Jember – Parkir berlangganan yang berlaku sejak tanggal 26 Januari 2009 lalu masih menuai protes dari warga. Protes yang kesekian kalinya ini dilakukan warga karena merasa dirugikan dengan program tersebut. Karena sudah membayar lewat Samsat disaat membayar pajak, tetapi tetap masih ditarik saat parker di jalan.
Sebelumnya warga protes karena pemberlakuan parker berlangganan yang sebelumnya ditetapkan berlaku sejak tanggal 1 Januari 2009 ternyata diolor ke tanggal 26 Januari 2009.
Warga berharap ketika usai membayar pajak dan setelah tanggal 26 Januari bisa parkir gratis di jalan, ternyata tetap ditarik oleh petugas parker di jalan. Apalagi di desa-desa, mayoritas juru parkir (jukir) masih tetap menarik uang parkir meskipun sudah terdapat stiker parkir berlangganan.
Menanggapi hal ini, Kadishub Jember, Sunarsono, menegaskan bahwa jika ada petugas parker yang masih memungut kendaraan yang sudah ada stiker parker berlangganan bakal ditindaknya.
“Tolong laporkan ke saya atau UPTD Parkir, biar kita tindak tegas, karena itu menyalahi aturan,” tegasnya.
Sunarsono berharap tidak ada lagi petugas di jajarannya yang melakukan pungutan parker kepada pengendara yang sudah membayar parker berlangganan. (RI-1)
RADAR INVESTIGASI
Warga Keluhkan PArkir Berlangganan
BPTD Usulkan Penurunan Tarif Angkot
Jember - Menyusul penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 Desember dan 15 Januari lalu, kini giliran masyarakat pengguna angkutan menuntut penurunan harga tarif angkutan. Menjawab kuatnya permintaan masyarakat tersebut, maka Badan Pembina Transportasi Darat (BPTD) Jember mengusulkan penurunan tarif angkutan sebesar 10 persen dari tarif sebelumnya seperti yang disebutkan oleh Menteri Keuangan beberapa hari lalu.
Idealnya ketika ada kenaikan harga BBM, maka tarif angkutan akan disesuaikan dengan kenaikan tersebut, sebaliknya ketika kurvenya dibalik artinya ketika ada penurunan harga BBM, tentunya harus juga ada penurunan tarif angkutan.
Menanggapi usulan dan kuatnya permintaan masyarakat akan penurunan tarif angkutan, Sekretaris BPTD Jember, Drs. H. Edi B. Susilo mengatakan usulan penurunan tarif angkutan di Kabupaten Jember telah dibahas dalam rapat dengan BPTD yang melibatkan pengurus Organda, rekan-rekan pengusaha angkutan, perwakilan penumpang serta dinas perhubungan.
Menurut Edi, melalui BPTD pihaknya akan melakukan revisi menyeluruh penurunan tarif. Tidak hanya untuk angkutan kota saja, tetapi juga akan berlaku bagi angkutan pedesaan, bus kota maupun taksi, lantaran berbagai armada tersebut bagian dari transportasi unum yang beroperasi di Jember. “Dengan kondisi itu, kami nantinya hanya bisa menentukan batas minimal penurunan tarif,” ujarnya.
Usulan penetapan tarif baru angkutan ini setelah ditemukan besaran tarif barunya tersebut akan diuji coba dan diberlakukan di sejumlah trayek. Jika tidak ada keluhan dari penumpang, maka perubahan tarif baru ini akan diusulkan untuk ditetapkan oleh Bupati Jember.
“Kami sedang mengusulkan dan merekomendasikan hasil sidang BPTD kepada Bupati Jember untuk mendapatkan persetujuan dan penetapan melalui Peraturan Bupati (Perbub),” tegasnya.
Jika Perbub itu turun, kata Edy, maka hal tersebut akan menjadi pengikat bagi seluruh masyarakat Jember, baik penyedia jasa angkutan maupun masyarakat pengguna jasa transportasi Jember. (RI-1)
Dishub Gencarkan Sosialisasi Parkir Berlangganan
Jember - Parkir berlangganan yang akan berlaku Januari 2009 mendatang, ternyata masih belum banyak diketahui oleh pemilik kendaraan atau pengguna jalan. Hal inilah yang kemudian membuat Dishub Jember semakin gencar melakukan sosialisasi.
“Karena banyak masyarakat yang belum memahami parkir berlangganan itu, maka kami terus lakukan sosialisasi dengan sejumlah pihak termasuk masyarakat,” ujar Kepala UPT Parkir Dishub Jember, Samsul Hidayat.
Menurut Samsul, beberapa hal yang selalu ditandaskan yakni bahwa parkir berlangganan ini hanya diterapkan di areal parkir badan jalan. Sedang parkir di halaman pertokoan, rumah sakit dan tempat-tempat sejenisnya tidak berlaku berlangganan.
Samsul meminta masyarakat memahami Perda No 12 tahun 2008 tentang Parkir Berlangganan itu. Sebab, secara ekonomi, program ini lebih hemat bagi masyarakat karena setiap tahun kendaraan roda dua dikenakan biaya Rp 20.000 dan Rp 40.000 untuk kendaraan roda empat. Untuk kendaraan roda enam Rp 50.000 dan untuk taxi Rp 25.000.
Di sisi lain, Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan, I Putu Budiada mengaku segera menandatangani kerjasama operasional parkir berlangganan dengan Dispenda Propinsi dan Polri.
Kendati bisa menyebutkan sebagai kewajiban, tapi ia menganggap Perda No 12 tahun 2008 bersifat mengikat. Nantinya ada 2 jenis penerapan parkir, yaitu parkir berlangganan dan parkir harian untuk kendaraan luar kota .
UPTD Parkir sendiri bakal menempatkan 2 orang jukir di satu areal parkir yang banyak kendaraannya. “Hal ini untuk memenuhi keinginan para jukir yang minta tenaga tambahan di satu areal parkir yang banyak kendaraannya. Termasuk bertugas menentukan jarak jukir dalam mengawasi kendaraan,” ujarnya. (RI-1)
PT KAI Daops XI Tambah 14 Gerbong
Jember – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops XI Jember, menambah 14 gerbong tambahan selama perayaan liburan Natal dan Tahun Baru.
Humas Daops IX Jember Haryanto memaparkan 14 gerbong tambahan itu disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
"Ada kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi. Kita prediksikan ada lonjakan penumpang liburan hingga Tahun Baru 2009 ini," tukasnya.
Dari 14 gerbong itu terdiri dari 6 gerbong KA Ekonomi, 6 gerbong KA Bisnis dan 2 gerbong KA Eksekutif.
Terhadap tambahan gerbong ini akan disesuaikan di lapangan. Jika penumpang sedikit maka tidak perlu ada tambahan gerbong. Tapi jika ada peningkatan penumpang, maka gerbong tambahan akan dipasang.
Prediksi lonjakan penumpang Natal dan Tahun Baru 2009 kali ini ditaksir mencapai 4 persen dibanding tahun 2008 lalu.
"Tahun 2008 jumlah penumpang mencapai 80 ribu orang dan tahun 2009 ini akan meingkat 84 ribu orang," bebernya.
PT KAI Operasi IX Jember mencatat, tanggal 25 Desember lalu, jumlah penumpang semua kelas dan semua tujuan stasiun Jember 1.879 orang. Dibanding tahun 2007, tanggal yang sama, kenaikan ada 32,67 persen.
Sedang di tanggal 24 Desember, sehari sebelum Hari Natal, jumlah penumpang di stasiun Jember 2008 ada 1.444 orang. Berarti ada peningkatan 18,97 persen dibanding tahun 2007.
Volume penumpang tertinggi kelas ekonomi tercatat tanggal 25 Desember yakni 966 orang. Volume tertinggi untuk lokal tercatat tanggal 24 Desember yakni 594 orang.
Volume tertinggi kereta bisnis pada 24 Desember yakni 277 orang, dan volume tertinggi untuk eksekutif tanggal 25 Desember dengan 166 orang penumpang.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihaknya juga telah menyiapkan posko bencana di sepanjang jalur wilayah Daops IX Jember mulai Pasuruan - Banyuwangi. (RI-1)
Bantalan Rapuh, Kereta Barang Anjlok
Jember – Diduga kuat karena bantalan rel lapuk, rangkaian gerbong kereta api pengangkut bahan bakar lokomotif high solar diesel atau HSG, Jumat (7/11) pagi, anjlok di Stasiun Jember.
Rangkaian kereta tersebut sebenarnya baru saja tiba dari stasiun pengisian bahan bakar Benteng Surabaya. Menurut Humas PT KAI Daops IX Jember, Hariyanto, rencananya kereta tersebut akan bongkar muat di Depo Lokomotif PT Kereta Api Daerah Operasi IX Jember.
Namun baru memasuki rel yang menuju depo tiba-tiba anjlok dan keluar rel. sehingga bongkar muat urung dilakukan untuk gerbong yang sudah terlanjur anjlok.
“Untungnya, tidak pada jalur rel kereta penumpang, sehingga evakuasi tidak menggangu jalannya atau jadwal kereta api lain,” jelasnya.
Pihaknya hingga Jumat siang belum bisa memberikan keterangan pasti akan penyebab anjloknya kereta barang tersebut. Namun dugaan sementara ada dua hal penyebab anjloknya rangkaian kereta yang baru saja tiba tersebut.
Diantaranya karena bantalan rel yang sudah lapuk atau akibat human eror atau kesalahan dari awak kereta sendiri.
Petugas PT KA Daops IX Jember sendiri sampai saat ini masih menyelidiki kasus tersebut. Dan hingga Jumat sore ini proses evakuasi masih terus berlangsung. (RI-1)
Diduga Bodong, Jasaraharja Tidak Beri Santunan
Jember – Mobil pick-up T-120 yang mengalami kecelakaan tunggal di perkebunan milik PT. JA Watie, sabtu sore (27/9), diduga bodong alias tidak memiliki surat menyurat. Sehingga pihak PT. Jasa Raharja Jember tidak bakal memberikan santunan kecelakaan kepada korban kecelakaan tersebut.
Hal ini ditegaskan oleh Kepala Jasa Raharja Jember, Gunawan, usai patroli bersama jajaran kepolisian di sejumlah ruas jalan yang digunakan mudik lebaran 1429 hijriah ini.
“Hasil sementara kami menemukan bahwa kendaraan tersebut bodong, sehingga tidak dijamin oleh asuransi jasa raharja,” ujar Gunawan. Selain itu, kecelakaan yang terjadi di kebun Kopi afdeling Keputren kecamatan Sukorambi tersebut merupakan kecelakaan tunggal.
Sehingga sesuai dengan undang-undang yang ada PT. Jasa Raharja tidak berhak memberi santunan kepada korban kecelakaan baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka.
Tercatat dalam kejadian naas disore kemarin ada 4 korban meninggal dunia karena tergencet karung kopi dan mobil yang terguling. Dan lima lagi selamat namun mengalami luka cukup serius dan saat ini sedang dirawat di RSUD dr. Soebandi Jember.
Gunawan menyayangkan pemilik perkebunan yang tidak membayar iuran jasa raharja dan melengkapi kendaraannya dengan lengkap. Sehingga ketika ada musibah seperti ini pihaknya tidak bias berbuat banyak.
Pantauan wartawan RI tiga korban luka parah masih tidak sadarkan diri di ruang instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr. Soebandi. Sedangkan dua lainnya sudah menjalani rawat inap di sal umum.
Sedangkan empat korban tewas bakal dikebumikan di pemakaman umum di desa asalnya di dusun Nogosari, Sukorambi, setelah menjalani autopsi. Penyebab kecelakaan sendiri menurut sumber di unit Laka Lantas Polres Jember, adalah rem mobil yang tidak berfungsi. Sehingga tidak kuasa menahan laju kendaraan dengan muatan kopi mentah dan sembilan penumpang.PAda akhirnya mengalami selip dan terguling. (RI-1)
Pemkab Tambah 4 Miliar Untuk Lapter
Jember – Pemkab Jember naga-naganya semakin serius hendak mengoperasinalkan bandara Notohadinegoro. Hal ini terlihat dari upaya melengkapi sarana dan prasarana pendukung bandara.
Menurut Kadishub Jember, Sunarsono, pada perubahan APBD (PAPBD/PAK) 2008 ini Pemkab telah mengalokasikan anggaran sebanyak Rp. 4 miliar.
Dana sebanyak itu menurut Sunarsono, bakal digunakan untuk pengadaan mobil pemadam kebakaran bandara. Karena semenjak dioperasionalkan Agustus lalu, mobil pemadam kebakaran selalu pinjam dari DPU Jember.
Selain untuk membeli mobil pemadam kebakaran, dana juga bakal digunakan untuk membangun tempat parkir mobil pemadam kebakaran. Dan membangun jalan penghubung antara tempat parkir pemadam kebakaran dengan run way, taxi way, dan apron.
“Disamping itu kami juga bakal membangun pagar bandara, jadi sebagian pagar kawat berduri yang mengelilingi bandara akan diganti dengan pagar tembok,” ujarnya.
Karena selama ini pagar kawat rawan dirusak orang, sehingga perlu diganti dengan tembok. Selain itu lokasi yang bakal dibangun adalah pagar yang paling jauh di wilayah barat bandara.
Di sisi lain Sunarsono juga menjelaskan bahwa untuk akses jalan menuju bandara juga bakal dibangun dan anggarannnya ada di DPU Jember. (RI-1)
37 Bus Angkutan Lebaran Tak Laik Jalan
Jember – Diperkirakan mencapai 37 Armada Bus yang beroperasi di wilayah Jember dinyatakan tidak layak jalan untuk angkutan Lebaran tahun ini.
Demikian temuan dari Tim Gabungan Badan Pengujian Kendaraan Bermotor Jember yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap semua kendaraan bus yang beroperasi di 3 Terminal Jember.
Sidak dan uji emisi ini dilakukan secara serentak di Terminal Tawangalun, Terminal Arjasa dan Terminal Pakusari.
Tim ini dengan alat canggih otomatis memeriksa kadar asap pembuangan dan kelaikan kinerja onderdil kendaraan, seperti setir, rem, dan lain sebagainya.
"Dari 149 bus yang beroperasi di Jember kami temukan 37 tidak layak jalan," ujar Kepala Uji Kelayakan Kendaraan Bermotor Jember, J. Suhartono, Senin (22/9) siang.
Suhartono menambahkan, ketiga puluh tujuh bus yang tidak layak jalan, tapi selama ini tetap beroperasi dan akan dioperasikan untuk Lebaran 2008.
Katanya semua berasal dari enam (6) Perusahaan Otobus (PO) yang ada di Jember. Secara rinci, kendaraan yang tidak laik jalan itu berasal dari PO Jember Indah 7 unit bus tidak layak jalan, PO Kenongo 6 unit bus, PO Kencono 5 unit bus, PO Borobudur 5 unit, PO Restu Agung 2 unit dan PO AKAS sebanyak 12 unit.
Menjelang lebaran tahun ini, Tim Gabungan Badan Pengujian Kendaraan Bermotor Jember (GBPKBJ), Sat Lantas Polres Jember dan Sub Denpom akan terus menggelar inspeksi mendadak (sidak) terhadap sejumlah angkutan umum di Terminal dan perbatasan kota.
Sasarannya terutama bus, dan mobil penumpang umum (MPU). 'Selain peralatan kendaraan, kami juga akan periksa kelengkapan izin, trayek. Ini demi keselamatan penumpang," bebernya.
Sejauh ini, bagi perusahaan otobus yang memiliki bus tidak layak jalan ini hanya diberi teguran keras untuk memperbaiki dalam tempo 2 X 24 jam.
"Jika setelah itu kami periksa dan tidak diperbaiki kami langsung kandangkan dan larang operasi,” ujarnya.
Selain itu, dia juga akan memberikan sanksi tegas sesuai dengan UU 14/1999 tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan jika masih tetap membandel. (RI-1)
Bantalan Rel Mulai Diganti
JEMBER - PT KAI Daops 9 Jember menargetkan paling lambat H -7 Lebaran semua pekerjaan penggantian bantalan rel bisa diselesaikan. Hal ini dimaksudkan agar semua perjalanan kereta api (KA) selama arus mudik dan balik Lebaran lancar.
Pengawas Operasi Perjalanan KA PT KAI Daops 9 Jember Eko Suminto mengemukakan, tahun ini di wilayah Daops 9 ada pekerjaan penggantian bantalan rel sepanjang 10 km. "Lokasinya antara Jatiroto sampai Randuagung, Lumajang," ungkapnya kepada wartawan.
Penggantian bantalan rel di ruas Jatiroto - Randuagung, lanjut dia, dilaksanakan karena bantalan di sepanjang jalur itu sudah tidak layak. Secara bertahap, semua bantalan rel dari kayu akan diganti dengan beton sampai 2013 nanti.
Sampai saat ini, kata dia, dari 261 km panjang lintasan KA di wilayah Daops 9, masih ada 42 persen (111 km) rel yang berbantalan kayu. Sedangkan 51 persen (135 km) lainnya sudah berbantalan beton, dan sisanya 5 persen (14 km) berbantalan besi.
Meski demikian, kata Eko, sebenarnya proses penggantian bantalan rel di ruas Jatiroto - Randuagung sudah selesai dilaksanakan. Tetapi, masih harus dilakukan finishing dengan melakukan pemadatan dengan batu kerikil.
Menurut dia, bantalan beton memiliki banyak kelebihan dibandingkan bantalan kayu atau besi. Bantalan beton memiliki umur ekonomis lebih kuat karena bisa bertahan hingga 20 tahun.
Selain itu, bantalan beton lebih mampu menahan tekanan beban kereta. Karena, antara besi rel dengan beton ada semacam karet peredam beban dan getaran. "Sehingga lebih nyaman. Kalau bantalan kayu, cepat lapuk. Sedangkan bantalan besi lebih kaku," terangnya.
Sekadar mengingatkan, menjelang akhir Agustus lalu terjadi kecelakaan KA di ruas Randuagung. Kecelakaan diduga akibat penggantian bantalan rel yang belum tuntas. Satu as roda gerbong eksekutif KA Mutiara Timur anjlok. Tak ada korban jiwa maupun luka-luka dari penumpang dalam kejadian itu.
Anjloknya KA Mutiara Timur itu bukan yang pertama. Beberapa pekan sebelumnya, sebuah KA barang anjlok di dekat Stasiun Rambipuji. Dan Januari lalu, KA Sritanjung anjlok di sekitar Randuagung. "Tapi, untuk mengetahui penyebab persis kecelakaan KA harus dilihat dari semua faktor. Karena faktornya sangat banyak," ujar mantan humas Daops 9 ini.
Sementara itu, sore kemarin direksi PT KAI Daops 9 berkunjung ke Banyuwangi dan Jember. Kunjungan itu, menurut Humas Daops 9 Hariyanto, untuk mengecek persiapan sarana dan prasarana kereta api menyongsong arus mudik Lebaran. (RI-1)
DLLAJ Siapkan Bus Mudik Gratis
Jember – Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) wilayah V Jawa Timur (Jatim) di Jember, berencana mempersiapkan 2 bus mudik gratis pada awal Oktober mendatang. Menurut Kepala DLLAJ wilayah V Jatim, wibisono, pihaknya sudah mempersiapkan dua bus tersebut untuk warga kurang mampu.
“Bagi masyarakat Jember dan Banyuwangi yang sedang mudik atau balik dari lokasi mudik dan merupakan warga kurang mampu, kami siapkan dua busuntuk mereka semua gratis,” tuturnya. Rata-rata dua bus tersebut dalam sehari bakal mengangkut sekitar 100 orang kurang mampu yang memerlukan jasa transportasi.
“Bus ini akan kita operasionalkan selama 3 hari, mulai tanggal 7 hingga 9 Oktober, hari-hari itu kami yakin banyak yang memerlukan jasa transportasi,” imbuhnya usai meninjau jalur rawan laka di Jember, Sabtu (6/9/2008).
Rute bus sendiri menurut Wibisono, ada dua, ada yang berangkat dari Jember ke Surabaya. Dan ada lagi dari Banyuwangi ke Surabaya, demikian sebaliknya.
Sayangnya DLLAJ hingga hari ini belum menyebutkan kriteria apa yang bisa daikatakan penumpang kurang mampu. Namun menurut Wibisono nantinya ada sejumlah petugas di lokasi terminal yang bakal menjaga dan melayani calon penumpang kurang mampu tersebut.
“Kalau diukur dari mampu atau tidak calon penumpang itu nanti akan kita bahas lebih lanjut, yang penting ada petugas yang melayani nantinya,” tuturnya. (RI-1)
MZA DJALAL MENDARAT MULUS
• Merpati Air Lines Juga Jajaki MoU di Bandara
Jember - Kamis (4/8) siang, pesawat komersial jenis LET 410 milik maskapai penerbangan PT Tri MG terbang dari Surabaya sekitar pukul 11.30 WIB mendarat mulus di Bandara Notohadinegoro Jember pukul 12.00 WIB dengan mengangkut penumpang Bupati Jember MZA Djalal dan sejumlah anak buahnya untuk melakukan evaluasi kenyamanan dan kemudahan penumpang memakai jasa angkutan udara tersebut menyusul pembukaan jalur penerbangan Jember-Surabaya 3 kali sehari kecuali hari Rabu ini.
Selain Bupati Jember MZA Djalal ada 14 pejabat yang ikut dalam rombongan itu diantaranya tampak Asisten II Drs Edi Budi Susilo, Kepala Kantor Infokom, Drs. Agoes Slameto, Kepala Bappekab Drs. Mudhar Syarifudin, Kepala Dinas Kesehatan, dr. Olong Fadjri Maulana, Kepala Dinas Perhubungan Drs. Sunarsono, Kabag. Kesra Drs. Farouq, Kabag Ekonomi, Kabag Perlengkapan Drs Ita P dan sejumlah pejabat lain di Jember.
Agenda singkat perjalanan Bupati Jember dan rombongan pejabat Pemkab Jember dengan menggunakan pesawat komersial itu adalah untuk mengevaluasi penerbangan dan pelayanan Bandara Notohadinegoro.
Selain evaluasi, juga untuk promosi kepada masyarakat bahwa Bandara Notohadinegoro telah siap melayani penerbangan komersial. Sehingga masyarakat bisa memanfaatkan perjalanan dari dan ke Jember - Surabaya.
“Tidak usah takut naik pesawat, karena ternyata enak pesawatnya. Saya pikir sudah sangat aman, dan nyaman,” ujarnya.
Tak kalah pentingnya adalah juga untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki dan dibenahi, termasuk cara pembelian tiket, akibat minimnya loket penjualan.
“Penumpang banyak yang belum tahu kemana harus beli tiketnya dan ke depan akan kerjasama dengan pengelola Bandara Juanda untuk jual tiket,” ujarnya.
Terkait soal promosi, kata MZA Djalal, diakui belum sempurna dan perlu beberapa tempat pelayanan publik seperti restoran, hotel ada penempatan banner-banner, di Jember dan Surabaya terutama di Bandara Juanda. Kalau perlu dibuatkan lebih besar lagi, biar masyarakat tahu Jember - Surabaya telah ada penerbangan komersial.
Tapi yang lebih penting lagi agar masyarakat Jember diberi kemudahan untuk memperoleh tiket penumpang dan mendapat tiket itu.
“Dengan pesawat sebesar Tri MG berpenumpang 18 orang, Bupati MZA Djalal sangat terkesan, karena terbang dengan ketinggian 8.000 kaki masih bisa melihat ke bawah dengan jelas, “ ujarnya.
Meski baru ada satu maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro Jember, kemungkinan maskapai penerbangan seperti Merpati juga telah melakukan Memory of Understanding (MOU) dengan Pemkab Jember untuk penjajakan landasan.
Maskapai ini akan membeli pesawat dari Cina dan jika semua lancar maka akan ditambah lagi maskapai lain yang disesuaikan dengan anggaran yang ada untuk operasional di Bandara Jember.
Dengan beroperasionalnya penerbangan Tri MG ini diharapkan dapat mengurangi waktu tempuh Surabaya - Jember dari jalan darat karena bisa menghemat waktu 4,5 jam.
Selain penerbangan komersial juga ditargetkan dapat membuka ruang investasi di Jember dan sekitarnya kepada pelaku bisnis penerbangan jasa cargo serta investasi lain.
Dalam pesawat kemarin terdapat 3 penumpang umum diantaranya Ardianto Manager Branch Manager Permata Bank dan Achmad Subchan Director TPS - Agro yang merasa sangat terkesan mengikuti perjalanan Surabaya – Jember.
“Meski dengan pesawat 18 penumpang, tapi enak berada di dalam,“ ujarnya. (RI-1)
Pasca Uji Coba, Permintaan Ticket Meningkat
Jember – Beberapa setelah uji coba dengan pesawat TRI MG jenis LET 410, yang mendarat mulus di Bandara Notohadinegoro Renes Wirowongso Jember, ratusan permintaan sudah datang dari beberapa instansi dan kalangan pebisnis untuk memesak ticket pesawat ke Surabaya – Jember PP.
Demikian disampaikan sejumlah petugas ticket Bandara Notohadinegoro. Kendati belum secara resmi dioperasionalkan, tapi sejumlah pebisnis, kalangan pendidikan, dan masyarakat di Jember banyak yang memesan serta menanyakan jadwal penerbangan dari Jember menuju Surabaya.
Dengan beroperasionalnya Bandara Notohadinegoro - yang dinanti – nantikan banyak orang sejak dibangun tahun 2003 – sejumlah kalangan pebisnis sudah tidak lagi pusing dengan kendala macet di Jalan Raya Porong. Bandara Jember menjadi semacam alternatif untuk menghemat waktu.
Menurut Sunarsono, SH, Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Jember, masyarakat sudah menunggu lama dioperasionalkannya bandara satu-satunya milik Jember tersebut.
Meski tidak mau menyebut pemesan ticket dari mana saja, namun Sunarsono sempat mengungkap sejumlah rombongan yang hendak menggunakan jasa pesawat terbang dari Jember.
“Beberapa rombongan yang memesan ticket dan menanyakan jadwal penerbangan sudah sangat banyak. Diantaranya, dari serombongan mahasiswa Universitas Islam Jember (UIJ), beberapa ibu rumah tangga, dan sejumlah instansi semisal Dinas Pendidikan, dan pengusaha pertembakauan di Jember.
“Kalau kita sampaikan semua, ya banyak sekali. Yang jelas, memang untuk penerbangan perdana ini, kita target sampai 3 bulan. Yang penting Bandara ini bisa melayani dengan baik itu, saja,” ujar Sunarsono.
Terkait dengan sarana prasarana pihaknya menjamin tidak bakal mengecewakan penumpang. “Kami bersama PDP menjamin carteran pesawat di Maskapai Aero Express PT TRI MG dan segera merealisasikan penerbangan. Jadwal penerbangan telah disusun,” tuturnya.
Menurutnya sejumlah sarana dan prasarana bakal dipenuhi sambil jalan. “Karena banyak yang sudah siap. Begitu operasional seminggu ini, pasti sudah lengkap,” ujar Sunarsono.
Yang jelas, operasional Bandara ini akan dioptimalkan setelah ada lomba Paralayang, yang digelar 16 – 18 Agustus 2008 besok. Jadi sembari menunggu dipakainya acara itu, Bandara sedang dipersiapkan secara matang.
Terkait safety flight (keamanan penerbangan) Sunarsono, menjamin bahwa secara teknis, dan kemampuan operator Bandara tidak akan terjadi gangguan. Baik terkait menara pantau, alat komunikasi, kelaikan pesawat, dan keamanan lain telah dipersiapkan dengan matang.
Bahkan, pihak Aero Express sendiri telah menjamin keselamatan penumpang dengan mengasuransikan ticket penumpang tersebut sesuai aturan standart pelayanan Bandara.
“Aero Express telah menjamin itu. Semua ticket telah berasuransi. Kita semua berdoa semoga diberi kelancaran oleh Allah, SWT. Dishub siap melayani secara all out dalam penerbangan ini,” ujar Sunarsono. (RI-1)
Jadwal Terbang Pesawat Belum Jelas
Jember – Meski kabar gembira akan segera dioperasionalkannya pesawat komersil di Jember sudah terdengar dari pernyataan Bupati Jember, MZA Djalal, ternyata jadwal terbang pesawat masih belum jelas.
Terbukti hingga hari ini, Senin (11/8/2008) pihak Dishub Jember belum bias menyatakan mulai kapan pesawat komersil tersebut bakal mengangkut penumpang dari dan ke Jember.
Kadishub Pemkab Jember, Sunarsono, menyatakan bahwa pihaknya masih belum mengetahui mulai kapan pesawat akan operasional. “Kita lihat dulu test landing-nya, kalau berjalan lancer ya bulan ini segera ada penerbangan perdana,” ungkapnya.
Namun rencanannya, menurut Narsono setiap harinya bakal ada penerbangan tiga kali dari Jember ke Surabaya. “Kami hanya pelaksana dilapangan saja, soal pengelolaan ada di PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan),” imbuhnya.
Termasuk manajemen keuangannya nantinya akan dikelola oleh PDP. Seperti halnya dengan SPBU Sukorejo. Sehingga pihaknya tidak bias menyebutkan jumlah tariff naik pesawat tersebut nantinya.
“Setahu saya jumlah kursinya pesawat yang pertama kali kerjasama dengan Pemkab ini hanya sekitar 18 kursi sepeti pesawat yang biasa mengangkut di lapangan terbang perintis di luar jawa.
Maskapai yang siap beroperasi di Jember itu adalah Aero Express. Dan Pemkab sudah melakukan teken kontrak dengan perusahaan maskapai tersebut dengan nilai miliaran rupiah.
“Nantinya siapa yang ingin naik, harus membeli voucher terlebih dahulu di PDP, bukan tiket,” imbuhnya. (RI-1)
Bandara Notohadinegoro Bakal Dioperasionalkan

Ket. Foto : Sejumlah Pegawai Dishub Jember Melakukan Uji Coba Penerbangan. Dan Pesawat Komersial Waktu Bupati Jember H. Samsul HAdi Siswoyo.
Jember - “Dalam waktu dekat ini, Insyallah minggu depan pada bulan Agustus ini akan dimulai penerbangan komersial dengan tujuan Surabaya-Jember PP,” Tutur Bupati Jember, MZA Djalal di depan sejumlah tamunya di Pendopo Wahya Wibawa Garaha, Jumat (8/8/2008).
Pernyataan Djalal tersebut disambut gembira sejumlah pihak, pasalnya Djalal sudah mulai mau mengoperasionalkan sarana transportasi yang menunjang kelancaran perjalanan kalangan pengusaha tersebut.
Pernyataan tersebut seolah-olah sudah menghapus pernyataanya terdahulu yang sangat enggan melanjutkan pengoperasian bandara satu-satunya milik Jember tersebut.
“Jadwal penerbangannya akan dilakukan dengan jadwal sehari bias 3 kali penerbangan,” Imbuhnya dengan semangat.
Kali ini Djalal tidak hanya berjanji bakal mengoperasionalkan bandara saja, namun juga menegaskan bakal membangun sarana dan prasarana pendukung lain yang dimungkinkan untuk penerbangan boeing 737 sekalipun.
“Nantinya dinas terkait seperti Dinas Perhubungan secara khusus akan mengcover penjualan tiket yang bakal dijual untuk para penumpang tujuan Surabaya-Jember begitu sebaliknya,” imbuh Sekda Jember, Drs Ec. Djoewito pada kesempatan yang sama.
Djoewito juga menegaskan bahwa sudah ada salah satu pengusaha penerbangan domestik yang kemarin telah sanggup bekerja sama dengan Pemkab Jember untuk mendukung tranportasi udara di Jember.
“Sehingga kalau selama ini masyarakat Jember atau tamu dari luar kota ke Jember memakan waktu cukup lama sekitar 5 sampai 6 jam, dengan pesawat nantinya hanya berkisar 30 sampai 60 menit saja.
Sehingga diharapkan dengan berbagai moment yang diselenggarakan oleh pemerintah terkait dengan BBJ di Jember maka tamu maupun peserta dengan cepat akan sampai ke tujuan.
“Peserta seperti dari Paralayang, Motor Cross, seminar nasional dan sebagainya dapat dengan cepat nyampai ke Jember tampa harus terkendala dengan kemacetan akibat padat arus lalu lintas,” ujarnya. (RI-1)
Berharga, Rambu-rambu Banyak Dicuri
Jember – Karena berharga atau bernilai jual tinggi, maka rambu-rambu lalu lintas milik Dinas Perhubungan (Dishub) Jember banyak dicuri. Yang memprihatinkan jumlahnya cukup banyak. “Mencapai 40 % dari total rambu yang kita miliki di tengah kota rata-rata hilang,” tutur Kabid Lalu Lintas Dishub Jember, I Putu Budiade, Kamis (7/8/2008).
Menurut Putu sudah selayaknya bahan rambu-rambu diganti. Karena dengan bahan yang saat ini digunakan yaitu, alumunium dan besi bagus menjadi incaran para pencuri. “Karena harga jualnya tinggi sehingga menjadi incaran pencuri,” imbuhnya.
Dengan hilangnya 40% rambu-rambu lalu lintas di daerah kota tersebut, hingga saat ini Dishub dan kepolisian menjadi direpotkan akan pengautran lalu lintas. Karena banyak pengguna kendaraan yang kebingungan karean hilangnya rambu tersebut.
“Disamping itu arus jalan menjadi ruwet, dan perlu penataan ulang dengan pendampingan dari petugas, kalau tidak sering terjadi kemacetan dan salah jalur,” ungkap Putu.
Titik-titik rawan yang sering mengalami kehilangan rambu lalu lintas yakni disekitar daerah Tegalbesar, jalan protokol Gajah Mada, dan sejumlah ruas jalan lain yang berada di tengah kota.
Akibat dari hilangnya rambu tersebut Dishub mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Putu menghimbau pada masyarakat atau warga sekitar lokasi rambu yang mengetahui ada orang mengambil rambu-rambu, agar turut mengingatkan atau menegurnya.
“Selanjutnya bisa dilaporkan kepada aparat yang berwajib, karena hingga saat ini belum ada yang tertangkap,” jelasnya. (RI-1)
Damri Diminta Jalan Lagi
Jember – Sudah sekitar tiga minggu ini Bus Damri Jember tidak operasional karena didesak sopir-sopir angkutan kota (Angkot). Untuk itu mulai minggu depan Kadishub Jember, Sunarsono SH, meminta Damri untuk kembali beroperasional lagi melayani masyarakat penumpang.
Menurut Sunarsono Damri hingga saat ini masih mempunyai ijin trayek jalan yang resmi dan belum mati. “Sehingga tidak ada alasan untuk tidak boleh beroperasional, kalau ada yang ngancam kami serahkan ke aparat penegak hokum,” tegasnya Rabu (9/7/2008).
Menanggapi himbauan untuk jalan lagi, pihak Damri mengaku gembira. Seperti disampaikan oleh Kepala Damri Jember, Gunawan. Menurutnya selama tiga minggu ini pihaknya sudah mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. “Karena setiap hari kami melayani sekitar 900-950 penumpang setiap armadanya,” ujarnya.
Sehingga kalau ada himbauan untuk jalan lagi dan diback up oleh aparat penegak hokum, maka pihaknya mengaku senang. “Biar kru bis yang selama tiga minggu ini nganggur bias kerja lagi, kasian mereka tidak ada penghasilan,” imbuhnya.
Gunawan juga meminta semua [pihak untuk tidak mendesak Damri tidak operasional. Karena hingga saat ini Damri Jember masih memiliki karyawan sebanyak 132 orang. Dimana karyawan-karyawan tersebut bekerja tergantung operasional atau tidaknya bus-bus tersebut. (RI-1)
Stiker Kenaikan TArif Angkot Belum Tersebar Luas
Jember – Hingga beberapa minggu pasca kenaikan tariff angkutan kota (angkot) di Jember, ternyata sosialisasi nya belum tuntas dan terkesan setengah hati. Sehingga banyak penumpang yang menyesalkan ketidaksigapan Dinas Perhubungan tersebut.
Stiker tariff baru belum tersebar luas sehingga banyak angkot yang belum ada stiker kenaikan tariff sesuai dengan Perbup. Akibatnya sopir dan kru angkot kebanyakan masih memungut ongkos melebihi tariff yang sudah ditetapkan oleh Pemkab Jember. Rata-rata angkot memungut ongkos sebesar Rp. 3.000,- dengan dalih kesulitan uang kembalian.
Padahal tariff baru yang sduah ditetapkan oelh Pemkab Jember hanya Rp. 2.500,- saja. Tariff ini berlaku untuk perjalanan jauh maupun dekat. Kbag TU Dinas Perhubungan Pemkab Jember, Abdul Wahid yang dikonfirmasi wartawan, Jumat (13/6/2008) menyatakan alas an yang sama dengan yang disampaikan sopir. “Mereka rata-rata kesulitan uang kembalian, jadi tarifnya Rp. 3.000,-“ ujarnya.
Namun Wahid menolak dituding tidak bias bertindak tegas menegakkan Perbup. “Kami tetap akan lakukan pengawasan kepada angkot yang masih mematok tariff terlalu tinggi melebihi Perbup, kami akan tetap tegas tangani itu,” ujarnya.
Bahkan Wahid berjanji bakal menindak tegas jika penumpang dengan sigap mencatat nomor lambung angkot yang dinaikinya dan telah menarik ongkos melebihi tariff resmi. Sangsi yang akan diterapkan-pun berjenjang, mulai dari peringatan hingga pencabutan ijin trayek. (RI-1)
Pemkab Umumkan Kenaikan tarif Taksi
Jember – Mulai hari ini Pemkab Jember mulai mengumumkan kenaikan tarif untuk angkutan taksi yang beroperasional di wilayah kabupaten Jember. Kenaikan tarif tersebut tertuang dalam Perbup nomor 16 tahun 2008 yang dibacakan oleh Asisten II Pemkab Jember, H. Edy Budi Susilo Msi, hari ini Jumat (13/6/2008) di Kantor Infokom Jember.
“Ada 5 item dalam Perbub kenaikan tarif taksi ini, diantaranya tarif awal/Flag Fall, tarif dasar, tarif waktu, tarif pemakaian dan tarif pembatalan,” jelas Edy yang didampingi Kabag TU Dinas Perhubungan, Abdul Wahid.
Khusus tarif awal atau yang sering disebut Flag Fall dan tarif pembatalan menurut Edy tidak ada perubahan dan berlaku tetap seperti sebelum terjadi kenaikan BBM. “Kalau awal sebesar Rp. 4.000 maka dalam Perbub ditentukan tidak terjadi kenaikan dan tetap sebesar Rp. 4.000 untuk flag fall sementara untuk pembatalan tetap Rp. 5.000,” jelasnya.
Sedangkan pada tarif dasar per-kilo mengalami kenaikan 10 %, yang sebelumnya Rp. 2.500 naik menjadi Rp. 2.750. sedangkan untuk tarif tunggu ada peningkatan 25 %, dari Rp. 20.000,- menjadi Rp. 25.000. Ketiga tarif yang mengalami kenaikan yakni tarif pemakaian bagi pelanggan dan konsumen taxi dijelaskan oleh Edy terjadi kenaikan sebesar 14 % dari tarif sebelumnya. “Tarif awal sesuai Peraturan Bupati yang baru berlaku sebesar Rp. 13.000 naik menjadi Rp. 15.000,” Imbuhnya.
Kenaikan tarif tersebut menurut Edy merupakan hasil dari rapat bersama pelaku tranportasi taxi, sperti Dinas Perhubungan, Polres Jember, YLKA, Organda. Selanjutnya untuk sosialisasi menurut Edy bakal ditindaklanjuti oleh Dinas Perhubungan dengan memasang stiker tarif baru. (RI-1)
Pemkab Jember Mulai Memikirkan Tarif Baru Taksi
(Infokom) Jember,
Setelah Pemerintah Kabupaten Jember menetapkan tarif baru bagi Mobil Penumpang Umum (MPU). Dalam waktu dekat giliran tarif taksi sembari menunggu SK Bupati akan dapat penyesuaian terif dari akibat adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Hal itu terungkap dalam pertemuan koordinasi antara Dinas Perhubungan Jember, organda, YLKI, Perum Damri, DLLAJ dan dinas terkait yang berlangsung, Selasa (3/5) di Aula Rapat Pemkab Jember yang dipimpin langsung oleh Asisten II, Drs. H. Edi B. Susilo, Msi.
Edi berharap kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Jember untuk selalu koordinasi dan menindak lanjuti setiap permasalahan yang muncul dilapangan. “Selalu mengadakan pertemuan dengan staekholder, guna membahas dan mencari solusi bagi pemecahan masalah, “harapnya.
Keputusan yang diambil diharapkan dapat memuaskan semua pihak meski realitas nantinya tidak dapat yang memuaskan semua pihak. “Tetapi semua keputusan itu yang ada pada SK Bupati nantinya setidaknya mengakomodasi dua kepentingan baik penyedia jasa transportasi maupun masyarakat sendiri,”pungkasnya Edi.
Semua keputusan itu harus kita kawal dengan baik, karena keputusan yang sudah diambil itu berdasarkan perhitungan yang rasional bukannya berpihak kepada salah satu blok saja, melainkan membuat regulasi yang memuaskan kedua belah pihak. “Tim yang dibentuk ini membuat regulasi yang bisa mengakomodasi baik pengusaha jasa angkutan maupun kepentingan masyarakat, “jelasnya.
Dengan angka besaran tarif yang sudah ditentukan, pengusaha harus dapat memberikan pengertian kepada pengemudi armada dan krunya, sehingga tidak sampai berlarut-larut.
“Mari dengan keputusan yang telah kita sepakati bersama kita jaga dan sukseskan, semoga besaran tarif yang telah diberlakukan tidak timbul masalah dilapangan, “pintanya.
Untuk penetapan tarif taksi di Kabupaten Jember, kemarin Dishub telah minta masukan kepada pengusaha taksi untuk memberikan usulan terkait kenaikan tarif baru baik flat call, perkilo, tarif tunggu, tarif minimal dan pembatalan. “Berdasarkan SK Bupati Nomor 37 Tahun 2005 besaran tarif flat call sebesar Rp. 4.000, tarif perkilo Rp. 2.500,-, tarif tunggu sebesar 20.000,- tarif minimal Rp. 13.000 dan tarif pembatalan sebesar Rp. 5.000,”imbuhnya.
Sementara itu Kepala Dishub Jember yang diwakili Kabag. TU-nya Wahid mengatakan bahwa di Kabupaten Jember terdapat 3 pengusaha taksi dengan sekitar 50 armadanya yaitu Putra Perdana, Jember Taksi dan Sinar Asia, namun armada taksi Sinar Asia tidak beroperasi. “Kami juga mengakomodasi harapan, jangan sampai mereka (Sopir dan Pengusaha taksi) rugi karena tidak dapat menutup biaya operasional, “jelasnya.
Dan pada tanggal 2 Juni 2008 kemarin, Dishub bersama dengan pengusaha taksi untuk menetapkan bersama besaran tarif baru untuk armada taksi. “Dan usulan mereka rata-rata tidak melebihi batas maksimal yang ditetapkan Dirjen Perhubungan Darat sebesar 30%, tetapi masih jauh dibawah ketentuan pemerintah, “katanya.
Lebih lanjut Dishub Jember menerima masukan bagi pelaku taksi di Jember baik itu dari pengusaha maupun dari elemen lainnya. “Kami akhirnya bisa menerima usulan mereka untuk ditetapkan menjadi tarif baru taksi di Kabupaten Jember berupa berita acara kesepakatan dengan pengusaha taksi, “ungkapnya.
Sementara itu Ketua Organda Jember, Hari Saidi mendukung adanya penetapan tarif baru bagi pengemudi taksi, namun demikian pihaknya berharap pemerintah dalam hal ini Dishub untuk lebih sering mengadakan dialog dengan para pengusaha armada, primkoveri dan yang lainnya. “Untuk membahas berbagai masalah yang sering muncul seperti penetapan trayek baru, karena menurutnya ada trayek yang harus ada contohnya sekarang di perumahan, “harapnya.
Agus Wijaya dari Balai Pelayanan LLAJ Wilayah V Jember berharap dengan tarif taksi baru ini, seharusnya pihak meteorologi untuk dilakukan tera ulang, agar tidak ada yang dirugikan. “Batasan tarif tunggu juga harus diperjelas kepada masyarakat pengguna angkutan taksi, “harapnya. (Medtot)
Tarif Tetap tinggi, Pemkab Janji Tindak tegas
Jember - Pemkab Jember mengaku prihatin dengan sopir-sopri angkutan kota (angkot) di kota Jember. PAsalnya hingga saat ini tarif angkot masih tinggi, Rp. 3.000,-. PAdahal Pemkab sendiri seminggu lalu sudah menetapkan tarif baru untuk penumpang umum Rp. 2.500,- dan anak-anak sekolah Rp. 1.500,-.
Ternyata tarif baru dari Pemkab tersebut tetap ditolak oleh sopir-sopir angkot di Jember dengan tetap menaikkan tarif sendiri. sehingga banyak penumpang yang mengeluhkan hal tersebut ke Dinas Perhubungan dan Pemkab Jember. "Atas laporna masyarakat tersebut maka kami akan segera menindak tegas angkot tersebut, jadi tolong laporkan kepada kami angkot mana saja," tegas Asisten II Pemkab Jember, H. Edy Budi Susilo Msi.
Edy mengaku akan segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk melangkah lebih jauh memberikan sangsi tegas kepada pengusaha dan sopir angkutan yang masih mokong tidak bersedia menerapkan tarif sesuai dengan ketetapan dari Pemkab.
"kalau memang tetap menaikkan tarif seenaknya dan masyarakat melapor kepada kami maka akan kamiakan cabut ijin trayeknya," imbuhnya lagi. Sementara itu Kabag TU Dinas Perhubungan, Abdul Wahid, menyatakan pihaknya masih terus melakukan sosialisasi kepada angkot-angkot tersebut untuk menerapkan tarif sesuai dengan ketetapan Pemkab Jember.
Disisi lain KEtua Paguyuban sopir angkot, Darmo, menyatakan pihaknya keberatan kalau tarif baru hanya Rp. 2.500,- karena yang layak adalah Rp. 3.000,-. Dan selama ini masyarakat tidak ada yang protes, karena memaklumi kenaikan harga BBM mempengaruhi tarif angkot. (RI-1)
