Sat Pol PP Ancam Tipiringkan PKL Untung Suropati

Jember - Membandelnya para Pedagang Kaki Lima (PKL) di jalan Samanhudi dan Untung Suropati Jember membuat gusar Sat Pol PP Pemkab Jember. Pasalnya, PKL tersebut sudah tidak mematuhi peraturan yang telah dikeluarkan oleh Pemkab Jember.

Untuk itu tindak pidana ringan (tipiring) tak lama lagi akan dihadiahkan pada ratusan PKL tersebut, sebagai konsekuensi yang harus diterimanya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kabupaten Jember, Soenyoto, mengatakan, tidak lama lagi tindakan tipiring bakal dikenakan pada ratusan PKL yang mangkal di jalan Samanhudi dan Untung Suropati.

“Peringatan sudah sejak lama disampaikan pada para PKL itu, tetapi tetap bandel saja, maka satu-satunya jalan ya kita tertibkan dan tipiringkan,” ancamnya.

Apalagi selama ini Pemkab Jember sudah banyak berbuat baik kepada PKL tersebut. Pemkab telah memberikan uang pembinaan Rp 1 juta dan gerobak dorong sebagai fasilitas bagi PKL. Dengan bantuan tersebut, para pedagang yang saat ini berjualan siang hingga malam di bilangan sekitar Pasar Tanjung itu bias mendorong dagangannya dari lokasi jualannya ke rumahnya masing-masing.

Namun, niat baik pemerintah ditanggapi kurang serius oleh PKL.

“Komitmen antara PKL dan pemerintah sudah jelas, setelah bantuan itu diberikan beberapa bulan lalu Pemkab tinggal tunggu kesediaan PKL untuk mendorong gerobaknya dari pasar ke tempat yang telah disediakan. Tapi nyatanya, para PKL sampai sekarang tetap saja bandel,” jelasnya.

Tempat penyimpangan barang dagangan PKL sudah disediakan di lapangan Talangsari. “Namun kenyataannya, roda gerobak malah dicopoti sehingga tidak bias dipindah,” katanya.

Oleh karenanya, katanya, sikap Sat Pol PP kian lebih tegas. Sebab, ketika upaya sosialisasi dan peringatan-peringatan secara kontinyu sudah dilaksanakan selama ini, tapi tidak diimbangi dengan sikap kerjasama PKL. (Ri-1)

Selengkapnya...

Produktivitas Turun 30 %, Harga Durian Naik

Jember - Hasil panen durian Sumberjambe pada tahun 2009 ini merosot hingga 30 % jika dibandingkan tahun lalu. Merosotnya produktivitas tersebut menurut Camat Suberjambe, Abdul Kadir, rata-rata disebabkan karena kondisi alam sendiri.

Selain itu memang durian mempunyai kecenderunganmenurun produktivitasnya ketika tahun sebelumnya sudah maksimal berbuah. Akibatnya harga durian jauh lebih mahal dibandingkan dengan tahun lalu. Kalau dari sisi petani, petani mengaku sangat diuntungkan dengan situasi seperti ini.

“Harga durian tahun ini lebih bagus daripada tahun lalu, kita diuntungkan kondisi ini,” ujar salah satu petani, Amiruddin.

Bila tahun sebelumnya harga durian berukuran sedang senilai Rp 7-8 ribu per buah. Saat ini meningkat cukup tinggi sekitar 60-70 persen atau menjadi Rp 13-14 ribu per buahnya. “Itu dikarenakan pohon durian di Sumberjambe tidak semuanya berbuah sehingga panennya juga sedikit,” terangnya.

Tahun lalu, imbuhnya, satu pohon durian yang berumur sekitar 50 tahun mampu menghasilkan buah antara 1.000-1.500 buah. Sementara tahun ini, dengan umur pohon yang sama hasil panennya hanya 400-600 buah. Itupun sudah bisa dikatakan untung.

“Sekarang pohon yang menghasilkan buah antara 400-600 buah sudah bisa dikatakan untung. Karena banyak pohon yang tidak berbuah tahun ini,” jelasnya.

Pihaknya, menengarai, pelaksanaan pasar durian yang didasar secara langsung oleh para budidayawan dan petani durian menjadi kelebihan tersendiri. Lantaran, sistem ijon dan gadai oleh tengkulak atau penebas terhadap para petani bisa dihindarkan.

Karena sistem ijon, petani hanya mendapatkan keuntungan yang minim. Tiap satu durian muda (pentil, Jawa, red) ketika dibeli dengan ijon, lanjutnya, hanya dihargai Rp 750. Makanya, bila satu pohon durian mampu menghasilkan 1.000 buah, sudah barang tentu petani mendapatkan uang Rp 750 ribu. “Harga ijon tahun ini lebih tinggi dari tahun kemarin. Tahun lalu tiap pentil harganya hanya Rp 250-500,” tukasnya.

“Makanya, praktik ijon itu sangat merugikan petani. Kalau buah durian itu dijual dalam kondisi siap konsumsi keuntungannya bisa lebih besar. Bahkan, untuk satu pohon bila dijual secara wajar bisa menghasilkan pendapatan antara Rp 5-7 juta,” paparnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Ruang Kelas SDN Kertonegoro 3 Gunakan Tenda

Jember – Menyusul dihentikannya pembangunan rehab sejumlah ruang kelas di SDN Kertonegoro 3 Jenggawah akibat ambruk terkena banjir akhir tahun kemarin, hingga saat ini ruang kelas sementara didirikan. Ruang kelas sementara tersebut beratapkan tenda atau terpal.

“Kalau memang tembok kelas masih kuat maka atapnya pakai terpal dulu nggak apa-apa, yang penting tidak membahayakan siswa,” ujar Kepala UPTD Jenggawah, Rahmatullah.

Karena pembangunan dihentikan sementara hingga ada kejelasan akan dugaan penyimpangan pada pembangunan tersebut. Pasalnya jika pembangunan diteruskan dengan kondisi yang diduga sarat penyimpangan maka dikhawatirkan kualitas bangunan akan sangat jelek.

Sehingga pihak sekolah dan UPTD mengambil inisiatif untuk menggunakan tenda sementara saja. Sehingga kegiatan belajar mengajar masih bisa terus berlangsung. Karena siswa kelas 6 segera melaksanakan ujian akhir nasional.

“Kalau kegiatan belajar mengajar terganggu maka dikhawatirkan tidak hanya kualitas bangunan yang jelek, tetapi juga kualitas siswa akan jelek juga, sehingga sementara kita pakai tenda,” imbunya.

Sekolah tidak mau mengorbankan siswa karena sejumlah permasalahan yang sedang timbul.
Sayangnya, hingga informasi ini diberitakan, Kepala Bidang TK, SD Dinas Pendidikan Jember, H. Jumari, belum berhasil dikonfirmasi. (RI-1)

Selengkapnya...

Pembangunan SDN Kertonegoro 3 Dihentikan

Jember – SDN Kertonegoro 3 Jenggawah yang pernah diberitakan ambruk karena tergenang air banjir. Saat ini kondisinya tetap tidak beratap pada 4 lokal kelasnya. Pasalnya, pembangunan rehab ruang kelas yang dilakukan oleh CV Widya Dharma dihentikan oleh Kepala UPTD Jenggawah, Rahmatullah.

Menurut Rahmatullah pembangunan ruang kelas senilai Rp. 500 juta tersebut tidak sesuai bestek. Langkah tegas Rahmatullah tersebut berawal dari keluhan Kepala Sekolah SDN Kertonegoro 3 dan Komite setempat.

Pihak sekolah mengaku khawatir akan pembangunan sekolah yang baru saja dimulai tersebut. Pasalnya banyak kejanggalan pembangunan, seperti besi yang terlalu kecil dan tidak sesuai dengan bestek.

“Belum lagi kayu yang digunakan juga kebanyakan kayu bekas yang sudah lapuk, sehingga ini mengkhawatirkan kami selaku warga sekolah,” ujarnya menirukan pengakuan guru dan kepala sekolah SDN Kertonegoro 3.

Padahal sekolah sebelumnya ambruk karena kayu yang sudah tidak kuat lagi menyangga atap sekolah. Seharusnya kayu diganti dengan yang baru.

Bahkan untuk membuktikan bahwa besi cor tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai bestek, warga sekolah juga membongkar salah satu tiang cor yang sudah selesai didirikan. Alhasil ada besi 8, besi 10. “Padahal sesuai bestek besi yang harusnya dipakai adalah 12, berarti kualitas diragukan,” imbuhnya.

Sementara itu Inspektur Inspektorat Jember, Abdul Muis, menegaskan jika ada laporan masuk maka dirinya bakal terjun langsung untuk memeriksa kondisi rehab bangunan baru tersebut.

Dan jika terbukti ada penyimpangan anggaran disana, maka pihaknya bakal bertindak tegas dengan menjatuhkan sangsi setelah semuanya dilaporkan ke Bupati Jember. (RI-1)

Selengkapnya...

Baru Dibuka, Pekan Raya Durian Diserbu Pengunjung

Jember – Baru menginjak hari pertama pekan raya durian di Jubung, Mangli Jember, sudah dipadati pengunjung. Pengunjung yang datang ke pekan durian tersebut berasal dari sejumlha kota di sekitar Jember. Diantaranya dari Bondowoso, Banyuwangi dan Lumajang serta dari sejumlah kecamatan di Jember sendiri.

Mayoritas pengunjung, rata-rata ingin melihat berbagai jenis durian lokal Jember yang tidak kalah dengan durian montong dari luar negeri. Seperti diberitakan kemarin, sejumlah jenis durian lokal didatangkan dari Sumberjambe.

“Beberapa varietas lokal yang unggul tersebut diantaranya adalah durian si pelor, Pelai, Ronjengan, si Kasur, si Belanda dan si Fatima,” ujar Kadiskop Jember, Ir Mirfano. Beberapa jenis durian tersebut pada tahun lalu sempat memenangi kontes durian di Sumberjambe.

Yang selanjutnya durian lokal temuan petani setempat tersebut terus dikembangkan dan dibina oleh Dinas Pertanian Jember.

Sementara itu, penyelenggara pekan raya durian belum bisa memastikan jumlah durian yang laku hingga Sabtu siang (28/2). Karena pengunjung masih terus berdatangan dan memadati areal penjualan durian di bekas TPK Perhutani Jubung, Mangli.
Meski demikian Mirfano mengaku tidak khawatir akan kehabisan stock durian. Pasalnya ribuan durian sudah dipesan dan disediakan untuk memenuhi kebutuhan pembeli pada pekan raya durian tersebut. (RI-1)

Selengkapnya...

Anggota Panwascam Janji Kawal Pemilu

Jember – Usai dilantik oleh Panwaskab Jember, sekitar 93 anggota Panwascam yang tersebar di seluruh kecamatan di Jember, berjanji bakal menciptakan pemilu yang berkualitas, panwascam juga janji bakal mengawal Pemilu 2009 hingga berjalan lancar.

Sementara itu Sekkab Jember, Drs. ec. Djoewito, yang turut hadir dalam pelantikan menyampaikan bahwa dengan dilantiknya para anggota panwas kecamatan (panwascam) ini, bisa mewujudkan pemilu yang demokratis, bersih dan independen. “Dengan harapan agar pelaksanaan pemilu 2009 bisa berlangsung dengan aman, tertib dengan menjaga norma-norma kepribadian bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, Pemilu merupakan perwujudan dari kedaulatan rakyat. Dengan pemilu yang sebentar lagi dilaksanakan ini, bupati Jember melalui sekkab jember meminta agar seluruh pihak mampu saling menjaga keadaan agar tetap dalam keadaan kondusif dan terkendali.

“Ibarat pertandingan sepak bola, Panwas adalah wasit. Oleh karena itu, diharapkan agar wasit mampu tegas, jujur, arif dan bijaksana dalam menegakkan aturan-aturan yang ada,” imbuhnya.

Di sisi lain, Perwakilan Panwas Prop. Jawa Timur, Abdullah Kusaeri, juga menyampaikan tugas-tugas panwas sangatlah berat dalam rangka mewujudkan pemilu yang bersih, dan berkualitas.

Abdullah juga mengingatkan agar dalam melaksanakan tugas, panwas harus mampu mengedepankan kepentingan masyarakat, kepentingan negara diatas kepentingan pribadi. (RI-1)

Selengkapnya...

Cipta Karya Mulai Percepat Proses IMB

Jember - Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Cipta Karya Jember yang baru terbentuk sebulan lalu, naga-naganya mulai menunjukkan kinerja. Kepala DPU Cipta karya, Ir Merwin Lusiani mensosialisasilkan programnya dan terus bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Menurutnya di DPU Cipta Karya terbagi dalam 4 bidang yaitu, Tata Bangunan dan Perijinan, Tata Kota dan Pedesaan, Kebersihan dan PJU dan yang terakhir bidang Pemukiman dan Perumahan.

Khusus untuk tata bangunan mulai dilaksanakan penertiban dan mempercepat proses perijinan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan). Menurut Merwin, prosedur pengurusan IMB melalui tahapan dari desa/kelurahan, kecamatan dan setelah dilengkapi persyaratannya akan segera di survey.

Apabila tidak menemui kendala di lapangan, maka IMB bisa segera diterbitkan, tentang biaya yang ditetapkan maka di bayar sesuai Perda. “Kami akan segera mensosialisasikan cara memperoleh IMB dengan mudah kepada masyarakat, terutama di tingkat desa di seluruh kecamatan,” ujarnya.

Hal ini erlu ditegaskan karena menurut Merwin, masih banyak bangunan di Jember yang belum ber-IMB. Pasalnya masih banyak masyarakat beranggapan kalau mengurusi IMB sangat sulit.

Dijelaskannya, perencanaan dengan titik berat penataan ruang dilakukan melalui penertiban ijin-ijin bangunan dengan kesesuaian fungsi kawasan, wilayah maupun kegiatan-kegiatan bangunan dalam kawasan yang bermuara untuk keserasian dan keseimbangan terhadap lingkungan akibat pembangunan yang terkendali. (RI-1)

Selengkapnya...

Petani Siap Datangkan 1500 Durian

Jember – Persiapan pecan raya durian di outlet Jember, Jubung Mangli, sudah memasuki massa paripurna. Persiapan yang dilakukan sudah betul-betul matang. Bahkan salah satu koperasi Samarot yang menaungi sejumlah petani durian, siap memasok durian sebanyak 1500 buah.

Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Koperasi Jember, Ir. Mirfano, selaku pencetus kegiatan pecan raya tersebut. Adapun jenis durian yang akan dijajakan sekaligus dipamerkan antara lain durian si Pelor, Polai, Ronjengan, Kasur, si Belanda dan Fatima.

“Jenis durian lokal ini merupakan buah durian unggulan petani kecamatan sumberjambe, rasayanya luar biasa,” ujarnya.

Digelarnya pameran di Jember Outlet ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan para petani buah durian, selain itu juga membantu mempermudah pemasarannya.

“Dengan pasar raya durian ini kita berusaha menarik perhatian para maniak buah durian supaya datang ke Sumberjambe,” tegasnya.

Durian Sumberjambe memiliki varietas yang khas dan banyak diminati oleh masyarakat Jember, bahkan sangat diminati oleh penggemar durian tingkat regional.

“Kita mengajak masyarakat Jember dan di luar jember, supaya berkunjung ke Sumberjambe, karena di sini banyak buah durian yang memiliki rasa yang khas terutama durian-durian varietas unggul yang pohonnya berumur antara 100 sampai 200 tahun,” ungkapnya (RI-1)

Selengkapnya...

Jepang Hibahkan Proyek Air Bersih ke Arjasa

Jember - Bantuan hibah dari pemerintah Jepang untuk proyek pembangunan pengadaan sarana prasarana air bersih, Kamis (26/2) siang tadi diresmikan dan diserahkan kepada warga oleh Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Kemuning Lor. Dalam peresmian proyek tersebut Konjen Jepang Mr. Yasuji Odoko didampingi Wakil Bupati Jember Kusen Andalas.

Proyek pembangunan pengadaan sarana air bersih di Desa Kemuning Lor dan Desa Suco Pangepok, masing-masing di Kecamatan Arjasa dan Jelbuk, pembangunannya dikerjakan dengan pola pembangunan pemberdayaan masyarakat yang diorganisir oleh Pusat Studi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PS-PSDM) dengan menggunakan Dana Bantuan Hibah dari Pemerintah Jepang untuk keamanan manusia di tingkat grassroots atau yang lebih dikenal dengan Grass-roots Grant Assistance Scheme.

Wakil Bupati Jember, Kusen Andalas, berpesan kepada masyarakat di dua desa tersebut, untuk menjaga sarana prasarana fisik tersebut dengan baik, agar dapat dimanfaatkan tidak saja pada masa sekarang ini, tetapi kepada anak cucu kita juga dapat merasakannya kelak dikemudian hari.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Konjen Jepang Mr. Yasuji Odoko di Kemuning Lor menjelaskan terlaksananya pembanguan pengadaan air bersih tersebut atas adanya hubungan kerjasama yang baik antara perintah Jepang dan Indonesia serta terlaksananya koordinasi yang baik antara pengelola proyek PS-PSDM di Jember.

“Kami mengharapkan adanya kerjasama antara masyarakat sekitar dan pemerintah daerah untuk menjaga dan merawat fasilitas yang telah kita bangun ini agar dapat bermanfaat dengan baik,” pesannya.

Lebih jauh dikatakan bahwa proyek ini memakan biaya sebesar US$ 84,039 dan telah diselesaikan dalam waktu satu tahun dari tanggal ditandatanganinya proyek bantuan hibah ini pada 27 Pebruari 2008.

Dari data yang terhimpun, maka proyek pembangunan sarana prasarana air bersih ini sudah rampung seluruhnya yaitu di Desa Kemuning Lor meliputi pembuatan Bak Sumber (1 bh), Bak Saring (1 bh), Bak Tandon (10 bh), Kran Umum (43 bh) dan Kantor Hipam sebanyak 1 unit. Sementara di Desa Suco Pangepok Kecamatan Jelbuk meliputi pembuatan Bak Sumber (2 bh), Bak Saring (2 bh), Bak Tandon (8 bh), Kran Umum (54 bh) dan MCK sebanyak 2 unit.

Sedangkan sasaran pelayanan untuk Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa akan melayani jumlah penduduk sebanyak 1015 jiwa (276 KK) meliputi dusun Darungan, Kopang Kebun dan Dusun Krajan, sementara di Desa Suco Pangepok Kecamatan Jelbuk akan melayani penduduk sebanyak 600 jiwa (180 KK) dengan cakupan wilayah dusun Tenap. (RI-1)

Selengkapnya...

Hanya Di-Tipiring, Ratusan PKL Tetap Bandel

Jember – Selama 6 bulan terakhir ini Sat Pol PP PEmkab Jember berulangkali melakukan sweeping atau membersihkan) bedak-bedak Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang jalan Gajah Mada. Pasalnya, ratusan PKL yang tersebar di sepanjang jalan protokol tersebut tetap bandel berjualan di sepanjang badan jalan.

Bandelnya para PKL tersebut menurut Kasat Pol PP, Soenyoto, karena sangsi yang diterima hanya ringan. "Mungkin mereka merasa sangsi ringan sehingga tetap bandel berjualan di jalan-jalan," ujarnya.

Bentuk sangsi tersebut yakni masuk di tindak pidana ringan (Tipiring), yang tentu saja hanya dijatuhi hukuman denda beberapa rupiah saja.

Padahal menurut Soenyoto, posisi bedak-bedak tersebut selain mengganggu ketertiban dan keindahan kota, juga mengganggu para pejalan kaki, karena dipasang di trotoar bahkan di badan jalan. Untuk itu, pihaknya selalu melakukan penertiban secara rutin di seluruh kawasan Segitiga Emas dimana kawasan ini merupakan kawasan vital karena berada di sekitar jantung kota.

“Para PKL jangan coba-coba memasang bedaknya di sepanjang jalan Segitiga Emas, baal kita bersihkan secara terus menerus,” tegasnya.

Ia mengatakan, kesalahan besar yang dilakukan oleh PKL selama ini karena telah berdagangan di trotoar dan badan jalan. Karena perilaku tersebut melanggar Peraturan Daerah dan mengganggu arus lalu lintas dan pejalan kaki. (RI-1)

Selengkapnya...

Kotak Surat

Nama
E-mail
Pesan