkan buah duku dari daerah Malang sekalipun.

Kelebihan buah duku Klompangan, diantaranya berkulit tebal, bentuknya mulus kuning langsat dan bulat, manis. Serta tidak mudah busuk dan tahan lama sampai berminggu-minggu setelah dipetik dari pohonnya. “Yogyakarta itu tahu kalau duku Jember itu bermutu tinggi, Denpasar pun demikian. Sehingga kami tergugah bagaimana caranya pasar itu bisa terpenuhi,” katanya.

Tidak hanya pangsa pasar yang menjadi sasarannya. Tapi pihaknya berkeinginan kuat untuk meningkatkan kualitas duku tersebut lebih baik lagi. Dengan begitu, diharapkan selain kuantitas produksinya meningkat tentunya didukung pula dengan peningkatan kualitas buah dukunya.

Tiap tahunnya, rata-rata terjadi peningkatan permintaan yang cukup besar dari pasar duku klompangan. “Sayangnya di Jember sendiri buah duku asal Desa Klompangan kurang dikenal, namun justru di luar Jember, duku ini sangat digemari. Buktinya pangsa pasarnya selalu meningkat,” imbuhnya.

Di sisi lain guna meningkatkan pelayanan terhadap para petani, KKA bekerjasama dengan tim ahli. Tim ahli yang menjadi rujukan untuk tanaman pangan dan hortikultura berasal dari UPTD Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan (Disperta) Kabupaten Jember. (RI-1)

Selengkapnya...

2 Saksi Lagi Dipanggil Kejari

Jember – Hari ini, KEjari Jember kembali memanggil 2 orang saksi dari Pemkab Jember. 1 diantaranya pejabat yang sudah pension, HM Fadallah, mantan Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Jember.

Dan satu lagi Kabag TU Dinas Kesehatan Jember, Drs. Ismu Adi S. Kasie Pidum Kejari JEmber, Ahmad Sujayanto SH, menegaskan pemanggilan kedua saksi tersebut masih dalam tahap memperkuat bukti dan data yang dikumpulkannya.

Sementara itu, mantan Asisten Ekonomi Pembangunan Pemkab Jember yang sudah pensiun, HM Fadallah, menolak keras jika dikatakan dirinya turut menikmati fasilitas kenaikan pangkat spektakuler yang tidak sesuai prosedur.

“Nggak pernah saya dapat fasilitas itu, semua kenaikan pangkat saya wajar-wajar saja,” ujarnya usai diperiksa di KEjari Jember, siang ini, Jumat (13/2).

Fadallah menegaskan bahwa dirinya hanya sempat menikmati kenaikan yang agak cepat, namun itu sudah sesuai prosedur. “Yakni kenaikan pangkat pilihan karena prestasi saya,” imbuhnya.

Kenaikan pangkat pilihan tersebut menurutnya dialami sewaktu dirinya menjabat Kabag Tata Pemerintahan dan Camat Sumberjambe.

Sementara itu, Ismu Adi, enggan berkomentar soal pemanggilan dirinya di Kejari JEmber. Ismu lebih banyak tersenyum menanggapi pertanyaan wartawan. (RI-1)

Selengkapnya...

Angin, Ratusan Baliho Caleg Roboh

Jember – Angin kencang yang melanda Jember sejak kemarin, Kamis (12/2) hingga siang ini, Jumat (13/2), mengakibatkan ratusan baliho milik calon anggota legislative (caleg) roboh. Untungnya robohnya baliho caleg tersebut tidak sempat menimbulkan korban jiwa atau kerusakan yang parah pada fasilitas umum.

Pantauan beritajatim.com baliho yang banyak roboh di sepanjang jalan Slamet Riadi, perempatan jalan Mastrip, pertigaan Bhayangkara, perempatan Slawu, pertigaan MAyang, Mumbulsari dan sejumlah ruas jalan lainnya.

Masyarakat sekitar lokasi berdirinya baliho-baliho berukuran besar yang roboh diterjang angina mengaku was-was. Seperti dituturkan Sucipto, warga Mayang, menurutnya ketika angina kencang tiba, baliho ukuran 3 sampai 4 meter persegi mudah roboh dan menimpa sekitarnya.

“Untungnya nggak roboh kerumah, atau pengguna jalan, kalau roboh ke rumah kan tibul korban,”ujarnya.

Apalagi selama ini baliho caleg tidak pernah dipasang dengan kuat. Karena hanya ditopang dua batang bambu dan beberapa bambu penyangga di belakang. Bambu ukuran kecil tersebut terbukti tidak mampu menahan terjangan angina.

“Jangankan angina besar, angina kecil saja kadang sudah roboh,” imbuhnya.

Masyarakat juga menyayangkan sikap PAnwas Kabupaten Jember yang terkesan enggan menertibkan atribut caleg di jalan-jalan. Berbeda dengan daerah lain yang sudah sigap menertibkannya. Karena selain membahayakan juga mengganggu keindahan kota . (RI-1)

Selengkapnya...

Takut Kesurupan Lagi, SMK 4 Diliburkan

Jember - Karena takut terjadi kesurupan lagi, pada hari keempat minggu ini, semua siswa SMKN 4 Jember diliburkan. Siswa diminta belajar sendiri di rumah masing-masing. Dan di sekolah hanya ada kegiatan pengarahan tentang tata cara penanganan roh halus yang di lakukan oleh sejumlah ustad dan paranormal.
Kepala SMKN 4 Jember, Drs. Rinoto, menyatakan bahwa sekolah tidak mau siswa kembali mengalami kesurupan pada hari keempat. Karena selama 3 hari berturut-turut sudah terdapat puluhan siswa yang mayoritas perempuan tersebut kesurupan roh halus.
"Siswa kita liburkan sementara, dan diberi tugas untuk belajar dirumah masing-masing," ujarnya.
Sementara pantauan beritajatim.com di lokasi, sekolah dan sejumlah ustad masih terus berupaya membersihkan sekolah mulai dari halaman, hingga ruangan-ruangan dari gangguan roh halus.
Karena meski sehari sebelumnya sudah dilakukan istighosah, namun masih ada 30 siswa yang kesurupan. Sehingga kondisi seperti itu mengkhawatirkan pihak sekolah. "Kami tidak ingin hari ini terjadi lagi, jadi ya kita bersihkan dulu lah, kalau sudah nanti bisa masuk seperti biasa," imbuhnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Probolinggo Juga Tertarik Bank Gakin Jember

Jember – Suksesnya Dinas Koperasi Jember menelurkan gagasan pembentukan Bank Gakin atau Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM), ditambah sukses juga dalam pengelolaannya sehingga mampu mengangkat harkat pengusaha kecil, membuat Kota Probolinggo tertarik untuk tuurut mengembangkannya.

Terbukti rombongan Komisi II DPRD Kota Probolinggo berkunjung ke Jember dan bermaksud belajar atau melakukan studi banding ke Pemkab Jember. Pasalnya, penanganan LKMM di Kota Probolinggo cenderung menghasilkan kredit macet, sehingga diperlukan perubahan sistem yang setidaknya menyamai Bank Keluaga Miskin (Gakin) Jember.

Salah satu anggota komisi II Kota Probolinggo, Matsumarwo, mengatakan, pengelolaan LKMM atau Bank Gakin di Jember cukup bagus. Lantaran, selain tanpa agunan, kredit macetnya nol persen.

“Sebenarnya kami juga meluncurkan program yang hampir mirip dengan Bank Gakin di Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo, tapi sampai dengan saat ini terkendala adanya kredit macet sehingga Lembaga Keuangan kami tidak bisa berjalan lancar,” katanya.

Hal serupa diungkapkan pula oleh Merwi, staf Dinas Koperasi, Energi Negara, Industri dan Perdagangan Pemkot Probolinggo. Ia mengatakan, Pemkot Probolinggo memiliki dana kredit yang bersifat terus dengan total Rp 2,6 Milyar. Dialokasikan sebagai bantuan kredit usaha mikro masyarakat.

“Awalnya eksis, tapi setelah berjalan selama 2 tahun dan kami perbaiki manajemennya, tapi masih saja terjadi kredit macet,” tukasnya.

Oleh karenanya, pihaknya ingin mengetahui lebih jauh soal seluk-beluk mekanisme sistem Bank Gakin Jember yang dikelola oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Jember. “Kami ingin penjelasan lebih jauh mengenai mekanisme manajemennya dan cara pendekatan pada masyarakat supaya mau berpartisipasi dalam kelompoknya,” ungkapnya.

Menurut Asisten Perekonomian Pembangunan Pemkab Jember, Edy Budi Susilo, yang menerima secara langsung rombongan tersebut menjelaskan, perkembangan Bank Gakin Jember saat ini cukup pesat.

Nasabahnya pun semakin melejit, dari 100 orang, kini telah mencapai 4.500 nasabah selama 3 tahun terakhir, terhitung mulai tahun 2005. Yang menjadi nasabah, katanya, dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. “Untuk sementara ini, kalau pola-polanya sudah banyak di daerah lain, tapi Bank Gakin ini mungkin baru satu-satunya di Jawa Timur, bahkan di Indonesia ,” tuturnya.

Lebih lanjut Edy menandaskan, tidak menutup kemungkinan kalau hal ini juga bisa diterapkan di Pemkot Probolinggo yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik kota tersebut dengan sasaran dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. “Bank Gakin ini dilakukan dengan sistem bergulir dan tanggung renteng,” cetusnya.

Sementara itu, Kasi Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kab. Jember, Agus Edhi Susanto SE, yang juga hadir pada acara itu menjelaskan, prinsip tanggung renteng Bank Gakin menitikberatkan pada pembangunan solidaritas para nasabah. Maksudnya, bila salah satu anggota kelompok masyarakat (Pokmas) yang terdiri 6 orang itu gagal membayar tanggungannya selama seminggu, maka 5 anggotanya bertanggung jawab memikul tunggakannya. (RI-1)

Selengkapnya...

Sepanjang 9 km Tangkis Sungai Tanggul, Bakal Direhabilitasi

Jember - Bencana yang mendera warga Desa Paseban dan Kraton pada awal bulan ini diupayakan tidak terjadi lagi di tahun mendatang. Langkah antisipasi Dinas Pengairan untuk mengakhiri tragedi masyarakat yang berdomisili di sekitar kedua dusun tersebut adalah melakukan pelebaran sungai dan peninggian tangkis Sungai Tanggul sepanjang 9 km.

Dengan ditinggikannya tangkis Sungai Tanggul, diharapkan luapan air sungai tersebut saat hujan lebat tiba tidak sampai meluber ke daratan. Pasalnya, pengalaman bencana yang terjadi pada hari Sabtu (31/01), hujan deras hebat mengakibatkan debit air meningkat.

Tak pelak, tangkis Sungai Tanggul di dua tempat pun jebol lalu membanjiri beberapa desa di sekitarnya. Karenanya, perencanaan antisipasi bencana banjir yang lebih besar di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) mulai digagas tahun ini.

Menurut Kepala Pengairan Kabupaten Jember, Rasyid Zakaria, guna mengantisipasi bencana banjir tahun mendatang tangkis Sungai Tanggul bakal diperlebar. “Untuk mengantisipasi banjir yang lebih besar, Sungai Tanggul harus diperlebar,” katanya.

Dengan dilebarkan, terang Rasyid, sungai mampu menampung volume air yang lebih besar ketika debit air bertambah di kala hujan deras. Selain rencana pelebaran sungai itu, ia juga akan meninggikan tangkis Sungai Tanggul. “Tangkis itu nanti akan kita normalisir, sungainya akan dilebarkan dan tangkisnya akan kita tinggikan,” tandasnya.

Ia juga mengatakan, daerah rawan banjir di desa tersebut berada di sepanjang Sungai Tanggul. “Itulah sebabnya, rehabilitasi bakal dilakukan dengan menggunakan anggaran APBD 2010”, ungkapnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Sultan Minta Politik PErtanian Dirubah

Jember - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan perlu adanya perubahan politik pembangunan pertanian di Indonesia. Menurutnya dengan adanya perubahan politik pembangunan pertanian, ekonomi petani dapat diberdayakan dan ditingkatkan.

Sultan juga menjelaskan, ada tiga masalah besar yang kini dihadapi petani di Indonesia . Diantaranya adalah lemahnya modal sosial, dan masih tingginya angka kemiskinan rakyat. Yang terakhir adalah kerusakan sumberdaya pertanian yang semakin membesar.

“Modal sosial yang dibutuhkan bukan hanya terkait langsung dengan pertanian. Seperti misalnya penegakan hukum, dan desentralisasi pemerintahan hingga tingkat desa,” ujarnya. Visi pembangunan pertanian 2025 juga harus diubah orientasinya, menjadi industrialisasi pedesaan berbasis pertanian.

Dalam kuliah umumnya, Sultan juga menawarkan konsep revitalisasi pertanian di Thailand dan sistem 'Teikei' di Jepang yang dinilainya patut dijadikan panutan Indonesia dalam pembangunan pertanian.

“Selama tidak ada upaya perbaikan atau restorasi yang serius, omong kosong kita bicara atau mencanangkan swasembada pangan dan kesejahteraan rakyat," tegasnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Kotak Surat

Nama
E-mail
Pesan