Pasca Bencana, Dana Tak tersangka Tidak Mencukupi

Jember – Pasca bencana banjir bandang yang terjadi awal tahun 2009 lalu, Pemkab Jember mengaku kewalahan menanganinya. Pasalnya, dari total kerugian yang diderita Pemkab dan masyarakat senilai Rp. 12 miliar tidak bias dipulihkan dalam waktu dekat ini.

Menurut Kabag Penyusunan Program (Sungram) Pemkab Jember, Drs. Slamet Urip Santoso, untuk tahun anggaran 2009 ini, Pemkab hanya mempunyai dana tak tersangka sebanyak Rp. 4 miliar saja.

“Sehingga tidak cukup untuk melakukan rehabilitasi dan relokasi keseluruhan korban dan sarana-prasarana yang telah rusak, karena dana tak tersangka yang ada hanya Rp. 4 miliar,” ungkapnya.

Menurut Urip Pemkab saat ini sedang berpikir keras untuk menutupi kekurangan tersebut. Yang rencananya bakal diambilkan dari sejumlah anggaran lain. “JAdi sisanya insyaalllah bakal diambilkan dari anggaran lain,” imbuhnya.

Urip mencontohkan, untuk unit kerja PU atau Pengairan, bias diambilkan dari pos dana program yang lain. Seperti misalnya pembangunan jembatan atau plengsengan, bias diambil sebagian untuk memperbaiki plengsengan dan jembatan yang rusak, meski belum teranggarkan.

Sementara rencana pembangunan jembatan atau plengsengan yang sudah terlanjur dianggarkan bias ditunda dikerjakan pada perubahan anggaran yang akan dating.

“Yang penting untuk penanganan bencana dahulu, karena anggaran tak tersangkanya kurang maka ditutupi dengan yang lain,” imbuhnya.

Menurutnya dana tak tersangka sebanyak Rp. 4 miliar tersebut langsung dibagi ke Dinas Pendidikan sekitar Rp. 1 miliar, DPU Rp. 1 miliar, Dinas Pengairan Rp. 1 miliar dan sisanya dibagi ke Dinas Pertanian, Dinas Peternakan serta Dinas Sosial. (RI-1)

Selengkapnya...

Laka di Jember, Kualitas NAik, Kuantitas Turun

Jember – Selama tahun 2008 lalu, angka kecelakaan (Laka) lalu lintas (Lantas) di Jember menurun dibandingkan dengan tahun 2007. Sayangnya penurunan angka laka lantas tersebut tidak diikuti dengan kualitas laka lantas yang menurun juga.

Pasalnya meski secara kuantitas menurun namun secara kualitas meningkat. Terbukti data yang ada di Unit Laka Satlantas Jember, menyebutkan bahwa tahun 2007 ada 768 laka lantas, tahun 2008 ada 449 kejadian. Sedangkan yang meninggal di tahun 2007 ada 197 jiwa, dan 243 jiwa di tahun 2008.

Menurut KAsatlantas Polres Jember, AKP IM Agus Prasetya, menurunnya angka laka lantas tersebut diantaranya karena berkat kerjasama Marka Lintas dengan mahasiswa Unej.

Selain itu juga karena gencarnya sosialisasi tentang tertib berlalu lintas. “Disamping itu juga banyaknya baliho himbauan tentang berlalu lintas yang baik dan sesuai dengan prosedur, di jalan-jalan menurut masyarakat banyak bermanfaat sebagai pengingat,” jelasnya.

Agus juga kembali menghimbau kepada pengguna jalan untuk terus berhati-hati, agar kedepan baik secara kualitas maupun kuantitas terus menurun.

Dan yang terakhir selain himbauan, Kapolres Jember AKBP Drs Ibnu Isticha, dan Kapolwil Besuki Kombes Pol Drs Imam S, juga sudah melakukan penandatanganan MoU (kesepahaman dan kesepakatan) dengan Universitas Negeri Jember (Unej) diwakili Rektor Unej, Prof Ir Sutikto, Msi, di aula Rektorat Unej untuk meningkatkan kamtibmas berupa Resource Sharing. (RI-1)

Selengkapnya...

Ujian SIM Pakai Soal Digital

Jember – Guna meminimalisir merebaknya calo di lingkup Satlantas Polres Jember, khususnya untuk membuat Surat Ijin Mengemudi (SIM), mulai saat ini system ujian yang diterapkan menggunakan teknologi digital.

Soal multiple choice yang diujikan ditampilkan dilayar, sedang peserta ujian tinggal menekan tombol jawaban. “Waktunya juga lebih singkat. Selain tampilan soal di layar lebar, peserta ujian tidak bisa saling contek,” tutur KASatlantas Polres Jember, AKP IM Agus Prasetya.

Duduk para peserta ujian kendati berjarak dekat mereka mendapati soal tidak sama. Tiap lajur peserta ujian dibagi dua deret. Deret kiri soal A, dan deret kanan soal B.

Model ujian mendapatkan SIM A , dan C di Polres Jember ini diakui Kapolwil Besuki Kombes Pol Drs Imam S, sangat baik. Bahkan melebihi kemajuannya dalam pelayanan prima di masyarakat. Masyarakat tidak pernah bisa menggunakan calo, karena berhadapan dengan mesin digital.

Sistem antrian menunggu panggilan pembayaran juga sudah menggunakan digital seperti di Perbankan. Penggunaan teknologi informasi ini, diakui merupakan inovasi pelayanan prima di Polantas Jember. Semua petugas tinggal mengawasi dan memberi arahan agar peserta bisa mengikuti ujian tulis dengan baik.

Bahkan, ujian praktek juga akan menggunakan digital motor. Peserta yang akan ujian wajib mengikuti test ini. Peserta seakan berada di jalan raya secara sesungguhnya. Dan kemampuan pengendara di jalan raya ini akan teruji di sini.

Untuk tahap awal pengenalan sistem digital ini diakui sangat sulit. Tapi, dengan pelatihan dan bimbingan petugas para peserta bisa dengan lancar mengerjakan. Dan tingkat kelulusannya tidak lagi sedikit, tapi sudah mencapai 98 %. (RI-1)

Selengkapnya...

PAsca Banjir, Kerusakan PAdi Dianggap Tidak Parah

Jember – Pasca banjir banding yang menimpa ribuan rumah dan ratusan hektar arela persawahan di Jember, ternyata menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan, Ir. Hari Wijayadi, tidak mengakibatkan kerusakan tanaman padi yang berakibat gagal panen.

Pasalnya, Harry menganggap kerusakan tanaman padi akibat bencana banjir tidak terlalu signifikan sehingga tidak akan mempengaruhi produksi pangan. “Rata-rata tanaman padi saat ini baru mulai tanam, sehingga jika rusak bisa disulam atau tanam ulang, menunggu genangan air surut,” ujarnya.

Harry berharap petani bisa membaca situasi alam, kapan mereka harus memulai tanam dan kapan harus menunda tanam.

Namun pernyataan Harry tersebut disesalkan salah satu petani asal desa Ajung, Handoko Seto. Menurut Seto, meski musibah banjir saat ini tidak mengancam menurunnya produksi padi Jember. Tetapi mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi petani.

“Bagaimana tidak rugi, kalau kita baru tanam seminggu atau sebulan, tahu-tahu kena banjir dan harus tanam lagi mulai dari nol, berapa kerugian yang diderita petani,” ujarnya.

Seto mengungkapkan secara hitungan kasar saja, minimal petani bakal mengeluarkan dana sekitar Rp. 2,5 juta untuk tanam benih padi setiap hektarnya. Itupun belum termasuk pupuk.

“Bisa dibayangkan kalau harus kembali mengeluarkan dana sebesar Rp. 2,5 juta per hektarnya, karena tanaman rusak parah, biaya produksi membengkak, sementara hasil panen belum bias diketahui,” tuturnya.

Sehingga pihaknya minta pada Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan untuk turut memikirkan atau membantu petani dalam mengatasi kesulitan yang diderita saat ini. (RI-1)

Selengkapnya...

20 Pasar Desa Dapat Dana Segar

Jember – Pemkab Jember terus melakukan peningkatan kesejahteraan perekonomian masyarakat desa. Salah satunya dengan cara menyalurkan bantuan stimulan kepada pasar desa. Nantinya bantuan tersebut bisa digunakan untuk merehabilitasi los-los pasar tempat para penjual menggelar dagangannya.

Kabid Pengembangan Perekonomian Masyarakat Bappemas Kabupaten Jember, Drs. Mukhair Djauhari, mengatakan jumlah dana stimulan pasar desa tahun 2009 akan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dana stimulan pasar desa tahun ini ditambah, karena program ini dinilai berhasil membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Terutama sebagai tempat penjualan hasil bumi warga sekitar dengan para pedagang, sekaligus menjadi media perputaran modal bagi desa yang berjauhan dengan pasar kecamatan dan kota,” ujarnya.

Bila tahun sebelumnya, 20 pasar desa masing-masing mendapat dana stimulan untuk rehabilitasi los pedagang sebesar Rp 27,5 juta. Tahun ini, bantuan itu ditingkatkan lagi menjadi Rp 30 juta per pasarnya.

Bantuan ini sebagai tindak lanjut bantuan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2006 lalu, 12 pasar desa tradisional dijatah masing-masing Rp 21 juta, tahun 2007 nilainya ditambah menjadi Rp 25 juta untuk 6 pasar.

Di sisi lain Mukhair menjelaskan, syarat pasar yang mendapatkan bantuan tersebut diantaranya sudah ada embrionya, yakni sebagai tempat masyarakat menjual hasil bumi serta mencari berbagai kebutuhan pokok sehari-hari.

“Pasar tipe pasar ini biasa disebut masyarakat setempat sebagai pasar krempyeng, umumnya menjual berbagai macam komoditas pertanian dan bahan makanan pokok yang diperlukan masyarakat desa,” tuturnya.

Guna menentukan lokasi pasar yang layak menerima bantuan, katanya, Bappemas melakukan survei di lapangan terlebih dahulu. Kemudian memastikan bahwa pasar tersebut berada di atas tanah kas desa. “Pasar yang menjadi sasaran adalah pasar yang memang sebelumnya sudah cukup ramai, dan menjadi jujukan masyarakat mencari barang,” terangnya. (RI-1)

Selengkapnya...

2008, TNMB Ungkap 98 Kasus Ilegal Logging

Jember - Sepanjang Tahun 2008 lalu pihak Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) berhasil mengungkap 98 kasus tindak pidana kehutanan yang terjadi di wilayahnya. Sejumlah tindak pidana kehutanan tersebut diantaranya adalah pembalakan liar sebanyak 65 Kasus, perburuan liar 17 kasus, perambahan hutan 1 kasus.

Dan sisanya yakni kasus kebakaran hutan dan lahan sebanyak 2 kasus dan gangguan lainnya sebangak 13 kasus. Dari 98 kasus tersebut, 20 kasus terungkap dengan 40 tersangka.

“Sedangkan 78 kasus merupakan penemuan barang bukti kejahatan. Dan dari 20 kasus yang terungkap tersebut, 14 kasus diantaranya sudah proses sidang pengadilan dan sudah vonis,” ungkap Kepala Balai TNMB, Ir. Herry Subagiadi Msc.

Sisanya 6 kasus masih dalam proses penyidikan. Menurutnya walaupun berat menjalankan tugas menjaga kelestarian alam dan satwa yang terancam punah ini, pihaknya tetap berusaha sekuat tenaga untuk melestarikannya.

Namun kinerja TNMB dirasa belum maksimal oleh sejumlah LSM di Jember dan Banyuwangi. Salah satu diantaranya Yayasan Abdi Masyarakat yang selama ini menjadi pemerhati lingkungan khususnya kelestarian hutan di TNMB.

Ketua Abdi MAsyarakat, Moh. Husni Thamrin SH, menegaskan bahwa masih ada sejumlah kasus illegal logging yang belum terungkap secara tuntas di lingkungan TNMB. Sebagai misal salah satu kasus yang diduga kuat melibatkan oknum perwira menengah di Polres Jember.

Thamrin yang mengawal kasus tersebut mengaku kecewa, karena sejumlah tersangka dilepaskan beserta barang bukti, dengan alibi tidak cukup bukti dan saksi untuk menjerat tersangka.

“Saya sudah berusaha mengawal dan melaporkannya ke Mabes Polri, karena barang bukti cukup jelas dan tersangka tertangkap tangan di TKP, kenapa kok nggak diproses?” tanyanya dengan gusar.

Padahal pasca laporan tersebut, Tim Prov. Pam Polda Jatim juga sudah turun ke Jember. Sayangnya hingga tidak ada kelanjutan beritanya. “Bukan hanya itu baik Polres dan TNMB terkesan masa bodoh dengan kasus tersebut, padahal mereka harus serius menanganinya,” tegas Husni.

Untuk itu Husni mengaku terus mengawal berbagai kasus illegal logging yang ada dan terjadi di kawasan TNMB. “Sampai saat ini laporan masyarakat masih banyak masuk kepada kami, karena ilegal logging di wilayah TNMB masih marak,” ujarnya. (RI-1)

Selengkapnya...

TNMB Amankan 600 Telur Penyu

Jember – Menginjak minggu ke tiga awal tahun 2009, satuan pengamanan dari TAman Nasional Meru Betiri (TNMB) mulai menunjukkan kinerjanya. Pada awal minggu lalu, petugas TNMB di pantai Sukamade berhasil membekuk 1 orang pencuri telur bernama Siswanto (36 tahun).

Pelaku yang berprofesi pengangguran, merupakan warga dusun Sumber Langsep Sukamade. Menurut Kepala Seksi (Kasie) Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, RM Wiwied Widodo, Shut, pelaku berhasil diamankan lengkap dengan barang bukti berupa telur Penyu (Chelonia mydas) sebanyak 600 butir.

Wiwied menuturkan awal mula tertangkapnya pelaku bermula dari patroli rutin petugas pada hari Minggu tanggal 11 Januari 2009 dan Senin dini hari tanggal 12 Januari 2008 pukul 05.00, yang menemukan 5 (lima) lubang telur penyu sudah kosong dibobol maling. Petugas segera tanggap dan saat itu juga langsung melakukan pemeriksaan terhadap lalu-lintas orang dan kendaraan yang keluar dari pantai Sukamade.

Hasilnya petugas menemukan 600 butir telur penyu dalam karung yang ditutupi rumput di atasnya, diangkut dengan truk, sedangkan tersangka mengikuti di belakang truk. Berdasarkan keterangan saksi-saksi terungkap bahwa tersangka Siswanto adalah pemilik 600 butir telur penyu tersebut.

Dugaan petugas, tersangka tidak beraksi sendirian dan masih ada komplotan pencuri telur lain yang beraksi di Pantai Sukamade. (RI-1)

Selengkapnya...

Pembunuh Ayah Kandung Diperiksa Psikiater

Jember - Tersangka pelaku pembunuhan ayah kandungnya sendiri, Juprinato (24), bakal diperiksa tim psikiater. Pasalnya ada dugaan pelaku sudah mengalami gangguan kejiwaan semenjak lama.

Apalagi selama ini hasil pemeriksaan petugas dari Polsek Sempolan, belum membuahkan hasil. Penyebab pelaku membunuh bapak akndungnya, Pak Son (50) belum bias diketahui.

Kapolsek Sempolan, AKP Zainuri S.Sos, membenarkan rencana pemeriksaan tersebut. PAsalnya, untuk menjelaskan tersangka itu mengidap gangguan jiwa atau kelainan jiwa diperlukan keterangan pemeriksaan dokter jiwa. Termasuk keterangan saksi yang membenarkan adanya gangguan jiwa pelaku.

“Katanya, beberapa bulan terakhir kejiwaan pelaku memang agak terganggu. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dari psikiater," papar Zaenuri.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Senin (12/1) lalu pukul 14.30 WIB, di Desa Silo Kecamatan Sempolan, sempat gempar. Pasalnya, Sunoto alias Pak Son (50) tewas dibacok dengan clurit oleh anaknya sendiri, usai sholat duhur di salah satu musholah depan rumahnya.

Meski pelakunya kini sudah diamankan Polsek Sempolan, namun informasi terus digali. KArena, aksi nekat pembunuhan oleh Jupriyanto itu belum diketahui motifnya. Jika secara nalar tidak mungkin anak membunuh bapak sendiri.(RI-1)

Selengkapnya...

Sapi Rembangan Terus Dikembangkan

Jember - Dinas Peternakan dan Perikanan Jember terus berupaya menggairahkan kembali usaha sapi perah di kawasan Rembangan. Pasalnya, areal wisata rembangan yang sudah ada sejak lama, menurut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Ir. Dalhar, bakal lebih semarak jika budidaya sapi perah di lokasi tersebut semakin dikembangkan.

Sehingga tahun ini pihaknya masih berkonsentrasi pada pembibitan sapi perah. Apalagi semenjak dipercayakan kepadanya, jumlah sapi perah yang ada sudah terus bertambah.

“Dulu saat serah terima dari pengelola ke Dinas Peternakan dan Perikanan hanya tersisa 7 ekor, hingga saat ini sapi perah ini mampu berkembangbiak menjadi 36 ekor sapi,” tuturnya.

Jika pembibitan pada tahun 2009 ini berjalan sukses, maka dapat diprediksi keepan potensi susu rembangan bakal meningkat. Pasalnya mulai saat ini sudah banyak tawaran yang diajukan dari pabrikan susu kemasan kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Jember.

“NAmun karena kami belum mampu memenuhi permohonan tersebut maka untuk sementara ini focus dulu ke pembibitan,” imbuhnya.

Dalhar mengungkapkan, tawaran ini merupakan peluang bagi para peternak sapi perah di Jember agar bisa menghasilkan produksi susu untuk memenuhi kebutuhan.

Dia berharap kesejahteraan peternak sapi perah bisa meningkat seiring dengan peningkatan produksi susu. (RI-1)

Selengkapnya...

Pemkab Belum Pastikan Waktu Relokasi

Jember – Pemkab Jember hingga kini belum memastikan kapan bakal melakukan relokasi dan rehabilitasi kepada korban banjir bandang yang terjadi 5 hari lalu. Tak satupun pejabat Pemkab Jember, yang dengan tegas menyatakan waktu relokasi atau rehabilitasi rumah-rumah korban tersebut.

Sehingga banyak warga mengeluh, akan ketidakpastian tersebut. “Bagaimana tidak susah kita ini, seharusnya Pemkab atau Satkorlak menentukan kapan kita bakal dibantu,” ujar salah satu korban banjir yang rumahnya hanyut terseret air, warga Mayang, Harijah.

Selain Harijah masih ada ratusan kepala keluarga (KK) lagi yang juga mengalami hal serupa. Rata-rata para korban banjir bandang ini mengeluh atas keterlambatan Pemkab Jember menanganinya. Apalagi ada sejumlah keluarga yang harta bendanya ludes terbawa air.

Dan saat ini sejumlah KK tersebut menggantungkan hidupnya kepada tetangga dan sanak saudara. Mulai dari tempat tinggal hingga makan sehari-hari.

“Sudah seharusnya Pemkab segera memberi bantuan korban banjir seperti saya ini dengan bahan makanan, atau bahan bangunan untuk memperbaiki rumah,” ujarnya.

Sementara itu Kabag Humas Pemkab Jember, Drs. Agus Slameto, menyatakan bahwa bantuan merupakan kewenangan Dinas Sosial, dan dirinya yakin bantuan sudah dikucurkan. “Kalau memang dilapangan belum ada, maka bakal kita re cek ulang ke unit kerja yang bersangkutan,” jelasnya. (RI-1)

Selengkapnya...

Kotak Surat

Nama
E-mail
Pesan