Bondowoso - Pasangan calon Gubernur (Cagub) Khofifah Indar Parawangsa-Mudjiono (Kaji) berhasil meraup suara terbanyak di Lapas Bondowoso. Hal ini disampaikan Ketua KPPS Khusus di Lapas Bondowoso, Teguh Pamuji SH, usai menghitung suara.
Kaji berhasil meraup suara terbanyak dengan jumlah 112 suara, disusul oleh pasangan Karsa (Soekarwo-Syaifullah) dengan suara 69. Sementara cagub nomor dua Sutjipto -Ridwan Hisyam hanya memperoleh suara 62.
Sedangkan pasangan Salam (Sunaryo-Ali Maschan) dan Achsan (Achmadi-Suhartono) memperoleh suara sama, masing-masing meraup 36 suara.
"Untuk suara Pilgub ini suara tidak sah sejumlah 23 suara," ujarnya singkat.
Di sisi lain pada tempat yang sama untuk pilbup suara terbanyak diraih oleh pasangan Cabup Salwa Arifin- Imam Thahir meski tipis. "Pasangan ini meraup suara 94, disusul oleh pasangan Amin Said-Haris Sonhaji dengan jumlah suara 88 suara," jelas Teguh.
Untuk pasangan lain di Pilbup seperti Misnan-Sobri Wasil dari PArtai Golkar hanya memperoleh 48 suara. Dan pasangan cabup dari PDI-P Irwan Bachtiar-Huzaini Efendi memperoleh suara 81. (RI-1)
RADAR INVESTIGASI
Kaji Menang di Lapas Bondowoso
Kemenangan Salwa Diwarnai Serangan FAjar
Bondowoso – Kemenangan pasangan cabup Salwa Arifin dan Imam Thahir di desanya diwarnai dengan serangan fajar. Satu orang yang diduga sebagai pelaku serangan fajar di desa Sumbertengah kecamatan Wonosari berhasil ditangkap PAnwas Kabupaten Bondowoso.
Ketua Panwas Bondowoso, Syaifur Rahman, mengungkapkan bahwa dini hari tadi, Rabu (23/7/2008) pihaknya berhasil mengamankan satu orang warga setempat yang diduga telah melakukan upaya serangan fajar ke warga pemilih di desa Sumbertengah.
Sejumlah barang bukti berupa stiker bergambar pasangan cagub Karsa (Soekarwo-Syaifullah) dan Paham (Salwa Arifin-Imam Thahir) dengan disertai uang Rp. 50 ribu setiap amplopnya diamankan PAnwas.
Entah berkaitan dengan hal tersebut atau tidak, faktanya Salwa berhasil mengungguli 3 cabup lainnya di sekitar desa tempat tinggalnya di Tangsil kecamatan Wonosari. Di TPS tempat dirinya menyalurkan hak pilihnya, Salwa berhasil menghimpun suara 394 sementara pasangan lain hanya diberi sisa 12 suara.
Kemenangan lain juga diraih pasangan Irwan Bhaktiar-Huzaini Efendi, di desa masing-masing. Di TPS tempatnya memilih Badean kecamaatan Kota, Irwan meraup suara 179, unggul dibandingkan dengan cabup lain yang hanya memperoleh suara rata-rata 30 sampai 50 suara.
Demikian juga dengan pasangan Irwan, Huzaini cawabup yang diberangkatkan PDI-P ini berhasil meraup suara 223 suara di TPS tempatnya memilih. (RI-1)
Salam Menang Di Lapas Jember
Jember – Pasangan calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur (Jatim) Soenaryo dan Ali Maschan Moesa (Salam) mampu mengngguli 4 pasangan cagub lainnya di Lapas Klas II A Jember.
Menurut KPLP Jember, Kadiono BCip, penghitungan suara di dua TPS Khusus di dalam Lapas Jember sudah selesai dilakukan dan hasil suara terbanyak diraih oleh pasnagan Salam dengan jumlah 473 suara.
Sementara pasangan lain seperti nomor 1, Kaji (Khofifah Indar Parawangsa- Mudjiono) hanya mampu meraup suara 71. Pasangan nomor 2, Sutjipto – Ridwan Hisyam (SR) memperoleh 120 suara.
Sedangkan untuk pasangan nomor 4 Achsan yang didukung oleh Ketua Dewan Syuro PKB, Gus Dur hanya memperoleh suara 37 suara saja.
Dan terakhir untuk pasangan Karsa atau Soekarwo- Syaifullah Yusuf meraih 147 suara. “Suara yang tidak sah ada 37 suara dari 880 suara dari penghuni Lapas Jember,” jelas Kadiono.
Menurutnya pada saat coblosan berlangsung sejumlah pejabat yang tersandung kasus dugaan korupsi dan saat ini sedang menghuni di ruangan Lapas jember juga nampak menyalurkan hak pilihnya.
“Seperti pak, Mahmud, Gus Mamaq, pak Herwan dan pejabat lainnya semua menyalurkan suaranya,” jelasnya lagi.
Kadiono bersyukur bahwa pelaksanaan Pilgub di kantornya berjalan lancer sesuai yang diperhitungkan. “Tidak ada hambatan yang berarti semua lancer-lancar saja,” imbuhnya. (RI-1)
Warga Lapas Bondowoso Tidak Mau Golput
Bondowoso – Warga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bondowoso tidak mau menyia-nyiakan kesempatan menyalurkan hak pilihnya pada Pilkada (Pilgub-Pilbup) di daerahnya. Terbukti dari 333 penghuni Lapas tersebut semua menyalurkan suaranya.
Suksesnya pencoblosan ini diduga kuat karena sosialisasi yang berhasil dilakukan oleh pejabat di Lapas. Disamping itu warga Lapas juga ingin memilih Bupati pilihan rakyat untuk pertama kalinya di Bondowoso.
Seperti yang disampaikan Ketua PPS di TPS 18 Lapas Bondowoso, Teguh Pamuji SH Mhum. Menurutnya untuk Bondowoso lain dengan Jember atau daerah lain.
“Karena disini bukan hanya Pilgub tetapi juga Pilbup, warga Lapas juga ingin memilih Bupati pilihannya, jadi semua nyoblos,” ujarnya.
Tidak satupun warga Lapas yang absent dalam Pilkada kali ini. Hal ini menurut Teguh cukup membanggakan panitia, karena dengan kesadaran sendiri warga berdatangan di lokasi TPS yang ada di tengah ruangan Lapas dan menyalurkan suaranya.
Hingga pukul 15.00 wib ini, Teguh bersama timnya sedang melakukan penghitungan suara.
“Pertama kali kita hitung yang Pilgub dulu setelah itu baru Pilbupnya, mungkin dua jam lagi baru selesai,” jelasnya. (RI-1)
Quick Count BAru Bisa Dilihat Malam
Bondowoso – Pemkab Bondowoso yang juga mengadakan penghitungan cepat atau quick count belum bias dilihat siang ini. Hal ini disampaikan Bupati Bondowoso, Mashoed, menurutnya malam baru bias diketahui.
Karena penghitungan yang didahulukan adalah hasil Pilgub, setelah itu baru Pilbup. Namun pihaknya sudah menginstruksikan kepada 20 camat di jajarannya untuk memantau hasil coblosan Pilbup dan melaporkan ke Pendapa. “Disini sudah ada tim yang menerima laporan tersebut,” tuturnya.
Meski Pemkab mengadakan penghitungan cepat namun hasil resmi yang sah tetap ada pada KPUD Bondowoso. “HAsil yang sah secara hokum tetap ada pada KPU, kami hanya ingin tahu saja perkembangan secara cepatnya,” imbuh Mashoed usai memantau sejumlah TPS di kotanya.
Metode yang dikembangkan para camat tersebut beraneka ragam. Ada yang menggunakan handphonenya dengan sms jumlah suara di kecamatan masing-masing. Ada juga yang langsung menggunakan telepon dan diterima oleh petugas di pendapa, dan ada lagi yang menggunakan handy talkie.
Di sisi lain berbeda dengan Jember, jika di Jember respon masyarakatnya rendah terhadap Pilgub, di Bondowoso sedikit berbeda. Meski belum ada data pasti berapa angka golput, tetapi hasil pantauan di lapangan di sejumlah TPS nampak lebih ramai dibandingkan dengan yang ada di Jember.
Seperti contohnya di TPS 3 desa Maesan, warga yang menyalurkan suaranya hamper 100 %, demikian juga di sejumlah dimana para cabup dan cawabup menyalurkan suaranya, rata-rata diatas 70%.
Hari ini pasangan cabup Salwa Arifin menyalurkan hak pilihnya di desa tangsil kecamatan Wonosari dan pasangannya cawabup Imam Thahir di desa Sukowono kecamatan Tamanan.
Sementara cabup nomor 3, Misnan dari Partai Golkar di TPS des Kademangan kecamatan Kota dan cawabupnya Sobri Wasil Ghozali di Wonosari kecamatan Kota. Sedangkan cabup nomor 4, Irwan BAchtiar di BAdean kecamatan Kota, dan cawabupnya Huzaini Efendi di Kota Kulon kecamatan Kota. (RI-1)
Antusiasme Warga Jember Rendah
Jember – Pilgub Jatim yang juga digelar di Jember naga-naganya tidak terlalu mendapat respon positif dari masyarakat pemilih yang tersebar di 31 kecamatan di Jember. Hal ini bias dilihat dari sejumlah TPS di Jember kota dan beberapa TPS di desa.
Rata-rata pengunjung TPS yang menyalurkan hak pilihnya tidak mencapai 50 % dari total hak pilih yang ada sesuai dengan DPT. Jikalau ada yang mencapai angka 80 atau 90% suara tersalurkan itu hanya ada pada sejumlah TPS saja.
Hal ini dibenarkan oleh salah satu anggota KPU Jember, Ketty Tri Setyorini, menurutnya hingga pukul 13.00 wib tadi siang, Rabu (23/7/2008), banyak laporan dari PPS dan PPK masuk ternyata masih dikisaran angka 50% rata-rata.
Meskipun data riilnya belum masuk ke KPU, pridiksi sudah bias dibaca dan diperkirakan kisarannya tidak jauh dari angka 50 % tersebut.
Salah satu TPS yang sepi pengunjung yakni TPS khusus di terminal Tawangalun Jember. Meski banyak sopir dan kru bis dan angkutan kota yang lalu lang serta penumpang asal Jember yang keluar kota, namun tidak terlalu banyak yang menyalurkan suaranya ke kotak suara.
“Hingga pukul 11.00 tadi pagi saja hanya sekitar 10 orang yang mencoblos, dan hingga ditutup pukul satu tadi surat suara yang disediakan sekitar 200 juga masih banyak numpuk tidak dipakai,” ujar salah satu anggota PPS yang ada di TPS khusus TAwang alun, Mohamad. (RI-1)
Amien Nggak Bisa Coblos
Bondowoso – Karena terkendala dengan KTP yang dimilikinya, salah satu cabup, Amin Said Husni hari ini, Rabu (23/7/2008) tidak bias menyalurkan hak pilihnya. Amin absent karena hingga hari H Pilbup di Bondowoso dirinya tidak memiliki surat panggilan atau kartu pemilih dan tidak masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap).
Hal ini juga ditegaskan oleh Ketua KPU Bondowoso, Muniri, menurutnya pada saat mendaftar menjadi cabup Amin menggunakan KTP luar kota sehingga tidak mempunyai hak pilih.
Meski tidak mempunyai hak pilih di Bondowoso, cabup Amin tetap sah sesuai dengan peraturan yang ada.
Bahkan pasangan dari cawabup Haris Sonhaji tersebut yakin mampu meraup suara sekitar 40% dari total suara sekitar 568.510 pada Pilkada Bondowoso pertama kalinya ini.
Optimisme Amin tersebut cukup berasalan karena dirinya dan Haris diusung oleh partai terbesar di kota tape, yakni PKB.
Lain dengan cabupnya, cawabup Haris Sonhaji pagi ini menyalurkan suaranya di desa Koncer kecamatan Tengarang, dimana TPS yang didatanginya berdekatan dengan rumahnya. (RI-1)
Polres Bondowoso Terjunkan 600 Personil
Bondowoso – Polres Bondowoso hari ini, Rabu (23/7/2008) menerjunkan 600 personilnya untuk menjaga stabilitas keamanan kota tape saat Pilkada (Pilgub dan Pilbup) digelar. Kapolres Bondowoso, AKBP AI Afriandi, menegaskan bahwa situasi kondisi Bondowoso realtif aman.
Namun pihaknya tidak mau kecolongan sehingga sekitar 600 personil yang terdiri dari Polres Bondowoso dan jajarannya, Polwil Besuki dan Brimob tetap diterjunkan di sejumlah titik rawan dan TPS-TPS.
Kapolres menghimbau pada semua cabup dan cawabup untuk menerima hasil Pilkada dengan legowo, karena kondisi saat ini sudah kondusif.
“Nanti sore biasanya sudah bisa diketahui sedikit gambaran siapa yang unggul jadi, bagi calon yang belum bias meraih yang dicita-citakan diharap menerima hasil tersebut dengan legowo,” tuturnya.
Apalagi sebelumnya pihaknya sudah melakukan sejumlah pertemuan dengan tim sukses masing-masing cabup.
Dan tidak hanya tim dari cabup saja, tim sukses dari calon gubernur juga sudah diajak duduk satu meja sehingga harapan kondisi tetap kondusif diprediksi bias terealisasi dengan baik. (RI-1)
Fakta Bukan Black Campaign
Oleh
D. Heru Nugroho
Saya menjadi tergelitik untuk menanggapi banyaknya statement terkait berita Radar Investigasi edisi ke-9 halamn 1 yang berjudul “KPUD Lumajang Loloskan Cabup Bermasalah” merupakan upaya black campaign dari kami kepada salah satu cabup di Lumajang.
Dimana menurut pernyataan atau bahasa kerennya itu statement sejumlah tokoh, aparat pelaksana Pilkada, cabup yang bersangkutan di Lumajang dan bahkan seorang redaktur senior di sebuah Koran, berita kami merupakan black campaign.
Lucu ! dan hampir saja saya tidak bias berhenti untuk tertawa sepanjang hari.
Bagaimana tidak, saya selaku Pimpinan Redaksi sudah melansir berita tersebut beberapa kali dan tidak pernah ada respon atau statemen dari orang-orang terkait yang saya sebutkan diatas.
Tetapi begitu berita edisi ke-9, lho kok banyak yang kebakaran jenggotnya. Dan lucunya lagi terjadi pembodohan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi.
Dimana-mana dan bahkan bisa ditanya pada mantan Menteri Penerangan, H. Harmoko atau sekarang pada Moh. Nuh, menanggapi berita yang dianggap merugikan bukan dengan cara seperti itu.
Dalam Kode Etik Jurnalistik dan Undang-undang Pokok Pers nomor 40 tahun 1999 sudah diatur dengan jelas bagaimana cara menanggapi sebuah berita yang dianggap merugikan.
Dan saya yakin saya tidak perlu menyebut pasalnya dan apa isinya, karena tokoh-tokoh yang saya singgung diatas saya yakin sudah pinter dan tahu.
Tetapi sekali lagi saya juga tidak mau terjebak dan berpolemik dengan 2 kata “Black Campaign”. Disini saya hanya ingin berargumentasi terkait sejumlah berita-berita Radar Investigasi sejak terbit pada tanggal 1 Januari 2008 lalu.
Dimana saya selaku Pimpinan Redaksi selalu memegang teguh Kode Etik Jurnalistik dan UU Pokok Pers nomor 40 tahun 1999. Dan masih ingat dibenak saya, ketika ada salah satu pejabat teras Pemkab Jember yang kebakaran jenggot dan tidak terima atas pemberitaan Radar Investigasi, pejabat tersebut dengan gentle berkirim surat kepada redaksi dan redaksi melayani sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dan patut diacungi jempol juga Pejabat teras tersebut tidak mengeluarkan statement macem-macem dan minta dukungan kemana-mana bahkan ke preman sekalipun, tidak dilakukan, berbeda dengan yang lain lagi seperti yang baru saja terjadi.
Redaksi Radar Investigasi selalu menyajikan berita sesuai dengan fakta. Sesuai dengan moto “Berbicara Dengan Fakta”. Dan belum pernah redaksi melansir berita terkait status orang dimata hukum secara sembarangan. Jika memang dalam fakta dilapangan di saat redaksi menggali berita dari berbagai sumber, maka itulah yang bakal disajikan.
Redaksi juga tidak berhenti pada hanya keterangan seorang narasumber saja, yang pasti data hitam diatas putih selalu berusaha dimiliki redaksi. Dimana data-data tersebut sangat diperlukan jika ada komplain atau sanggahan dari obyek berita yang merasa dirugikan atau bahkan dikatakan telah difitnah.
Perlu dicatat tebal-tebal dan digaris bawahi, apalabila status seorang pejabat sudah menjadi tersangka, terdakwa atau hanya sekedar sebagai saksi pasti bakal dilansir beritanya sesuai dengan kenyataan. Tidak mungkin seorang saksi, redaksi bakal melansir beritanya sebagai tersangka itu mustahil, redaksi juga akan berpikir seribu kali lipat, bagaimana kebelakang jika ada proses hokum atau yang lainnya.
Karena itu setiap melansir berita terkait status hokum seseorang pejabat redaksi berusaha mendapatkan surat ketegasan atau keterangan resmi dari aparat penegak hukum. Kalau setiap media massa yang memberitakan kebenaran selalu dilawan dan dibinasakan dengan berbagai cara, apa bedanya dengan saat orde baru dulu.
Kalau setiap media massa yang berusaha mengungkap kebenaran dan berusaha membantu aparat penegak hukum untuk memberantas korupsi ditanggapi negative, ya berarti yang nanggapi negative itu, tidak punya semangat untuk memberantas dan melawan korupsi.
Padahal sejak terbit perdana Januari silam, Radar Investigasi telah mendukung program pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK RI dan Alhamdulillah mendapat respon positif dari KPK RI.
Jadi mengungkap fakta itu bukan black campaign, justru membantu koruptor dan tidak mendukung pemberantasan korupsi itu adalah Black Campaign. Dan Black Campaign yang satu ini harus juga diberantas!! **
Kritisi PSB, Tumanggor Diteror
Jember – Ketua paguyuban komite sekolah Jember, Hakman Tumanggor mengaku sering mendapat terror dari sejumlah orang tak dikenal. Ancaman dan terror tersebut diterimanya setelah pihaknya sering mengkritisi pungutan PSB di Jember.
Sebelumnya Ketua Dewan Pendidikan, Sulthon Mashud, menegaskan bahwa komentar Tumanggor tersebut (mengkritisi PSB) tidak mewakili wali murid yang ada di Jember, termasuk komite. Sehingga komentar Tumanggor terkait dengan PSB tidak perlu didengarkan.
Ternyata pernyataan Sulthon tersebut bukan terakhir kalinya yang dating untuk menyangkal komentar Tumanggor. Bahkan terus berlanjut dan terakhir kalinya ada ancaman pembunuhan dari orang tidak dikenal.
“tetapi saya sudah siap, saya ini membantu orang miskin supaya bias sekolah, meskipun diancam tetap, saya akan bersuara keras,” tegasnya.
Tumanggor mengaku sudah siap dan didukung oleh anak istrinya. “Siapa saja bakal mati karena kehidupan didunia ini tidak kekal, jadi kalau diancam dibunuh itu biasa bagi saya,” tegasnya.
Dukunganpun mengalir dari sejumlah LSM, aktivis LSM Picket Nol,Sullam Ridwan menegaskan bahwa semua LSM harus bersatu mendukung Tumanggor. Karena selama ini perjuangan Tumanggor tidak mengada-ada, semua sesuai dengan nasib orang tidak mampu yang ingin menyekolahkan anaknya. (RI-1)
